Skip to main content

Misteri Tewasnya Bos Kartel Narkoba di Lapas Makassar, Dibunuh atau Bunuh Diri?

Kematian Bos Kartel Narkoba di Lapas Makassar, Dibunuh atau Bunuh Diri?
Lapas klas 1 Makassar di Jalan Sultan Alauddin Makassar. (KABAR.NEWS/Lodi Aprianto)

 

KABAR.NEWS, Makassar - Masih ingat kasus kartel narkoba di Kota Makassar, yang membakar satu rumah dan menewaskan enam anggota keluarga di Jalan Tinumbu, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, Makassar, 6 Agustus 2018 lalu.

Kini, saksi kunci atau otak pembakaran yaitu Akbar Dg Nampu meregang nyawa di sel isolasi Lapas Klas I Makassar, Jalan Sultan Alauddin Makassar, Senin (22/10/2018).

Saksi kunci keberadaan kartel narkoba di Kota Makassar ini meninggal dunia secara "misterius" dengan kondisi leher terlilit rantai di ruang isolasi yang di jaga ketat petugas Lapas Makassar. Dg Ampu meregang nyawa di samping rekannya sendiri Iwan Lili dan diduga modus bunuh diri.


Baca juga:

Kejanggalan mencuat, apakah Lili tidak merasakan disaat saksi kunci kartel narkoba di Makassar ini memberontak menjelang detik-detik kematian Dg Ampu yang menurut pihak Polisi adalah bunuh diri ?

Kasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Wirdhanto Hadicaksono menapik ada kejanggalan dari kematian Dg Ampu di dalam Lapas. Menurutnya, kematian kartel narkoba tersebut diduga kuat karena bunuh diri bukan dibunuh sebagaimana yang mencuat saat ini.

"Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dan perlawanan dari hasil olah TKP. Dan dilihat dari panjang borgol memang memungkinkan (bunuh diri)," ucap Wirdhanto kepada KABAR.NEWS, Senin malam.


 

Kematian Bos Kartel Narkoba di Lapas Makassar, Dibunuh atau Bunuh Diri ?
Akbar Dg Ampu Cs, saat diamankan di Polrestabes Makassar beberapa waktu lalu. (KABAR.NEWS/Lodi Aprianto)

Kompol Wirdhanto Hadicaksono menjelaskan, pada saat peristiwa itu para warga binaan Lapas Klas 1A sementara melakukan solat subuh berjamaah. Sehingga, meski pun dia (Dg Ampu) melakukan bunuh diri dengan mengikat lehernya sendiri sehingga tak mampu atau tak bisa kembali mengendorkan jeratan itu untuk kembali bernafas.

"Jadi kalau ada niat untuk bunuh diri, ya bisa saja dong. Jadi rantai borgol itu kan dikaitkan ke tangan kiri dan kaki kanan. Dan hasil olah TKP, dia membuat rantai itu seperti simpul gantung diri," tambahnya.

Dan saat membentuk simpul gantung diri, kata Wirdhanto, Dg Ampu menghentak kakinya ke bawah sehingga membuat rantai yang melilit di lehernya menjerat. Kuatnya jeretan itu yang kemungkinan mematahkan leher Dg Ampu.


Keluarga Dilarang Membesuk Hingga Tidak Diberitahukan Kematian Dg Ampu

Dg Ampu, pasca diketahuo sebagai otak pembakaran satu keluarga hanya karena utang piutang narkoba, ia ditempatkan di sel khusus di blok Tipikor. Sel khusus itu disebut sangat isolatif dari penghuni lapas lainnya.

Dan saat itu juga, pihak Lapas Makassar tidak mengizinkan siapa saja untuk bertemu dengan Dg Ampu, termasuk pihak keluarganya. 

