Figur Pilihan KABAR.NEWS: Tantangan Kebijakan Dollah Mando di Masa Pandemi

Masa pandemi Virus Corona (Covid-19) menjadi ujian terberat para pemimpin di Daerah. Selain harus berjibaku menekan laju penularan, penyelamatan perekonomian juga harus dikedepankan.

Figur Pilihan KABAR.NEWS: Tantangan Kebijakan Dollah Mando di Masa Pandemi
Bupati Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Ir. H. Dollah Mando (kiri). (IST)






KABAR.NEWS, SIDRAP - Masa pandemi Virus Corona (Covid-19) menjadi ujian terberat para pemimpin di Daerah. Selain harus berjibaku menekan laju penularan, penyelamatan perekonomian juga harus dikedepankan. Sembari menanti hadirnya vaksin, maka tak banyak pilihan bagi mereka. Memilih melawan ataukah berdampingan dengan virus adalah pilihan sulit. Hanya buah kebijakan terbaik yang mampu menyelamatkan jutaan nyawa.
 

Awal 2020 menjadi masa-masa sulit yang harus dihadapi para pemimpin Daerah di Indonesia. Karena tak semua pendahulu mereka dihadapkan pada kondisi seperti ini. Ancaman virus mematikan di depan mata. Banyak dari mereka bahkan telah bertumbangan. Bertahan tanpa persiapan adalah sebuah kemustahilan.
 

Masalah inilah yang mendasari Tim riset media online KABAR.NEWS memilih para figur Kepala Daerah untuk diabadikan rekam jejaknya saat masa pandemi. Kisah dan perjuangan mereka saat digempur Virus Corona menjadi layak diabadikan dalam jejak tertulis. Selain menjadi investasi masa depan, juga akan menjadi warisan edukasi bagi generasi yang akan datang.


Salah satu figur pilihan kami adalah Bupati Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Ir. H. Dollah Mando. Ada beberapa poin pertimbangan redaksi mengapa kiprah Bupati yang telah matang di birokrasi ini layak direkam jejak kepemimpinananya dalam penanganan virus. Sehingga nantinya akan diterbitkan dalam buku cetak maupun e-book: "Siaga & Bertahan di Masa Pandemi Covid-19".

Utamakan Psikologis Warga

Dollah Mando dikenal oleh masyarakat sebagai Bupati yang taat beribadah dan bersahaja. Pengajian dan Dzikir rutin dilaksanakan di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati. Soal birokrasi juga tak seluruhnya harus dituntaskan di kantor. Ada saat di mana urusan administrasi bisa dilakukan di banyak tempat. Dan Dollah Mando juga sering melaksanakannya di Masjid. Hal inilah yang dilihat kru KABAR.NEWS saat menemui mantan Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Sidrap tersebut di Masjid Rujab, Jl. Lanto Daeng Pasewang, Kecamatan Maritenggae, Kamis (24/9/2020). 

Bupati Sidrap, Dollah Mando saat sesi wawancara dengan KABAR.NEWS
Bupati Sidrap, Dollah Mando saat sesi wawancara dengan KABAR.NEWS

Usai melaksanakan Salat Maghrib, tampak salah seorang warga menyerahkan beberapa berkas kepada sang Bupati untuk ditandatangani. Mengenakan peci hitam dengan sarung dan kemeja putih bermotif warna emas, Bupati Dollah Mando menyambut hangat setiap jemaah Masjid. Meski usianya tak muda lagi, namun semangatnya untuk membangun Sidrap tak pernah redup. Termasuk saat Virus Covid-19 menginfeksi daerah yang dipimpinnya.

“Menerapkan protokol kesehatan terus, kemudian selanjutnya operasi-operasi di luar baik yang dilakukan oleh pemerintah Desa, Kelurahan, Kecamatan, kemudian di tingkat Kabupaten untuk sementara ini supaya tidak menebar itu Virus Corona langkah awal yang kami lakukan ini yaitu karantina atau isolasi artinya ada dua kita siapkan yang pertama di rumah susun Kabupaten Sidrap kemudian di RS Arifin Nu'mang, Rappang,” kata Bupati bergelar Insinyur Pertanian jurusan Sosial ekonomi (Sosek) tersebut saat berbincang dengan KABAR.NEWS.

