Skip to main content

Daging Sapi dan Kambing Picu Tekanan Darah Tinggi Secara Mendadak, Mitos atau Fakta?

Nzj
Ilustrasi. (Int)

KABAR.NEWS - Selamat hari raya Idul Adha 2018.

Ngomong-ngomong soal Idul Adha memang tak bisa lepas dengan kuliner khas berbahan dasar daging sapi ataupun kambing.

Kedua daging tersebut biasanya diolah menjadi masakan tradisional seperti rendang, opor kambing, sambal goreng sapi, lada hitam, kari, sate, konro ,coto, rawon, kikil dan sebagainya yang membuat siapa saja kesulitan menolak kenikmatan hakiki kuliner tersebut.

Nah, tapi kamu mesti hati-hati untuk mengkonsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi tersebut. Segala macam penyakit bisa timbul kapan saja termasuk tekanan darah tinggi.

Tapi apakah mengkonsumsi daging sapi atau kambing bisa memicu tekanan darah tinggi secara mendadak?

"Daging kambing dibandingkan dengan daging-daging yang lain berpotensi meningkatkan tekanan darah secara mendadak," ujar spesialis saraf yang berfokus juga pada kasus stroke dari RSCM, dr. Amanda Tiksnadi, Sp.S(K).

Bahkan, mengkonsumsi daging berlebih utamanya daging kambing bisa memicu stroke.

Meski, daging kambing bukan satu-satunya pencetus. Bahan makanan dalam masakan seperti garam (yang kadarnya tinggi) bisa menjadi penyebab stroke yang kadang tak orang sadari.

"Mungkin bukan hanya pengaruh dari daging kambingnya sendiri, tetapi dari berbagai makanan lain, karena otomatis mengandung garam sehingga rasa lebih asin. Tingginya kadar natrium dalam garam menyebabkan retensi air dalam tubuh, sehingga volume pembuluh darah jadi penuh (terisi cairan)," papar Amanda.

"Akibatnya, tekanan darah meningkat. Bila pada dasarnya orang-orang tersebut sudah mempunyai penyakit dasar di mana pembuluh darahnya tidak elastis, karena berbagai faktor misalnya ada sumbatan dan lainnya, akan sulit dikompensasi oleh tubuh," sambung dia.

Pembuluh darah yang elastis penting untuk menyesuaikan perubahan dari jumlah cairan atau tekanan darah dalam intravaskuler. Banyaknya plak dalam pembuluh darah, faktor penuaan menjadi faktor yang mengurangi elastisitas pembuluh darah.

"Dalam beberapa kasus, seperti penuaan, banyak plak, banyak timbunan dan lainnya, bisa menyebabkan elastisitas pembuluh darah akan berkurang, jadi dia keras (sulit elastis).”

Sedangkan, kadar garam tinggi yang menyebabkan penumpukan cairan terpaksa masuk ke dalam pembuluh darah, tidak terakomodasi, sehingga menjadi pecah. Lalu, timbulah gejala stroke, kalau di koroner, serangan jantung akut atau di ginjal.

 

loading...