Hamsinah, Perempuan yang Berjuang 32 Tahun Entaskan Stunting di Polut

Percepatan penurunan angka stunting tidak bisa hanya ada di pundak para petugas gizi saja.

Hamsinah, Perempuan yang Berjuang 32 Tahun Entaskan Stunting di Polut






KABAR.NEWS

“Umur karirku di profesi ini makin menua. Kalau dihitung masa abdi ku tinggal enam tahun lagi, impian paling besar ketika mengakhirinya adalah tidak lagi ku dapati anak-anak dengan kondisi katai dibawa ke posyandu oleh ibu mereka ”

Oleh : Rahma Amin

Begitu Hamsinah Tahir menggantung harapan di sisa masa abdinya yang tak lagi panjang. Pilu hatinya ia rasakan seketika, ketika mengingat tak lama lagi ia akan tanggalkan pekerjaannya di tengah masih juga ada anak dengan pertumbuhan kerdil dan orang tua yang bebal karena tak acuh akan hal itu.

32 tahun sudah Hamsinah lakoni pekerjaan yang begitu dicintainya, pekerjaan yang membawanya mengerti tentang apa itu humanisme pada anak. Sudah 32 tahun juga ibu tiga anak itu pulang-pergi tiap hari dari Makassar ke Takalar untuk satu tanggung jawab, menjaga gawang agar stunting dan masalah gizi pada anak tidak sampai gol di wilayahnya.

Butuh waktu 1 jam 30 menit dari tempat tinggalnya di Komplek Pao-pao Kota Makassar untuk sampai ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Ko'mara Kecamatan Polong Bangkeng Utara (Polut) Kabupaten Takalar, tempat ia ditugaskan sebagai Pelaksana Gizi.
Jaraknya cukup jauh memang jika mengingat umur Hamsinah tak lagi muda, tetapi semangat dan rasa cintanya pada anak-anak yang ia pantau kelengkapan gizinya masih begitu membara, bak anak muda.

Dan seperti biasa, hari itu, Selasa (24/11) ketika perlahan matahari mulai memunculkan teriknya, meski masih begitu pagi untuk pegawai negeri sipil (PNS) yang lain memulai perjalannya menuju tempat kerja, perempuan kelahiran 1967 itu sudah di atas punggung motornya dan bersiap melaju.

Bagaimana tidak, jarak sepanjang 36,8 km yang cukup jauh itu, bagi Hamsinah tidak boleh jadi alasan ia  tidak tiba tepat waktu. 

“Menghindari macet di perbatasan kota yah harus berangkat lebih awal,” kata perempuan yang rajin mengkonsumsi ramuan untuk menjaga staminanya agar tetap bugar di usianya yang sudah senja, sebab dia adalah petugas gizi yang selalu ada di lapangan.

Saban hari Kepala Puskesmas Desa Ko’mara, Muh. Ruslan Ali memuji kedisiplinan salah satu stafnya itu. Hamsinah kata Ruslan, adalah abdi negara yang punya dedikasi yang tinggi, pekerja keras, dan disiplin ketat.

”Dia selalu yang pertama tiba di kantor, padahal rumahnya jauh melewati satu kabupaten,” kelakar Ruslan.

Hamsinah tidak saja peduli pada cakupan imunisasi anak yang harus terpenuhi di desa itu, namun juga makanan mereka. Setiap kali tiba masa timbang anak, ia bahkan berangkat lebih awal untuk singgah di deretan pedagang buah di Jalan Poros Limbung Kabupaten Gowa, untuk membeli dua tiga sisir pisang yang berguna untuk pencernaan anak.

Sebelum resmi berstatus ASN pada tahun 1988, Hamsinah pernah menempuh pendidikan di Sekolah Pengatur Ahli Gizi selama satu tahun, lalu melanjutkan studinya di Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Panca Sakti di Makassar  di tahun 2007 untuk mendapat gelar S-1. 

