Skip to main content

Kejati Gunakan Teknik "Obat Nyamuk" Dalami Kasus Dugaan Korupsi Rp 49 M di Bulukumba

Kejati Sulselbar
Kejati Sulselbar.


KABAR.NEWS, Makassar - Kasus dugaan korupsi proyek irigasi senilai Rp49 miliar di Kabupaten Bulukumba, masih bergulir di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel. Tim penyidik menggunakan teknik "obat nyamuk" dalam mendalami dan memaksimalkan pemeriksaan terhadap saksi pelapor.


Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulsel, Tarmizi mengatakan bahwa proses penyelidikan kasus proyek irigasi di Kabupaten Bulukumba masih terus berproses. Rencananya, tim penyidik bakal menggali atau memperkuat alat bukti.


Baca Juga:


"Tentunya, paling penting dulu adalah saksi pelapor diperiksa secara maksimal karena saksi ini didampingi oleh LPSK, cuma kita mengatur waktu kapan. Karena itu yang kita inginkan data yang detail," tegas Tarmizi, Jumat (22/3/2019) tadi.


Dia meminta, agar masyarakat untuk tetap bersabar. Karena, dia yakin bahwa penyidik telah mempunyai teknik atau strategi dalam melakukan penyelidikan serta pemeriksaan saksi-saksi yang akan panggil. Bahkan kata dia, pihaknya juga akan melibatkan langsung tim ahli dalam membantu untuk mendalami kasus ini.


"Yang jelas, tim bekerja dengan maksimal dan beri waktu kepada mereka karena bukan hanya perkara itu yang dikerja. Yang penting Aspidsus yang mengendalikan teknis bisa mengakomodir dengan baik," terangnya.


Tarmizi membeberkan, sebelumnya tim penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap empat orang saksi. Dan saat ini, pihaknya juga telah menjadwalkan pemanggilan pemeriksaan terhadap beberapa orang saksi. Sementara itu, Bupati Bulukumba, Andi Sukri Sappewali yang diduga mengetahui kasus ini belum dijadwalkan untuk dilakukan pemeriksaan.


"Kami juga punya SOP, dan kami usahakan selesaikan sesuai dengan prosedur. Bupati belum kita panggil, karena kita ada teknis penyelidikan yaitu teknis obat nyamuk. Obat nyamuk kan melingkar dulu, itulah teknisnya," pungkas.

 

  • Lodi Aprianto

 

loading...