Skip to main content

Hindari Dampak Parah Asap Kebakaran TPA Antang, Warga Ungsikan Anak Balitanya

Kebakaran di TPA Antang
Warga setempat beraktifitas di tengah kepungan api dan asap terbakarnya TPA Antang sejak Minggu (15/9/2019) lalu / (Doc KABAR.NEWS - Irvan Abdullah)

KABAR.NEWS, Makassar - Pencemaran udara akibat terbakarnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Antang, Tamangapa, Manggala, semakin buruk. Kondisi itu semakin hari semakin dirasakan oleh warga sekitar. 

 

Meminimalisir dampak buruk pencemaran lingkungan yang berimbas ke kondisi kesehatan, warga setempat memilih mengungsikan anak balita mereka. Tak ada pilihan lain bagi warga untuk membawa anak kecil keluar dari lokasi.

 

Ketimbang menetap dan menikmati penyakit yang bertahap menggerogoti kesehatan. 

 

"Tidak mengungsi, tapi cuma anak-anak bayi, kita bawa pergi karna asap kalau malam takutnya kenapa-kenapa. Kalau saya punya keponakan di bawa ke Takalar, ada juga di Makassarji," tutur Mawar warga terdampak pencemaran udara TPA Antang saat berbincang dengan KABAR.NEWS, di lokasi, Selasa (17/9/2019). 

 

Baca juga : Kabut Asap Beracun Selimuti Kota Makassar, Sebagian Warga Pilih Pulkam

 

Tepat hari ini, kebakaran memasuki hari ketiga. Sejak pertama kali terbakar, Minggu (15/9/2019) warga setempat masih bertahan di tengah-tengah kepungan asap yang disebut-sebut mengandung racun.

 

Bertahap, mereka yang memiliki anak balita harus memilih keluar agar terhindar dari asap yang juga diklaim mengandung zat metana. Sejak saat itu, warga mulai mengeluhkan dampak kesehatan yang ditimbulkan. 

 

Tak main-main pascakebakaran, di jam-jam tertentu, warga mengaku mulai merasakan sesak saat bernapas. 

 

"Sesakji juga, tapi kita kalau ada asap ada masker yang dibagikan, kalau jam 23.00 Wita (pukul 11.00) malam itu mulaimi asap kesini, karna angin kan tidak menentu, sampe-sampe juga tidak bisa maki melihat," keluhnya. 

 

Kata Mawar, kebakaran di TPA Antang ini bukan sekali ini saja, sudah terjadi juga di tahun-tahun sebelumnya. Namun kebakaran saat ini dianggap yang terparah. Warga berharap agar pemerintah dapat membuat solusi konkret menangani masalah serius ini. 

 

(Reza Rivaldy/CP/A)

 

 

 

loading...