Bagi Dollah Mando, pandemi tak hanya soal kesehatan fisik, tetapi kesehatan jiwa juga harus mendapat perhatian yang sama. Karena itu, pendekatan kebijakannya dalam penerapan protokol kesehatan tak hanya berfokus pada penegakan aturan. Ada faktor psikologis yang juga harus dikedepankan. Pria yang karib disapa pak Haji ini bahkan sempat mendapat perhatian kala mengizinkan warganya yang masih dalam proses karantina untuk pulang dan melakukan isolasi mandiri di rumah. 

Keputusan Dollah Mando saat itu termasuk berani. Kehadiran virus baru yang mengancam pastilah membuat panik dan bingung. Namun Dollah Mando paham apa yang harus dilakukan. Tentunya dengan mengedepankan pertimbangan ahli. Warga diberikan pilihan untuk isolasi mandiri dengan kesepakatan pengawasan dan penerapan protokol ketat. 

“Jadi maksudnya ini masyarakat yang ada di sana itu kita berikan bimbingan untuk kedepankan protokol kesehatan. Namun demikan setelah kita karantina baru sekitar kurang lebih tiga hari masyarakat ini merasa seperti dipenjara, dia stres. Waktu saya bertanya kepada Dinkes apakah memang kalau orang dikarantina begini bisa stres? Akhirnya Kadis Kesehatan menjelaskan kepada saya bersama Pak Sekda, bisa (Stres) jadi waktu itu saya keluarkan semua dengan mengimbau untuk isolasi mandiri di rumahnya masing-masing. Dan kita imbau jangan sekali-sekali tinggalkan rumah, kemudian gunakan protokol kesehatan,” ujar Pria kelahiran Lawawoi, Sidrap, 2 Desember 1950 ini.

Hasilnya terlihat, warganya merasa tak dikekang, namun mulai membiasakan diri dengan rutin menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M). Operasi penerapan lalu gencar dilakukan dengan melibatkan semua pihak.

“Jadi sistem pemberian makanan segala macam yang bersangkutan harus disiplin di rumahnya masing-masing. Tapi Alhamdulillah di Kabupaten Sidrap ini, informasi dan edukasi yang kita berikan kepada masyarakat, Alhamdulillah sampai sekarang mulai menunjukkan hasil,” ujarnya.

Sidrap Selalu Punya Cadangan Pangan

Sidrap sejak dulu memang dikenal sebagai penghasil beras dan telur. Pengalaman Dollah Mando saat menjabat Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Sidrap tentunya berperan besar dalam buah kebijakannya.

Bupati Sidrap, H Dollah Mando saat menyaksikan langsung aksi pengendalian hama tikus di Kelurahan Rijang Pittu, Kecamatan Maritengngae, Selasa (7/7/2020). (Instagram)

Bupati Sidrap, H Dollah Mando saat menyaksikan langsung aksi pengendalian hama tikus di Kelurahan Rijang Pittu, Kecamatan Maritengngae, Selasa (7/7/2020). (Instagram)

Baginya, Pertanian di Sidrap yang melimpah akan banyak membantu Daerah lain dalam kebutuhan pangan. Terutama di tengah ancaman krisis saat masa pandemi.

 

“Itulah kemudian menyangkut masalah pemulihan ekonomi di Sidrap ini, Alhamdulillah di Sidrap ini terkenal dengan lumbung pangan, jadi sekarang ini orang-orang Sidrap walaupun tidak ada Covid-19 selalu ada persiapan untuk makanan pangannya. Terutama kalau dia habis panen dia sudah simpan kira-kira sekitar 3 Kwintal saya harus makan sampai persiapan panen lagi. Jadi selalu ada persiapan,” ujarnya.

 

“Kemudian di samping itu kita menggerakkan masyarakat Sidrap ini untuk bagaimana caranya masyarakatnya ini memanfatkan pekarangannya, kemudian di lahan sawah dia menanam padi kemudian palawija. Begitu juga lahan kering jadi untuk pemulihan ekonomi di Sidrap ini boleh dikata berjalan dengan baik karena Sidrap ini yang paling diandalkan adalah padi. Tapi Alhamdulillah sudah ada 3 komoditi di sini yang betul-betul bisa dimanfaatkan. Jadi bukan hanya orang Sidrap tapi orang timur bisa dibantu seperti beras  telur dan jagung. Inilah yang menyebabkan ekonomi masyarakat Sidrap ini Alhamdulillah cukup baik. Kemudian menyangkut masalah ekonomi juga di masa Covid ini rata-rata warung-warung untuk makan Alhamdulillah sudah terbuka semua,” lanjutnya.

