Skip to main content

Belajar Membentuk Karakter Anak Lewat Metode Belajar Waldorf

Karakter anak
Ilustrasi. (Int)

Berbicara mengenai pendidikan yang terbaik untuk anak memang tidak ada habisnya, beragam inovasi mulai dari perbaikan kurikulum, pola pengajaran, interaksi dan penggunaan teknologi merupakan sebahagian kecil dari alternatif yang diperhatikan orang tua untuk anaknya.

 

Dunia pendidikan dewasa ini, seharusnya tidak melulu memprioritaskan intelegensi dan segi kognitif semata. Sebaliknya, smart parent semestinya dapat mengenal sistem pendidikan yang menekankan kepada sikap, cara berinteraksi dan cara mengelola emosi. Sistem pendidikan yang kini sedang berkembang di kota besar yakni Waldorf. 

 

Waldorf sendiri merupakan sistem pendidikan yang diambil dari intisari pemikiran filsuf pendidikan asal Austria bernama, Rudolf Steiner.

 

Waldorf menitikberatkan pada kemampuan diri sang anak. Sistem yang digunakan dengan cara menggali bakat alami yang dimiliki seorang anak. Contohnya, dengan melibatkan proses karya seni imajinasi seperti berpuisi, bernyanyi, drama, bermusik, atau hal-hal yang berkenaan dengan keindahan lain di sekitar anak. 

 

Maka, dengan begitu mereka sebagai manusia akan lebih menghargai hubungan.

 

Bukan menganggap remeh soal sistem pendidikan yang menitikberatkan terhadap nilai ranking kelas namun, sistem itu sangat mungkin merugikan siswa-siswa yang punya masalah belajar beraneka ragam. 

 

"Sumber daya dan kemampuan siswa terhadap pelajaran pun beda-beda. Sangatlah tak adil jika memukul rata kemampuan siswa yang secara sosial memiliki kehidupan yang beranekaragam," ujar Dr.Naomi Soetikno, praktisi pendidikan berbasis Waldorf.

 

Pendidikan Waldorf pun tidak pernah menargetkan semua anak memiliki tolok ukur yang sama. Kecepatan belajar mereka, kembali pada kemampuan diri masing-masing. Oleh karena itu, tidak banyak buku pelajaran yang digunakan sekolah berbasis Waldorf. 

 

Justru, setiap anak dapat menjadi pembangkit kurikulum bagi dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat pembelajaran jenis ini tampak sulit diaplikasikan pada sekolah formal. Tidak ada kecepatan berpikir anak yang harus diukur, sangat bertolak belakang dengan standar pendidikan di sekolah nasional. 

 

Di era digital saat ini, banyak anak yang memiliki kemampuan baik dalam hal ini pintar namun tidak segan dalam melanggar norma sosial. Hal ini tentunya harus diredam dan menunggu respin pemerintah ubtuk lebih fokus dalam merombak penuh tatanan sistem pendidikan formal yang berlaku di Indonesia.

 

loading...