Skip to main content

Kalung Anti Corona Digagas Mentan SYL, Nurdin Abdullah Tak Tertarik

Nurdin Abdullah
Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah, saat diwawancarai awak media terkait kalung "anti virus corna' di Rujab Gubernur Sulsel, Kamis (9/7/2020).(Kabar.News/Darsil)

KABAR.NEWS, Makassar - Kalung 'Anti Virus Corona Eucalyptus' yang dibuat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian dan digaungkan oleh Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) belakangan ini ramai diperbincangkan.


Tak sedikit yang nyinyir atas produk yang dipercaya mampu membunuh Virus Corona tersebut. Bahan ramuannya dari Eucalyptus (kayu putih). Banyak yang meragukan keampuhan dari kalung 'anti virus' yang rencananya diproduksi massal pada Agustus mendatang itu.


Sebelumnya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan, Fadjry Djufry, mengklaim jika kalung yang terbuat dari eucalyptus ini sudah teruji di laboratorium Balitbangtan.


Meski kalung 'anti virus' itu diklaim ampuh mematikan Virus Corona oleh Mentan Syahrul Yasin Limpo, rupanya tak membuat Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah, tertarik.


Mantan Bupati Banteang dua periode itupun hanya tertawa menanggapi pertanyaan wartawan soal kalung 'anti virus' gagasan SYL tersebut."Jangan bikin blunder lagi," ucap singkat Nurdin Abdullah saat ditemui di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Jalan Sungai Tangka, Kamis (9/7/2020).


Memang, kalung 'anti corona' yang sering digunakan Mentan SYL kini menjadi sorotan publik. Apalagi banyak pakar yang meragukan. Meski berdasarkan uji molecular docking dan uji vitro di Kementan, minyak atsiri eucalyptus citridora dapat menginaktivasi virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus sehingga mempunyai kemampuan antivirus.


Salah satuya, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Suwijiyo Pramono. Dikutip dari Tirto.id, Pramono mengatakan jika eucalyptus bukan untuk digunakan sebagai obat dalam. 


Menurutnya, pemakaian eucalyptus umumnya dioleskan atau dihirup seperti pada produk minyak kayu putih atau balsem. Dalam eucalyptus terdapat senyawa 1,8-Sineol yang bersifat antibakteri, antivirus, dan ekspektoran untuk mengencerkan dahak. 1,8-Sineol dikenal luas sebagai komponen kimia utama dalam minyak kayu putih.


Kalung Anti Virus
'Anti Virus Corona Eucalyptus.(FOTO/Jawa Pos)

 


Pramono menegaskan eucalyptus belum bisa dianggap sebagai obat atau antivirus atau vaksin Covid-19. Masih diperlukan pembuktian dengan proses yang panjang hingga pengujian klinis atau tes pada manusia.


“Kalau disebut sebagai obat antivirus COVID-19 belum bisa. Apalagi kalau digunakan per oral untuk obat tidak direkomendasikan karena jika dosis penggunaan tidak tepat akan berbahaya,” katanya, dikutip dari Tirto.

 

Sementara, Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunus Miko Wahyono, menegaskan, apa yang diproduksi oleh Kementan hanya jamu dan obat herbal, bukan vaksin yang dibutuhkan untuk memberantas COVID-19. 


Terlebih, pengujian yang dilakukan oleh Kementan hanya sebatas in vitro yang bahkan belum diuji kepada binatang. “Harus diuji ke binatang dahulu, kalau berhasil, baru kemudian diuji ke manusia. Tahapnya masih panjang. Dan harus dilakukan oleh ahli virologi dan ahli farmakologi,” kata Miko, masih dikutip dari Tirto. 


Tak hanya itu, penggunaan kalung dan roll on ini juga harus diinformasikan dengan detil dan jelas oleh pemerintah. Ini penting untuk mengantisipasi respons masyarakat yang mungkin tidak menerima informasi secara utuh. 


“Jika warga hanya memakainya saja, kemudian abai tanpa pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, jaga kesehatan, dan yakin kalau kalung atau roll on itu bisa melindungi dari COVID-19, bahaya."


Penulis : Darsil Yahya/B
 

 

Flower

 

loading...