Di awal karirnya, sebelum di Puskesmas Ko'mara ia pernah lima tahun bekerja di Puskesmas Kecamatan Polong Bangkeng Utara (Polut) Barulah sejak tahun 1993 ia mengabdi di Puskesmas Ko'mara hingga sekarang.


Bawel Seperti Nenek Kepada Anaknya

Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Nur Cahaya Desa Ko’mara, pagi itu menjadi lokasi jadwal penimbangan dan imunisasi serta pemberian vitamin tambahan untuk anak, dan ibu-ibu yang tengah mengandung.

Lokasi itu sengaja dipilih karena memiliki pekarangan luas serta wahana bermain yang bisa menarik perhatian balita-balita yang merengek saat menunggu giliran untuk ditimbang. Beberapa makanan seperti bubur kacang hijau, buah-buahan dan kue di hidangkan di atas meja kalau-kalau ada anak dan ibunya yang merasa butuh untuk ngemil. Ngemil dengan cara yang sehat tentunya. Meski ruangan di sekolah itu cukup luas, tetapi Hamsinah memilih imunisasi hari itu dilakukan secara outdoor.

”Alhamdulillah matahari pagi ini cukup cerah, tolong adek-adek meja dan kursi diangkat saja keluar, di area terbuka,”perintah Hamsinah kepada kader-kader kesehatan desa.


Meja dan kursi diatur berjarak, alat timbang dan pengukur tinggi badan diletakkan terpisah agar tidak terlalu mepet, begitu pun meja dan kursi administrasi dan petugas yang memberi vitamin dan vaksin.

Hamsinah tahu betul segala kegiatan yang  dihadiri banyak orang, sangat penting untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, menjaga jarak dan memakai masker. Setidaknya di ruang terbuka itu, ibu-ibu akan lebih mudah menjaga jarak antara satu dengan yang lainnya. Bahkan beberapa ibu yang sudah tiba di lokasi namun lupa memakai masker dan membawa sarung pribadi untuk menimbang anaknya, disuruh pulang oleh Hamsinah.

Istri pensiunan pegawai PT. Pabrik Gula yang ada di Takalar itu, tidak saja bawel  dalam menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi secara ketat tanpa kompromi. Sudah menjadi wataknya ia bawel, sebagai wujud perhatiannya kepada kebutuhan gizi anak-anak yang ada di desa itu.

Bawelnya akan meninggi ketika mendapati anak yang berat badannya berkurang, borok di tubuhnya ada dimana-mana akibat alergi pada makanan yang dijajakan sembarang, dibuat instan atau susu formula yang diberikan oleh sang ibu.

Seperti yang terjadi Selasa pagi itu, salah satu ibu harus kena omelan Hamsinah karena anaknya tiba-tiba mengecil, berat tubuhnya jatuh, dan badannya terdapat bentol-bentol merah. Setelah dicecar berbagai pertanyaan oleh Hamsinah, barulah ketahuan kalau ia berhenti menyapih anaknya dan menggantinya dengan susu formula.

“Ibu, sayang ku. ASI itu kualitasnya jauh lebih tinggi dari susu formula. Kenapa disetop, anak ibu kan belum cukup enam bulan. Itulah mengapa badan anaknya memerah, itu bisa jadi karena alergi,” tutur Hamsinah ketika menasehati ibu itu, seperti seorang nenek yang memarahi anaknya karena lalai memberi asupan gizi yang baik kepada cucunya sendiri.

Hamsinah mengutip ilmu yang diperoleh dari webinar Optimalisasi Upaya Pencegahan Gizi dan Penurunan Stunting yang diselenggarakan Jenewa Madani bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi dengan dukungan UNCEF. Lina Marlina, Kasi Surveilans Gizi Kemenkas yang menjadi narasumber webinar menjelaskan salah satu penyebab masalah gizi buruk dan stunting adalah bayi tiak mendapatkan ASI eksklusif dan tingginya konsumsi pangan olahan, apalagi di masa pandemic seperti sekarang.