Menurut ayah Ampu, Sangkir Daeng Katti (50), bahwa dirinya bersama keluarga tidak pernah lagi bisa membesuk dengan anak pertamanya itu usai kembali berkasus dan ditangani oleh Polrestabes Makassar. Bahkan, ia mengaku sebulan lebih tidak bertemu Dg Ampu sebelum dinyatakan bunuh diri.

"Semenjak berkasus, saya dilarang ketemu dengan anak ku. Dan kematiannya juga saya tidak dikasi tahu. Seandainya bukan tetangga, pasti saya tidak tahu," bebernya.


Kematian Bos Kartel Narkoba di Lapas Makassar, Dibunuh atau Bunuh Diri ?
Sangkir Daeng Katti (kiri) ayah dari Akbar Dg Ampu. 

 


Katanya, semasa berada di ruang isolasi, Dg Ampu, kaki dan tangannya dirantai. Dan karena stres sehingga ia nekat mengakhiri hidupnya dan meninggalkan keluarganya.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) klas I Makassar, Budi Sarwono mengungkapkan pasca kembali berkasus, pihak keluarga Dg Ampu tidak diizinkan untuk melihatnya. Tapi karena, satu bulan lebih, sehingga telah diizinkan ketemu.

"Memang awalnya tidak diizinkan ketemu tapi karena satu bulan lebih sehingga sudah diizinkan," katanya.

Sebelum Dg Ampu ditemukan meninggal dunia, kata Budi, orang terakhir yang menemuinya di Lapas Makassar adalah anak dan istrinya. "Jumat lalu, anak dan istrinya sudah menjenguknya," pungkasnya.


Baca juga:

Melihat kejanggalan kematian Dg Ampu di dalam sel isolasi Lapas Klas 1A Makassar, pihak Biddokkes Polda Sulsel juga angkat bicara. Menurut pihak Biddokkes, tersangka utama kasus pembakaran rumah itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan kondisi rantai terlilit di lehernya.

"Saat ditemukan, kondisi korban hampir duduk. Dan air seninya keluar serta ekspresi muka seperti orang henti napas," beber Paur Doksik Biddokkes Polda Sulsel, AKP Zulkarnain.

Dia menyebutkan, saat pemeriksaan awal, adanya henti napas yang membuat korban lemas akibat adanya jeratan. 

Saat ditanya, tanda-tanda seseorang bunuh diri, Zulkarnain enggan membeberkan hal tersebut. Ia hanya menjelaskan bahwa dalam kasus ini pihaknya hanya fokus pada konsep sebab matinya atau kondisi tubuhnya, bukan karena proses meninggalnya.

"Kalo kami pada konsep sebab mati bukan proses mati dan kami melihat kondisi tubuh korban," pintanya.

Sebelumnya, kebakaran menghanguskan rumah satu keluarga pada di Jalan  Tinumbu, Lorong 166 B, Makassar, Senin dini hari, 6 Agustus 2018, pukul 03.45 Wita, dan mengakibatkan enam anggota keluarga, yakni pemilik rumah H Sanusi (70), istrinya Hj Bodeng (65), anak perempuannya Musdalifa (30), serta cucunya Ahmad Fahri (25), Namira Ramadina (21), dan Hijas (2,5), tewas.


aa
Olah TKP pembakaran rumah di Jalan  Tinumbu, Lorong 166 B, Makassar, Senin dini hari, 6 Agustus 2018. (KABAR.NEWS/Irvan Abdullah)

Tak berselang lama polisi berhasil mengungkap bahwa kebakaran itu merupakan pembunuhan berencana. Otak pembunuhan berencana itu adalah Akbar Daeng Ampu (32) yang memerintahkan anak buahnya untuk menganiaya dan membunuh lalu membakar rumah korbannya itu.

Alasan dibalik pembunuhan satu keluarga itu adalah persoalan piutang senilai Rp10 juta dengan salah satu korban, yakni Fahri. Pouting itu bermula ketika Fahri membeli narkoba jenis Sabu kepada Akbar.

  • Lodi Aprianto


loading...