Skip to main content

Longsor dan Banjir Gowa, Perlunya Tata Ruang Kawasan Hutan

Dishut Sulsel
Kepala Dinas Kehutanan Sulsel, M. Tamzil (KABAR.NEWS/Andi Khaerul)


KABAR.NEWS, Makassar - Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sulawesi selatan (Sulsel) Muhammad Tamzil mengaku banjir dan longsor yang terjadi di Gowa beberapa waktu lalu disebabkan banyak faktor, salah satunya alih fungsi lahan kawasan hutan.


Tamzil menjelaskan, disamping curah hujan yang di atas normal, kondisi hutan di lokasi terdampak bencana ada beberapa fungsi hutan, seperti hutan produksi yang dikelola PT Hutani, di kawasan Jeneberang, kawasan konservasi taman wisata alam kawasan Malino seluas 400 hektare (ha) dan kawasan hutang lindung.


Baca Juga:


"Memang banyak hal pengaruhi kemarin yang terjadinya banjir kemarin, di samping curah hujan yang diatas normal alih - alih fungsi lahan itu yang memang banyak terjadi, ya toh tidak bisa kita pungkiri Oleh karena itu pemerintah Gowa kemaring atas rekomendasi Gubernur telah mengusulkan ke Kementerian lingkungan hidup untuk mengadakan review tata ruang," ungkapnya.


Menurut Tamzil, konsep sebenarnya ada pada pengaturan tata ruang hutan, harus dipetakan antara kawasan yang harus di jaga dan kawasan untuk budidaya. Terkait, rencana revitalisasi hutan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), disebutnya perlu dikelola secara terpadu.


"Secara terintegrasi semua pihak yang berkepentingan itu harus duduk bersama untuk menyelamatkan waduk bilik-bilik apalagi waduk ini sangat vital bagi penduduk Sulsel khususnya Makassar Gowa dan sekitarnya di samping untuk irigasi juga ga untuk kepentingan air minum nah itu," paparnya.

 

Luas Kawasan Hutan di Gowa terbagi atas :

Hutang lindung : 23.998.00 hektare (ha)
Hutan Produksi : 23.377.00 hektare (ha)
Hutan Produksi konservasi : 303.000 hektare (ha)
Hutan Produksi Terbatas : 20.369.000 hektare (ha)
Hutan Suaka Alam Wisata : 458.37. hektere (ha).
Total luas hutan gowa : 72.105.37 Hektare (Ha).
 

  • Andi Khaerul

 

loading...