Webinar Kesehatan Pompa Semangat Hamsinah

Berdasarkan data rekapitulasi pemantauan pertumbuhan balita di enam desa yang ada di Puskesmas Ko'mara Kecamatan Polut Kabupaten Takalar, hingga Oktober tahun 2020 jumlah balita dengan status gizi indeks Tinggi Badan/Umur, kategori sangat pendek terlihat cenderung meningkat dari tahun 2019.


Hingga Oktober 2020, dari total 1,082 balita sasaran, yang  memiliki gizi buruk naik dari 7 menjadi 17 balita, sedangkan yang berstatus gizi kurang naik drastis dari 64 menjadi 109 balita. Sementara berdasarkan  status indeks Tinggi Badan/Umur, balita tercatat dalam kategori sangat pendek berkurang dari 36 menjadi 21, sedangkan dalam kategori pendek bertambah dari 48 menjadi 88.  Sedang status gizi Berat Badan/Tinggi Badan, balita dengan status sangat kurus naik dari 6 menjadi 8, sedangkan yang kurus turun sedikit dari 88 menjadi 34 balita. Balita yang tergolong gemuk berkurang dari 4 pada tahun lalu menjadi hanya 1 balita.

“Datanya naik karena kami rajin turun, sehingga banyak kasus gizi buruk dan stunting yang sebenarnya baru terungkap. Selain karena semangat kerja yang terpompa setelah ikut webinar, juga karena kepala desa dan pemerintah memberi perhatian dengan dukungan anggaran kepada kami agar lebih produktif bekerja,” tutur Hamsinah yang bertugas sebagai Pelaksana Gizi di Puskesmas Ko'mara.

Keberadaan kegiatan webinar yang rutin diikuti oleh Hamsinah dan rekannya menjadi salah satu penyebab. Hamsinah sendiri mengakui itu. Webinar-webinar yang diselenggarakan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan  bekerjasama dengan sejumlah lembaga, seperti Jenewa Madani Indonesia yang di dukung oleh UNICEF, berkontribusi besar membakar semangatnya mengimplementasikan ilmu yang ia dapat melalui kegiatan itu di lapangan.

“Alhamdulillah banyak ilmu-ilmu baru kami dapatkan, yang sangat bermanfaat ketika kami turun di lapangan. Dan karena itu setiap kali kami selesai ikut webinar, saya sendiri seperti dipompa semangatnya untuk mempraktekkan ilmu yang kami dapat ,” tutur Hamsinah menggebu.

Hamsinah menghitung setidaknya ia telah enam kali mengikuti kegiatan webiner terkait gizi anak, diikuti oleh petugas gizi lainnya di seluruh puskesmas yang ada di Sul Sel. Buku catatan yang digunakan menulis materi-materi saat mengikuti webinar tampak sudah mengisi hampir dari seperdua ketebalan buku yang digunakan.

“Saya suka sekali mencatat, ini sudah mau penuh catatan saya selama webinar,” tutur Hamsinah memperlihatkan buku catatan yang tebalnya lebih 2 cm itu. Selama masa pandemi, kata dia webinar menjadi corong baru untuk meningkatkan kinerja, sebab kegiatan pelatihan melalui webinar tidak semasif kala sebelum wabah COVID-19 menyerang.

“Dulu pelatihan ada tetapi tidak sesering di masa pandemi ini. Kalau sekarang lebih banyak webinar, dan itu sangat mendukung pekerjaan. Terhitung sejak Juni kemarin hingga Oktober tak putus-putus saya ikut webinar ini,” tuturnya.

