Skip to main content

Teror "Pembegal" yang Tak Pernah Selesai

korban begal
Ilustrasi. (KABAR.NEWS/Wahyu Ade Saputra)

 

KABAR.NEWS, Makassar - Status facebook Muhammad Yusuf Hasan di grub Laporan Warga Makassar ramai dibahas netizen. Dia menulis; "apa penyebab tingginya tingkat kasus penjambretan di Kota Makassar...?, dari anak abg sampai bapak-bapak pelakunya....".

 

Status yang diunggah sejak Selasa (28/8/2018) pukul 13.35 Wita itu, sudah ditanggapi 415 komentar. Status ini seakan mempertanyakan motif di balik maraknya aksi kejahatan jalanan di Kota Makassar belakangan ini.

 

Sebelumnya, pada Senin (18/6) malam di Jalan Hertasning Baru, Makassar, korbannya bernama Dian Hartono. Saat itu Dian baru tiba di Makassar usai mudik dari kampung halamannya, Palopo.

 

Peristiwa tersebut mengakibatkan hidung perempuan berusia 28 tahun itu nyaris putus. Kendati pelakunya berhasil ditangkap, namun teror pembegal seakan tak pernah selesai.

 

Seperti yang menimpa Nirmala, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin di Jalan Jipang, Kecamatan Rappocini, Makassar, Sabtu (11/8) malam. Naas, perempuan berusia 23 tahun ini tewas usai terjatuh dari sepeda motornya. Padahal, selangkah lagi Nirmala bakal meraih gelar sarjana.

 

Peristiwa yang sama terjadi di Jalan Yasin Limpo, Kelurahan Romangpolong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, tak jauh dari Kampus II Universitas Islam Negeri Alauddin. Korbannya adalah Nurkholis, wartawan media daring di Gowa.

 

Dalam pengakuannya, pelaku berjumlah dua orang. Usianya diperkirakan belasan tahun. Saat beraksi, salah satunya menggunakan parang. Pelaku mengendarai sepeda motor matic dengan plat motor yang diduga palsu. "Platnya warna putih," kata Nurkholis usai memberikan keterangan di Polsek Somba Opu, Kamis (23/8).

 

Nurkholis yang berboncengan bersama istrinya tak bisa berbuat banyak. Kendati tak mengalami luka, namun tas berisi handphone, uang, serta dokumen penting dibawa lari pelaku. "Setelah beraksi, begalnya bilang makasih bos," tutur Nurkholis menirukan ucapan pelaku.

 

Aksi Kejahatan Tiga Tahun Terakhir

 

Berdasarkan data tindak kejahatan yang terangkum sejak Januari hingga Februari 2016 di tingkat Polda Sulawesi Selatan, angka kriminal di Kota Makassar tercatat sebanyak 378 kasus. Mulai dari pembunuhan, pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor hingga kasus narkoba. Angka tersebut menempatkan Makassar pada peringkat pertama, dibanding daerah lain di Sulsel.

 

Dalam catatan kepolisian, terdapat selisih perbedaan yang berhasil diungkap jajaran Polrestabes Makassar. Diantaranya; pencurian dengan pemberatan pada triwulan pertama sebanyak 268 kasus, triwulan dua 281 kasus. Kemudian pencurian dengan kekerasan pada triwulan pertama 145 kasus, triwulan dua 162 kasus. Sedangkan pencurian kendaraan bermotor pada triwulan pertama 288 kasus dan triwulan dua 289 kasus.

 

Posisi kedua diduduki Kabupaten Gowa. Jumlahnya 59 kasus. Disusul Kabupaten Maros 48 kasus, Kota Palopo 37 kasus dan Kabupaten Wajo 33 kasus. Kemudian Kabupaten Pinrang 30 kasus, Luwu Utara 28 kasus, Sidrap 21 kasus, Barru 19 kasus, Bulukumba 16 kasus dan Bone 13 kasus. Sementara, angka kejahatan di daerah lain yang masih terkontrol dan berada di bawah angka 10, diantaranya Kabupaten Selayar, Jeneponto, Tana Toraja, Enrekang, Takalar dan Luwu Timur.

