Insiden Capitol: Propaganda Trump di Medsos Efektif, Akun Ditangguhkan

- Akun Twitter dan Facebook Trump ditangguhkan

Insiden Capitol: Propaganda Trump di Medsos Efektif, Akun Ditangguhkan
Pendukung Presiden Donald Trump memanjat dinding barat Capitol AS pada Rabu, 6 Januari 2021, di Washington. (AP Foto/Jose Luis Magana)

KABAR.NEWS, Washington - Postingan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump di Facebook dan Twitter, ditangguhkan selama 12 jam imbas penyerbuan Gedung Kongres atau Capitol Hill oleh massa pro Trump pada Rabu (6/1/2021) waktu setempat.


Bahkan, dua platform media sosial ini mengancam menangguhkan secara permanen akun politikus Partai Republik itu apabila terdapat pelanggaran berat di masa depan.


Trump telah menghapus tiga tweetnya atas permintaan Twitter, termasuk video pendek yang berisi desakan kepada para pendukungnya untuk meninggal Capitol, sembari juga mengulangi kebohongan tentang integritas pemilihan presiden. 


Kata Twitter, melansir AP News, Kamis (7/1/2021), seandainya Trump tidak menghapus tiga tweet tersebut, perusahaan media sosial ini mengancam akan memperpanjang penangguhan akun yang memiliki 88,7 juta pengikut itu.


Keputusan menangguhkan akun Trump menuai apresiasi. Para ahli berpendapat, cuitan Trump di Twitter telah menyebarkan informasi yang salah, berbahaya dan mendorong kekerasan yang telah berkontribusi pada kekerasan hari Rabu.


Jennifer Grygiel, seorang profesor komunikasi Syracuse University dan pakar media sosial, mengatakan kericuhan di Washington adalah akibat langsung dari penggunaan media sosial oleh Trump untuk menyebarkan propaganda dan disinformasi. 


Grygiel menyebut platform media sosial harus memikul tanggung jawab atas kelambanan mereka mencegah penyerbuan Capitol saat kongres akan mensertifikasi hasil Pilpres AS.


"Inilah yang terjadi," kata Grygiel. “Kami tidak hanya melihat pembobolan di Capitol. Platform media sosial telah berulang kali dibobol oleh presiden. Ini adalah disinformasi. Ini adalah upaya kudeta di Amerika Serikat."


Grygiel mengatakan keputusan platform untuk menghapus video - dan penangguhan Twitter - sudah terlalu terlambat.


“Media sosial terlibat dalam hal ini karena dia berulang kali menggunakan media sosial untuk menghasut kekerasan. Ini adalah puncak dari propaganda dan penyalahgunaan media selama bertahun-tahun oleh presiden Amerika Serikat."


Sementara, Facebook pada Rabu malam mengumumkan bahwa Trump tidak dapat memposting apapun selama 24 jam setelah melanggar kebijakan media sosial ini. Penangguhan itu juga berlaku di Instagram. 


Trump memposting video itu lebih dari dua jam setelah pengunjuk rasa memasuki Capitol, mengganggu pertemuan anggota parlemen dalam sesi bersama  yang luar biasa untuk mensertifikasi hasil Electoral College dan kemenangan Presiden terpilih Joe Biden.


Sejauh ini, YouTube belum melakukan tindakan serupa untuk memberangus Trump, meski dikatakan juga menghapus video Trump. Tapi video itu tetap tersedia hingga Rabu sore. Gedung Putih tidak segera memberikan tanggapan atas tindakan tersebut.