Jaga Koordinasi dengan Forkopimda

Dollah Mando sadar segala kebijakannya dalam menekan laju penularan Covid-19 tak akan maksimal tanpa keterlibatan semua pihak. Termasuk Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Masalah besar terkait pandemi akan menemukan solusi jika koordinasi yang baik dapat terjalin.

 

“Menyangkut masalah koordinasi dengan Forkopimda Alhamdulillah kita di Sidrap ini hampir semua permasalahan yang ada kita tangani bersama Forkopimda dengan baik, dengan adanya pertemuan yang kita lakukan satu kali satu bulan tergantung dari permasalahan yang muncul di masyarakat. Sehingga dengan demikian hampir semua permasalahan itu kita bisa cari solusinya,” ujarnya.

Menjawab Keluhan dengan Keputusan Tepat

Dollah Mando juga berkisah soal kebiasaannya dalam mengunjungi warga. Menyerap keluhan dan mengambil keputusan dalam waktu yang singkat harus dengan pertimbangan tepat. Termasuk saat awal-awal warganya terindikasi positif Covid-19. Pengalamannya yang matang sebagai birokrat membuatnya mampu menyelesaikan setiap persoalan warga dengan baik. 


Termasuk saat ia dituntut oleh warga yang resah di lokasi karantina. Sebagian warga merasa stres jika tak menjalankan aktivitas.

Bupati Sidrap Dollah Mando foto bersama warga sebelum masa Pandemi. (Instagram)

Bupati Sidrap Dollah Mando foto bersama warga sebelum masa Pandemi. (Instagram)

Mereka dihadapkan pada tuntutan hidup, hingga tanggungjawab keluarga. Dollah Mando harus benar-benar bijak dalam mengambil keputusan saat itu.


“Sebenarnya kita tidak ada persiapan, jadi waktu itu saya hanya dari rumah langsung ke lokasi isolasi mandiri. Jadi masyarakat waktu itu keberatan diisolasi mandiri dan meminta untuk dikeluarkan dari tempat isolasi. Masyarakat bilang keluarkan kita dari sini pak Bupati, bukan kita tambah sehat tapi tambah sakit. Kenapa karena perlakuan di rumahnya kan enak-enak. Tidur bersama keluarga segala macam. Akhirnya waktu itu saya bilang Tunggu dulu saya pergi dulu bertanya.”


“Kalau memang ada perasaan stres yang ditimbulkan oleh isolasi mandiri ini, saya keluarkan kamu. Tapi ada catatannya itu ada perjanjian saya dengan pemerintah kalau misalnya bapak ibu tidak patuhi ini akan dikembalikan ke sini. Alhamdulillah dipatuhi. Malah waktu saya melakukan operasi di pasar, kebetulan ada penjual emas suami-istri dia bilang kalau kita tidak dikeluarkan mati kita, malah mau bayar utang tidak ada pendapatan. Sehingga dia berterima kasih sekali sama saya di pasar. Kerena dia bersyukur kita keluarkan dari isolasi mandiri,” ujar Mantan Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) tersebut.

Perhatian Khusus untuk Warga Tolotang

Dollah Mando punya banyak tantangan dalam menjalankan kebijakan. Khususnya untuk wilayah-wilayah yang masih memegang teguh kepercayaan dan adat istiadat. Seperti yang ia alami saat melakukan sosialiasi di Wilayah Amparita, Sidrap. Warga Tolotang yang mayoritas menganut kepercayaan turun temurun masih enggan memakai masker. 


“Tapi ada yang paling menarik, ini ada satu warga kita warga Tolotang, warga ini tidak ada yang pakai masker. Alhamdulillah sampai sekarang tidak kita dengar bahwa warga tolotang ini meninggal karena Corona. Bahkan saya pernah ke situ tidak ada pakai masker, saya tidak tahu apakah karena kepercayaannya atau bagaimana, akhirnya tidak ada yang pakai masker sampai sekarang,” katanya.


“Jadi gerakan masker itu terjadi di kota-kota besar seperti di kabupaten dan lain-lain.”


Tak hanya pendekatan formal yang dilakukan oleh Dollah Mando, pendekatan kultural tetap dilakukan agar warga benar-benar mampu menerapkan protokol kesehatan. Meski belum sepenuhnya dipatuhi warga, namun Dollah Mando terkejut dengan kesehatan warga Tolotang yang tetap terjaga meski di tengah ancaman virus.

