Skip to main content

Ombudsman RI Temukan Maladministrasi Penyidikan Kasus Novel Baswedan

Ombudsman
Ombudsman RI menyerahkan hasil penelitian administrasi penyidikan penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.


KABAR.NEWS, Jakarta - Ombudsman RI mengungkapkan adanya maladministrasi minor dalam penyidikan kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan yang hingga saat ini masih terus dilakukan penyelidikan. 


Anggota Ombudsman RI, Adrianus Meliala mengaku meski menemukan maladministrasi minor dalam penyelidikan kasus yang menimpa Novel Baswedan, tetapi secara umum Polri terlihat serius dalam pengungkapan pelaku penyiraman air keras terhadap Novel. 


Baca Juga: 


"Kesimpulan kami secara proses Polda Metro terlihat serius dalam melakukan kegiatan penyidikan dilihat dari berbagai kegitan yang dilakukan serta SDM yang dilibatkan namun secara proses serius dan benar tidak berarti kasus pasti terungkap," paparnya dikutip dari detikcom, Kamis (6/12/2018).


Adrianus mengatakan Ombudsman meneliti memulai penyelidikan dari laporan penyiraman air keras pertama kalinya di Polsek Kelapa Gading kemudian ke Polres Jakarta Utara hingga di Polda Metro Jaya. Ombudsman menemukan beberapa tindakan maladministrasi bersifat kecil yang dilakukan oleh polisi dalam menangani kasus itu.


"Soal temuan fakta yang kami temukan, kami mencatat pihak kepolisian sudah melakukan 58 kegiatan yang terekam dalam administrasi penyidikan sejak 11 April 2017 sampai September 2018 yakni, olah TKP, pemeriksaan saksi, pemeriksaan Labfor dan lain-lain. Kepolisian juga mengerahkan 172 personel yang semuanya memperoleh sprin dari berbagai keahlian," ujarnya.


Sebanyak 172 personel itu disebutnya mematahkan anggapan masyarakat yang berfikir polisi tidak serius menuntaskan kasus Novel. Ombudsman menilai 172 personel itu kurang efektif dan masuk ke dalam salah satu catatan maladministrasi. 


Catatan Maladministrasi yang kedua yakni tidak adanya jangka waktu penugasan dalam surat perintah tugas yang dikeluarkan Polsek Kelapa Gading, Polres Jakut dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya. 


Aspek berikutnya yakni kurang cermatnya penyidik Polsek Kelapa Gading saat setelah penyiraman air keras. Polisi disebutnya mengabaikan TKP dan fokus mencari keterangan di rumah sakit tempat Novel pertama kali dilarikan ke rumah sakit.


"Terdapat hambatan sebagai berikut, TKP sudah rusak karena kepolisian tidak segera menetralisirkan TKP. Kedua, rekaman CCTV di kediaman Novel disita pihak lain (KPK), lalu tidak ada yang melihat pelaku langsung. Belum didapatnya beberapa petunjuk, dan keengganan Novel untuk bekerja sama dengan penyidik," kata Adrianus.

 

loading...