Kasus Nurdin Abdullah, KPK Periksa Imelda Obey untuk Ketiga Kalinya

Sang ratu Alkes disebut mudah mendapatkan proyek

Kasus Nurdin Abdullah, KPK Periksa Imelda Obey untuk Ketiga Kalinya
Kolase Foto. Nurdin Abdullah (kiri) dan Imelda Obey. (Rakyat Merdeka/Tedy Kroen/Facebook)






KABAR.NEWS, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menjadwalkan pemeriksaan terhadap kontraktor Imelda Obey sebagai saksi untuk Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah, selaku tersangka kasus dugaan suap infrastruktur.


"Hari ini dijadwalkan pemeriksaan saksi-saksi dugaan tindak pidana korupsi terkait dengan suap perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2020—2021," kata Plt. Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Selasa (8/6/2021) dikutip dari Antara.


Dari catatan KABAR.NEWS, pemeriksaan terhadap Imelda Obey merupakan yang ketiga kalinya sejak KPK menetapkan Nurdin Abdullah sebagai tersangka.


Pada 25 Maret lalu, KPK juga memanggil perempuan yang kerap disebut sejumlah pihak sebagai "Ratu Alkes" di Sulsel. Saat itu, Imelda Obey diperiksa bersama 4 saksi lainnya.


Kemudian pada 3 Juni, KPK kata Ali Fikri, juga kembali menggarap Imelda Obey bersama tiga saksi lain. Menurut Ali, Imelda bisa mendapatkan proyek dengan mudah di Pemprov Sulsel.


Selain Imelda Obey, KPK untuk pemeriksaan pada Selasa hari ini turut memanggil empat orang saksi lainnya. Mereka antara lain, dua wiraswasta yaitu Kwan Sakti Rudy Moha dan Herman Sentosa. 


Dua lainnya adalah karyawan swasta bernama La Ode Darwin dan seorang konsultan bernama Arief Satriawan. Pemeriksaan dilakukan di Kota Makassar.


"Pemeriksaan di Kantor Direktorat Reskrimsus Polda Sulsel," kata Ali.


Dalam perkara ini, Nurdin Abdullah diduga menerima total Rp5,4 miliar dengan perincian pada tanggal 26 Februari 2021 menerima Rp2 miliar yang diserahkan melalui Edy Rahmat (ER) selaku Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Sulsel atau orang kepercayaan Nurdin dan Agung Sucipto (AS) selaku kontraktor/Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB).

Selain itu, Nurdin juga diduga menerima uang dari kontraktor lain, antara lain pada akhir 2020 Nurdin menerima uang sebesar Rp200 juta, di pertengahan Februari 2021 Nurdin melalui ajudannya bernama Samsul Bahri menerima uang Rp1 miliar, dan pada awal Februari 2021 Nurdin melalui Samsul Bahri 
menerima uang Rp2,2 miliar.