Figur Pilihan KABAR.NEWS: Kaswadi & Kesigapan Soppeng Deteksi Corona

Apresiasi Gubernur Sulsel terhadap bupati soppeng

Figur Pilihan KABAR.NEWS: Kaswadi & Kesigapan Soppeng Deteksi Corona
H. Andi Kaswadi Razak (kanan) saat menerima kunjungan KABAR.NEWS. (IST)






KABAR.NEWS, SOPPENG - Masa pandemi Virus Corona (Covid-19) menjadi ujian terberat para pemimpin di Daerah. Selain harus berjibaku menekan laju penularan, penyelamatan perekonomian juga harus dikedepankan. Sembari menanti hadirnya vaksin, maka tak banyak pilihan bagi mereka. Memilih melawan ataukah berdampingan dengan virus adalah pilihan sulit. Hanya buah kebijakan terbaik yang mampu menyelamatkan jutaan nyawa.

Awal 2020 menjadi masa-masa sulit yang harus dihadapi para pemimpin Daerah di Indonesia. Karena tak semua pendahulu mereka dihadapkan pada kondisi seperti ini. Ancaman virus mematikan di depan mata. Banyak dari mereka bahkan telah bertumbangan. Bertahan tanpa persiapan adalah sebuah kemustahilan.

Masalah inilah yang mendasari Tim riset media online KABAR.NEWS memilih para figur Kepala Daerah untuk diabadikan rekam jejaknya saat masa pandemi. Kisah dan perjuangan mereka saat digempur Virus Corona menjadi layak diabadikan dalam jejak tertulis. Selain menjadi investasi masa depan, juga akan menjadi warisan edukasi bagi generasi yang akan datang.

Salah satu figur pilihan kami adalah Bupati Kabupaten Soppeng 2014-2020, H. Andi Kaswadi Razak. Ada beberapa poin pertimbangan redaksi mengapa kiprah Kaswadi yang merupakan Ketua DPD II Golkar Soppeng tersebut layak direkam jejak kepemimpinananya dalam penanganan virus. Sehingga nantinya akan diterbitkan dalam buku cetak maupun e-book: "Siaga & Bertahan di Masa Pandemi Covid-19".

Daerah Pertama di Sulsel yang Miliki Tes PCR

Saat beberapa daerah masih gagap menyikapi terjangan Virus Corona, Kaswadi sudah lebih dulu bersikap siaga. Instruksi Presiden Jokowi tentang pentingnya deteksi dini mampu direspons cepat. Pemkab Soppeng langsung membeli alat Tes Covid-19 dari Jerman. Kaswadi enggan Daerah yang dipimpinnya bergantung dengan alat Tes Covid-19 Provinsi dan Pusat. Pembelian alat Polymerase Chain Reaction (PCR) oleh Pemkab Soppeng pada 22 April 2020 membuat Kota Kalong—julukan Soppeng menjadi Daerah pertama untuk Tingkat Kabupaten/Kota di Sulsel yang memiliki alat Tes PCR.

“Soppeng paling duluan (punya Tes PCR). Saat itu pemikiran saya, Kepala Negara sudah kasih kode, virus ini sangat berbahaya. Kita harus bersikap cepat dan tepat. Artinya antisipasi dini lewat Tes mendesak dilakukan. Saya bilang, yang penting kau jual alat tesnya, tak perlu tanyakan harga. Karena keselamatan warga saya yang paling utama,” ujar Kaswadi saat berbincang dengan KABAR.NEWS di kediaman pribadinya, di Soppeng, Rabu (7/10/2020).


Keputusan Kaswadi saat itu cukup cepat. Sebab, pembelian alat PCR hanya berselang 3 pekan pascakasus positif pertama warga Soppeng diumumkan, tepatnya 2 April 2020. Andi Dulli—sapaan akrab Kaswadi menuturkan, keputusannya bukan tanpa pertimbangan.

Salah satu momen saat Kaswadi disambut oleh warganya. (Dok;Pemkab Soppeng)

Sebaran Virus yang mulai merambah ke berbagai Kabupaten/Kota membuat korelasi penanganan antar Daerah ke depannya akan saling berkaitan. Kesigapan Soppeng bahkan membuat Kabupaten tetangganya seperti Bone, Wajo, hingga Sidrap ikut memanfaatkan alat PCR tersebut.

“Juga layani 3 Kabupaten, Bone, Soppeng,  Sidrap,” ujar Kaswadi.

Bagi Kaswadi, keberadaan alat PCR di eks Rumah Sakit Ajjappange, yang terletak di Jl. Samudra, Kecamatan Lalabata tersebut, tak hanya bersifat sementara. Baik masa awal pandemi maupun pascapandemi nantinya kebutuhan alat tes usap akan selalu ada.

