Skip to main content

Jangan Sebut Aku Mahasiswa

Jangan Sebut Aku Mahasiswa
Akmal Maulana. (Ist)

KABAR.NEWS - Mahasiswa, sebuah status yang diberikan kepada mereka yang mengenyam pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi. Mahasiswa adalah mereka calon Sarjana dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi, mereka didik den diharapkan menjadi seorang calon intelektual (Knopfemacher).

Mahasiswa merupakan sosok manusia yang memiliki prinsip serta keyakinan yang kuat untuk terus bergerak memajukan masyarakat. Pantang menyerah untuk terus mengumandangkan kebenaran. Membela yang tertindas. Mereka berani berdiri tegak untuk berbeda dengan rezim yang tidak berpihak kepada rakyat.

Mahasiswa juga menjadi salah satu elemen dari setiap periode perjalanan bangsa ini. Dimata masyarakat, mahasiswa acap kali dianggap sebagai cendekiawan muda, intelek dan kaum pembawa perubahan. Ini bukan julukan yang jatuh dari langit, memang terbukti bahwa banyak goresan sejarah menjadikan mahasiswa sebagai aktor dalam perubahan bangsa ini. Masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, Orde Lama, Orde Baru hingga saat ini peran mahasiswa tak pernah absen dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Akhir-akhir ini, nama Mohammad Zaadit Taqwa mungkin masih menjadi salah satu orang yang hangat diperbincangkan. Ya, Aksi ‘Kartu Kuning’ yang diberikan kepada Presiden Joko Widodo saat selesai berpidato di acara Diesnatalis Universitas Indonesia ke-68 di Balairung UI menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat.

Apa yang dilakukan Zaadit Taqwa bukan tanpa alasan akan tetapi Ketua Badan Eksekuif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universiras Indonesia ini mengkritisi isu Gizi Buruk di Asmat, Isu Penghidupan kembali Dwifungsi Polri/TNI dan Penerapan Aturan Baru tentang  Organisasi Mahasiswa.

Memang tak banyak yang seperti Zaadit. Mahasiswa kekinian harusnya sadar dan mengerti akan tanggung jawab yang dipikulnya. Bertanggung jawab untuk menentukan masa depan bangsa, bertanggung jawab untuk menentukan nasib ratusan juta rakyat Indonesia.

Disaat rakyat mengalami penderitaan akibat berbagai bentuk penindasan yang dilakukan oleh penguasa, mahasiswa justru masih sibuk membuktikan diri paling hebat dengan cara perang atau tawuran antar kelompok, menjadi agen hedonis dan bahkan menjadi makelar politik penguasa yang korup.

Jika seperti ini terus, masih pantaskah gelar ‘Maha’ diletakkan dipundak ‘Mahasiswa’? Apakah mahasiswa masih bisa dianggap sebagai orang yang akan membawa perubahan? Apakah mereka masih layak menjadi penentu nasib ratusan juta jiwa rakyat Indonesia? Selain itu, kebanyakan mahasiswa sekarang bisa dikata lebih mengutamakan keselamatan diri mereka sendiri ataupun pergaulan hidupnya.

Sisa sedikit mahasiswa yang masih peduli akan kondisi bangsa ini, memikirkan tentang kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Jangankan membahas negara, membahas tentang kemajuan kampus saja sudah sangat jarang mahasiswa yang mau melibatkan diri.

Apa yang dilakukan Zaadit Taqwa mungkin terbilang berani dan sangat langka dilakukan oleh mereka yang katanya Kaum Pembawa Perubahan. Saat beberapa mahasiswa masih disibukkan dengan Kuliah, Tugas, Praktikum hingga akhirnya tidak ada waktu dan bahkan sama sekali tidak mau memikirkan kondisi negeri yang sedang tidak baik-baik saja, Zaadit membuktikan diri dengan aksi yang luar biasa dan seolah ‘mencambuk’ para mahasiswa yang apatis dan hedonis.

Mahasiswa, malang nasibmu kini. Teriakanmu tiada lagi terdengar. Bangunlah dari bangku-bangku kuliah, Bergeraklah dari zona nyaman. Ubahlah pemikiran yang sempit menjadi sedikit terbuka, kritis dan memiliki empati terhadap segala permasalahan yang melanda bangsa ini. Pekalah terhadap lingkungan sekitar, jangan hanya mengejar IPK tinggi hingga akhirnya lupa akan tanggung jawab yang lebih besar. Yakni tanggung jawab sosial, keilmuan dan masyarakat.

Akmal Maulana
(Ketua Umum HIMARA STISIP Muhammadiyah Sinjai)