ISIS Penggal 12 Diduga Warga Asing di Mozambik

Kepolisian menyebutkan korban ISIS tersebut berkulit putih.

ISIS Penggal 12 Diduga Warga Asing di Mozambik
Ilustrasi ISIS. (Foto: Reuters)






KABAR.NEWS - Aksi teror dan kekejaman dilakukan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di Kota Palma, Mozambik. Dua belas orang dikabarkan menjadi korban merupakan warga negara asing. 

Komandan Kepolisian Palma, Pedro da Silva mengatakan korban ISIS tersebut bekulit putih. Meski demikian, Pedro tak bisa memastikan apakah korban tersebut adalah warga negara asing. 

"Mereka diikat dan dipenggal di sini," tutur Da Silva dalam tayangan televisi lokal, TVM dilansir Reuters sembari menunjuk pada area tempat belasan orang itu dikuburkan.

Kelompok pemberontak terkait ISIS semakin meningkatkan aktivitasnya sejak tahun 2017 di Provinsi Cabo Delgado, yang menjadi lokasi kota Palma. Namun tidak diketahui secara jelas apakah kelompok itu memiliki tujuan sama.

Otoritas Mozambik menuturkan bahwa puluhan orang tewas dalam serangan terbaru yang dimulai 24 Maret, dan kelompok kemanusiaan meyakini puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Namun skala penuh untuk jumlah korban tewas dan jumlah warga mengungsi tidak diketahui secara jelas.

Juru bicara Kepolisian Nasional Mozambik, Orlando Mudumane, menyatakan dirinya telah menonton tayangan TVM, namun tidak bisa mengonfirmasi kebenarannya. Mudumane menyatakan pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.

Reuters belum bisa memverifikasi keterangan soal serangan di Palma secara independen. Sebagian besar saluran telekomunikasi di kota itu terputus setelah serangan terjadi. Namun, militer Mozambik menyatakan kota Palma sekarang aman, setelah tentara membersihkan satu bagian terakhir kota dari pemberontak.

Tayangan TVM itu direkam di luar Hotel Amarula, saat sekelompok orang, termasuk warga negara asing dan warga setempat, dikepung pemberontak beberapa hari usai serangan. Kelompok itu berupaya kabur dengan konvoi mobil pada 26 Maret, namun disergap di luar gerbang.

Otoritas Mozambik menyebut tujuh orang tewas, dengan dua di antaranya merupakan warga Inggris dan warga Afrika Selatan.