Skip to main content

Denny Siregar: Mereka Tidak Bisa Lawan Prestasi Jokowi

Pegiat media sosial sekaligus penulis, Denny Siregar saat bincang politik di Warunk Upnormal, Jumat (22/2/2019).


KABAR.NEWS, Makassar - Pegiat media sosial sekaligus penulis, Denny Siregar menghadiri bincang politik "Terima kasih Jokowi Satu Periode Lagi" yang diselenggarakan di Warunk Upnormal, Jumat (22/2/19).


Denny Siregar mengatakan bahwa ketika banyak pernyataan-pernyataan yang kontroversial ada indikasi bahwa mereka ingin mengarahkan masyarakat ini lupa kepada prestasi-prestasi Jokowi.


Baca Juga:


"Karena, kertika berbicara prestasi mereka tidak bisa melawan. Prestasi Jokowi dari ujung sudah kita lihat, petral pembubaran, BBM satu harga, kemudian pembubaran HTI, kemudian pengambilan freeport," ungkapnya.


Ia menjelaskan bahwa ketika hal ini dibicarakan terus menerus, menurutnya hal ini akan menggerus elektabilitas kelompok lawan. 


"Jangan terpancing pada hoaks-hoaks atau pernyataan-pernyataan kontroversial. Kita harus mampu berterimakasih, kita harus mampu mengingatkan kepada orang lain, bahwa lihatlah apa yang sudah dilakukan Jokowi untuk negeri kita sekarang ini,"jelasnya.


Selain itu, 10 lembaga survei mengatakan bahwa tidak ada perubahan dalam dua bulan ini.


"54, 53 melawan 33, 34, ada ruang di 20% itu yah. Dalam 2 bulan menurut pengamat ini sulit sekali berubah yah," terangnya.


Dalam keterangannya, menjadi pemimpin negara itu tidak cukup 5 tahun, menurutnya hal itu mulai harus dirubah.


"Karena ketika terpilih menjadi presiden baru yah, itu perlu waktu setahun dua tahun untuk beradaptasi atau bahkan mungkin sampai tiga tahun. Karena tidak mungkin seluruh program dapat selesai hingga 5 tahun, itu tidak mungkin," tegasnya.


Pegiat media sosial yang biasa disebut Bang Denny itu berharap agar suatu saat ada perubahan-perubahan yang ada di DPR.


"Presiden itu kalau bisa 8 tahunlah, biar jelas. Kalau bisa 10 tahun," jelasnya.


Ia menyayangkan ketika pemimpin yang berubah, akan terjadi perubahan kebijakan-kebijakan baik yang dibawa oleh pemimpin lama.


"Kita kan berfikir Indonesia, kita berfikie negeri kita sendiri, jangan sampai tidak terteruskan hanya karena pemimpinnya berbeda," ungkapnya.

 

  • Ratih Sardianti Rosi

 

loading...