Peningkatan kinerja Hamsinah dan rekan kerja yang lain terlihat dari data pencatatan anak-anak dengan kurang gizi yang ada di Puskesmas Ko'mara. Dulu rekapitulasi data anak dengan masalah gizi belum menjadi fokus perhatian. Sekarang kata Hamsinah sudah ada petugas yang memang khusus menginput data setiap hari terkait perkembangan dan temuan balita yang kurang gizi dan stunting.

Tanggung Jawab Tidak Cuma di Pundak Pelaksana Gizi

“Percepatan penurunan angka stunting tidak bisa hanya ada di pundak para petugas gizi saja. Semua pihak harus ikut memikul tanggung jawab itu bersama-sama, aparat pemerintah setempat, tokoh agama, dan seluruh lintas sektor harus saling bahu membahu agar desa ini zero gizi buruk,” itulah harapan Hamsinah yang selalu ia dengungkan ke warga setempat.

Hanya saja, lanjut Hamsinah, ada satu waktu dan kondisi di mana jadwal imunisasi anak di desa itu ambyar. Yakni ketika masuk musim tanam dan masa panen, di mana para orangtua yang bekerja di ladang atau sawah kerap membawa anak-anak mereka ke kebun, sampai berhari-hari.“ Di masa-masa seperti itu jadwal imunisasi dan pemberian vaksin kepada anak kadang terganggu,”tukasnya.

Termasuk ketika pabrik gula tengah panen, dan para orangtua mengambil kesempatan itu untuk menambah penghasilan ekonomi keluarga dengan menjadi buruh tani di kebun tebu. “Sudah, imunisasi anak pasti dilupa itu,” tuturnya.

Kondisi seperti ini kata dia serupa dengan apa yang pernah ia dengar melalui materi di webinar kesehatan itu. Bagaimana kemiskinan, politik, sosial, dan budaya menjadi akar masalah dan sangat berhubungan dengan penyebab gizi buruk dan stunting pada suatu daerah.

Tetapi Hamsinah tidak putus semangat, walau medan yang dilaluinya cukup berat untuk sampai ke pemukiman warga di atas gunung ditambah kondisi jalan yang berbatu, ia tetap tempuh untuk mengunjungi langsung anak-anak itu, demi satu cita-cita bersama, yakni pencegahan dan penurunan stunting di desa itu.

Ada lagi satu masalah paling fundamental yang dihadapi Hamsinah, adalah soal kultur masyarakat di desa itu yang mengawinkan anak-anak gadisnya di usia belia, menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi.


Sebagaimana pengetahuan yang didapatkan dari webinar menyebutkan bahwa, salah satu penyebab masalah stunting di Indonesia adalah oleh karena tingginya angka pernikahan dini. Semakin gawat karena sebagian masyarakat menganggap itu hal yang biasa.

“Maka dari itu KUA dan imam desa harus paham soal risiko anak perempuan yang menikah di usia dini. Sehingga tidak menikahkan mereka jika belum memenuhi syarat sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang. Tetapi kadang walau imam menolak, orangtua tetap keras untuk menikahkan anaknya,” tutupnya.

Dari beberapa kali Hamsinah menjadi peserta dalam kegiatan webinar, keyakinan akan stunting sebagai masalah yang begitu besar pada tumbuh kembang anak, menurutnya tidak bisa dianggap enteng.

“Betul yang dipaparkan Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Sulawesi dan Maluku, Henky Widjaja dalam diskusi kemarin bahwa, kegagalan penanganan stunting akan menghasilkan generasi yang hilang, generasi yang tidak memiliki daya saing. Jika tidak disiapkan sejak dini maka akan menjadi ancaman bagi target-target strategis pembangunan ke depan,” katanya.


Hamsinah senantiasa mengamalkan ilmu yang ia dapatkan itu kepada warga, untuk bersama-sama mencegah stunting dengan memperbaiki pola hidup sehat, memperbanyak mengkonsumsi makanan bergizi, dan pentingnya akses sanitasi yang layak yang harus dimiliki setiap keluarga.