 

Pada Januari hingga Agustus 2017, terdapat tiga laporan warga yang diterima Polrestabes Makassar. Di mana, pelaku yang ditangkap sebanyak tiga orang. Sementara, kasus penganiayaan berat sebanyak 19 laporan dan 28 tersangka. Disusul kasus pencurian dengan kekerasan sebanyak 321 laporan dan 346 tersangka, pencurian dengan pemberatan sebanyak 595 laporan dan 615 tersangka. Terakhir, kasus pencurian sepeda motor sebanyak 315 laporan dan 338 tersangka. Secara keseluruhan sebanyak 1.253 laporan dan 1.330 tersangka.

 

Memasuki Juni hingga Agustus 2018, terdapat tiga laporan kasus pembunuhan dan enam tersangka. Sementara, penganiayaan berat sebanyak 14 laporan dan 19 tersangka. Disusul kasus pencurian dengan kekerasan sebanyak 90 laporan dan 95 tersangka, pencurian dengan pemberatan 215 laporan dan 238 tersangka. Terakhir, pencurian sepeda motor sebanyak 72 laporan dan 72 tersangka. Secara keseluruhan, sebanyak 394 laporan dan 432 tersangka.

 

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Diari Estetika mengatakan, setiap bulan laporan berkurang, sedangkan pengungkapan terus bertambah. "Pelaku tindak pidana 3C (Curat, curas, curanmor) akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku," kata Diari Estetika kepada KABAR.NEWS, Senin (3/9/2018).

 

Menurut dia, kasus 3C sangat meresahkan masyarakat Kota Makassar. "Semua pelaku kita tindak tegas, karena pelaku ini sangat meresahkan masyarakat. Ini dilakukan agar masyarakat Makassar bisa tenang dalam beraktivitas," tuturnya.

 

Jahat di Usia Belia

 

Masih dalam catatan kepolisian, dari 55 pelaku, 70 persen adalah anak-anak yang usianya rata-rata 15 hingga 17 tahun. Untuk pelaku yang masih di bawah umur tercatat 52 orang. Sedangkan dari jumlah tersebut, 15 hingga 20 persen berstatus residivis. Mereka dikatakan termotivasi melakukan tindak kriminal karena persoalan ekonomi, pengangguran, pengaruh narkoba serta minuman keras.

 

Sementara, dari total laporan warga, polisi berhasil mengungkap 152 kasus dengan jumlah 206 pelaku. Latar belakang pelaku beragam. Beberapa diantaranya berstatus pengangguran, pelajar dan mahasiswa. Bahkan ada yang tercatat sebagai pegawai honorer di instansi pemerintahan.

 

Bisa dilihat, mereka yang tergolong sebagai pelaku kejahatan karena reaksi atas lemahnya peran keluarga dalam membangun sistem kendali atas mental pelaku. Pelaku yang berusia belia seakan menegaskan ciri khas kejahatan baru di Indonesia.

 

Dilansir dari tirto.id, Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane mengatakan, salah satu bentuk ketidakfokusan dalam penindakan, adalah patroli polisi yang tidak reguler. Banyak polisi yang enggan memantau situasi.

 

Mereka, kata Neta, baru bertindak ketika ada kasus yang disorot publik atau viral di sosial media. Seperti mengerahkan seluruh SDM atau membentuk tim khusus, seperti tim "Parakang" yang dibentuk Polrestabes Makassar baru-baru ini. Namun belakangan sudah tidak aktif lagi.

 

Langkah itu sempat membuat angka kejahatan menurun, tapi sementara. Setelah pengawasan longgar, kejahatan pun meningkat lagi. Disamping sikap polisi secara umum, kinerja divisi intelijen juga seakan belum mampu mendeteksi dini segala ancaman. "Padahal patroli harusnya rutin di tempat-tempat rawan dan strategis," katanya.

 

Tapi yang terjadi malah mobilnya berdiam di gedung-gedung pemerintahan, atau yang paling 'ironis' di bawa jembatan Fly Over Makassar. Kejahatan jalanan memang penyakit di kota besar. Sasarannya banyak. Karena orang-orang hidup berlimpah harta, juga sejalan dengan faktor lain, seperti pengangguran dan narkoba.

 

  • Lodi Aprianto