 

“Tetap kita berikan sosialisasi kepada masyarakat bahwa  penyakit Virus Corona ini berbahaya. Jadi tetap kita berikan penyuluhan. Apakah dia dengar atau tidak terserah mereka. Jadi saya kasih tahu bahwa kewajiban pemerintah menyampaikan kalau anda tidak lakukan bukan kesalahan kita berarti kesalahan anda. Tapi barangkali (mereka) punya analisa dan kepercayaan juga. Mungkin karena kepercayaan, dan ada kekuatan-kekuatan gaibnya yang mereka percaya, itu yang kita tidak tahu,” ujarnya.

Kekuatan Doa

Mobilitas yang tinggi sebagai kepala Daerah membuat Dollah Mando selalu dituntut untuk menjaga fisik tetap prima. Apalagi di masa Pandemi yang membuat tanggungjawabnya sebagai pejabat publik semakin bertambah. Dollah Mando selalu rutin berinteraksi dengan siapa saja.

Bupati Sidrap, H Dollah Mando (tengah). (INT)

Bupati Sidrap, H Dollah Mando (tengah). (INT)

Mengedepankan protokol ketat dan tak mengabaikan ancaman Virus. Ia percaya kekuatan doa tetap berperan dalam menunjang kesehatan. Mobilitas yang tinggi tak pernah membuatnya melewatkan salat 5 waktu.

 
“Jadi saya selalu katakan kepada masyarakat biar kau kerja 3-4 orang tetap jaga jarak, cuci tangan kemudian pakai masker ditambah lagi satu kekuatan yaitu kekuatan doa. Jadi saya tanya kepada masyarakat, kalau kau laki-laki selamatkan dirimu, istrimu dan anak-anakmu dari Covid-19. Ini untuk keluarga.”

 

“Jadi karena saya ini bupati, luas sekali saya punya doa. Jadi saya mau menyelamatkan diriku, istriku dan anak-anakku kemudian masyarakat Sidrap, kemudian masyarakat Sulsel, kemudian Indonesia dan yang terpenting lagi, dunia. Terutama kaum muslim dan muslimah. Ini doa saya tiap hari. Dan saya lakukan 3 kali sehari. Menyangkut soal kesehatan saya, ya Alhamdulillah saya juga minta sama Tuhan biar selalu diberi kesehatan. Jadi kita berdoa dan meminta sesuai kebutuhan kita, jangan minta yang macam-macam.Jadi dzikir kita kepada tuhan tidak pernah lepas,” ujarnya.

 

Tetap Tenang dan Jangan Panik

Tidak semua kepala daerah melalui masa sulit pandemi seperti saat ini. Dollah Mando sadar betul dibutuhkan ketenangan untuk menjaga stabilitas daerah yang dipimpinnya. Agar masalah kesehatan dapat berjalan beriringan dengan proses pemulihan ekonomi bagi warga.

 

“Setiap Bupati lain kebijakannya, kalau saya itu tenang saja kita hadapi dan berupaya mencari cara untuk jalan keluar kemudian kita berdoa karena kalau kita sudah mulai tidak tenang. Bisa-bisa kita tidak tidur. Bisa saja orang yang kena virus Corona nyenyak tidurnya, kita tidak. Lama-lama itu penyakit pindah sama kita. Jadi jangan panik,” katanya. 

 

Menghadapi kondisi dan kebiasaan yang serba baru membutuhkan inovasi yang tepat bagi seorang Pemimpin.Selain harus menjadi contoh yang baik bagi masyarakatnya, Dollah Mando juga rutin menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat selama menjalankan Pemerintahan.


“Kemudian selalu kita berinovasi mencari solusi kalau saya menghadapi ini selalu berdoa dan jaga kesehatan. Caraku menjaga kesehatan ada 2. Jadi kalau saya di lapangan kurang enak saya punya perasaan harus konsumsi obat, jangan nanti parah baru makan obat. Kalau Tidak saya lakukan pencegahan. Setiap saya keluar ke lapangan, panas saya punya badan, saya langsung makan obat. Jadi pencegahanya itu yang saya pakai terus.Kemudian untuk kebugaran tubuh, saya pakai vitamin. Terutama vitamin C.” 

 

“Jadi itu yang paling penting tadi, jaga kesehatan, rajin minum obat kemudian berdoa. Jadi kalau itu diterapkan Insya Allah kita bebas dari Covid ini.  Artinya tindakan saya ini juga berdasarkan saran dokter karena sarannya dokter bahwa memang jangan stres. Jadi awalnya saya takut dengan Virus Corona karena penyakit baru. Tapi sekarang ini saya punya target satu tahun saja ini virus ditakuti masyarakat setelah itu penyakit ini sama dengan penyakit malaria, kolera dan dianggap biasa,” pungkasnya.