Ke Jeneponto, Pengungsi Gempa Sulbar Disebut "Pulang Kampung"

- Diklaim Kasatpol PP Jeneponto, Muh. Nasuhan

Ke Jeneponto, Pengungsi Gempa Sulbar Disebut "Pulang Kampung"
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran Jeneponto, Muh. Nasuhan. (KABAR.NEWS/Akbar Razak)






KABAR.NEWS, Jeneponto - Penyintas gempa bumi Sulawesi Barat (Sulbar) yang saat ini berada di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, disebut bukan pengungsi melainkan sedang "pulang kampung".


Klaim tersebut disampaikan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran Jeneponto, Muh. Nasuhan. Dia bilang, meski para penyintas berdomisili di Sulbar, tapi mereka mengungsi ke rumah keluarga masing-masing. (Lihat juga: Update Korban Gempa Sulbar : 105 Orang Meninggal)


"Diistilahkan pulang kampung tapi sebenarnya kan dianggap bukan kampungnya. Dia kembali ke asalnya. Transit dulu setelah itu aman baru dia kembali. Jadi, dia pulang masing-masing ke keluarganya," ujar Nasuhan di posko induk bencana, Jalan Lanto Daeng Pasewang,  Jeneponto, Selasa (27/1/2021) malam. 


Dia mengklaim bahwa banyak korban yang mengungsi saat ini merupakan penduduk asli Jeneponto.  "Jadi memang saya anggap penduduk di sana. Penduduk di sana memang asalnya di sini dari Jeneponto," klaim dia.


Dia menjelaskan, para penyintas gempa atau pengungsi gempa merantau ke Sulbar bersama komunitas transmigran dan sudah menetap di Bumi Mandar selama 30 tahun. 


"Jadi dia itu (korban, red) kenapa banyak orang Jeneponto di Sulbar karena 30 tahun lalu dia mengikuti transmigrasi dulu. Memang orang Kelara banyak. Bahkan pak camat waktu itu omnya pak Bupati Karaeng Lagu dia yang mengantar ke sana," katanya. (Lihat juga: Malu Terima Bantuan, Gubernur Sulbar Minta Pengungsi Gempa Pulang!)


Mantan Kabag Humas Pemda Jeneponto ini mengaku bahwa tidak ada batasan untuk korban sampai kapan akan mengungsi di Jeneponto. 


"Jangka waktu yang tidak kita tentukan, berdasarkan bagaimana kondisi suasana di Mamuju. Kalau dia sudah stabil, bisa pulang kembali," tandas Nasuhan.


Penulis: Akbar Razak/B