FPI Makassar Bantah Terlibat Bubarkan Massa Penolak Rizieq

Sebut polisi keliru

FPI Makassar Bantah Terlibat Bubarkan Massa Penolak Rizieq
Ilustrasi FPI. (Pinterest)






KABAR.NEWS, Makassar - Front Pembela Islam (FPI) Kota Makassar membantah pernyataan polisi soal pelaku pembawa sajam yang membubarkan massa penolak Rizieq Shihab, ditangkap di sekretariat FPI Makassar.


Pelakasana Tugas Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) FPI Makassar, Firdaus, menegaskan pernyataan polisi tersebut merupakan hal yang keliru. 


Menurut dia, Riswandi yang tertangkap membawa sajam bukan diamankan di Sekretariat FPI Makassar melainkan di sekertariat salah satu Ormas di kawasan Jalan Sungai Limboto.


"Maaf berita atau informasinya salah di sekretariat Jalan Sungai Limboto bukan sekretariat FPI, tapi 
sekretariat Ormas lain, kalau sekretariat FPI Jalan Balana 2 dekat Jalan Lure dan Jalan Veteran," kata Firdaus dalam keterangan tertulis yang diterima KABAR.NEWS, Kamis (3/12/2020).


Firdaus juga tegas membantah bahwa FPI Kota Makassar maupun pengurus di tingkat Provinsi Sulsel tidak terlibat atas insiden pembubaran massa penolak Rizieq di Monumen Mandala pada Selasa, 1 Desember 2020.


"FPI Kota dan Provinsi Sulawesi Selatan, alhamdulillah tidak ada yang terlibat," klaim dia.


Diberitakan sebelumnya, pelaku Riswandi menurut polisi membawa senjata tajam dan membusur salah satu peserta demo menolak kedatangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab di Monumen Mandala.


Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo mengatakan, tersangka diamankan di sekretariat FPI Makassar di Jalan Limboto. Dari penangkapan itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang yang dianggap berbahaya.


"Info awal sementara 1 tersangka itu diamankan di sekret FPI Jalan Sungai Limboto dan saat dilakukan penangkapan ditemukan benda-benda berbahaya seperti katapel, mata panah, bom molotov, air keras," kata Ibrahmi melalui keterangan tertulisnya, Kamis (3/12/2020).


Kata Ibrahim, kini pihaknya juga masih terus mendalami tujuan pelaku yang menyimpan sejumlah barang barang berbahaya tersebut. "Saat ini sedang didalami tujuan dari tersangka mempersiapkan peralatan tersebut," ungkapnya.


Barang bukti bom molotov yang disita, masih kini masih diselidiki polisi. Riswandi pun dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 351 ayat 2 tentang penganiayaan, juncto Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 pasal 2 ayat 1 dengan ancaman hukuman di atas dua tahun penjara.


Penulis: Reza Rivaldy/B