“Nanti selesai, saya punya Rumah Sakit yang lengkap fasilitasnya, jadi Rumah Sakit di Soppeng tidak lagi bergantung penuh dengan Daerah lain,” tuturnya.

Dipuji Gubernur 

Kebijakan Kaswadi bahkan mendapat pujian dari Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. Saat berkunjung ke Soppeng pertengahan April 2020, Nurdin mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Kaswadi. Sebab, keberadaan alat PCR tak hanya akan membantu Tes Covid-19 bagi Daerah tetangganya saja, tetapi juga turut menunjang Kota Makassar dalam memaksimalkan uji swab.


Kemampuan Tes PCR milik Soppeng sendiri mampu mengopresikan 96 sampel hanya dalam waktu 2 jam. Kaswadi mengaku jejaring relasinya cukup berperan dalam kesigapannya dalam pengadaan alat Tes PCR.

Kaswadi (kiri) bersama Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. (IST)

Pengalamannya sebagai mantan Ketua Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang & Distribusi Indonesia (ARDIN) ikut berperan membantu Kaswadi dalam menjangkau alat hingga ke Jerman.


“Saya kan dulu mantan ketua ARDIN, ada jaringan yang bisa komunikasi,” katanya.


Kesigapan Kaswadi dalam penanganan Covid-19 di Soppeng membuat Daerah tersebut tak pernah kesulitan dalam kebutuhan alat medis. Baik disinfektan hingga Alat Pelindung Diri (APD) untuk Tenaga Kesehatan selalu tersedia.


“APD, disinfektan, tidak pernah langka di Soppeng,” ujarnya.

Sigap di Awal Jadi Kunci Penanganan

Kaswadi tak ragu menyebut terkait kesiapan Soppeng sejak awal Pandemi. Menurutnya, langkah antisipasi yang dilakukan pihaknya tak sekadar pernyataan semata. Fakta kebijakan menjadi tolak ukur utama. 

Antisipasi sejak awal pandemi telah diterapkan dengan pengawasan ketat di seluruh pintu masuk wilayahnya. Termasuk mengedepankan penerapan protokol kesehatan. Baginya, pandemi dan nasehat orang tua terdahulu punya korelasi yang kuat.

“Landasan utama saya bisa dilihat dari kebijakan antisipasi dini yang sudah kami lakukan. Saya jujur sejak awal saya katakan sudah siap, kita tidak gagap sejak awal Corona di Sulsel. Orang tua kita sudah mewariskan, di tangga rumah (panggung Bugis-Makassar) sudah disediakan wadah air dan alat pembersih. Sebenarnya sejak dulu kita sudah diajarkan tentang pola hidup bersih, sehat. Dan setelah terjadi pandemi seperti ini, kebersihan dan ajaran orang tua kita terdahulu harus kembali kita gaungkan,” ujarnya.

Dengan melibatkan tokoh masyarakat dan para orang tua di Soppeng, sosialisasi dan penerapan protokol kesehatan juga berjalan efektif. Pendekatan adat maupun nasehat para orang tua bagi Kaswadi, adalah kunci utama berjalannya edukasi yang diterapkan Pemerintah. 

Kekompakan Kaswadi bersama Forkopimda. (IST)

Keputusan cepat dan tepat saat mendatangkan alat Tes Swab sangat bermanfaat untuk mendeteksi penularan Virus. Kaswadi menerapkan kebijakan ‘kepung’ kontak yang terindikasi tertular dengan melakukan Tes massal. Baginya, kebijakan tak sekadar koordinasi dan penegakan aturan, tetapi mengedepankan pertimbangan ilmiah sangat penting. Dengan memaksimalkan protokol kesehatan dan pendekatan edukasi, masyarakat akan merasa aman dan paham apa yang harus dilakukan. Sehingga, aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa harus dihantui kepanikan.

“Kalau misalkan ada positif satu, kita tracing kontaknya berapa. Minimal 20-30 bisa langsung kita kasih tuntas. Karena alat Tes kita dalam sehari bisa mengakomodir banyak orang. Kita Kepung kontak pasien yang sudah dinyatakan positif. Kita Santai saja, dan jangan pernah panik. Karena ilmiahnya kita sudah tahu. Intinya masyarakat jangan ragu beraktivitas, kalau sakit dirawat,” katanya.

Pilih Perbup Ketimbang Perda Wajib Masker

Situasi pandemi dan jumlah penularan yang meningkat membuat Kaswadi dituntut melahirkan kebijakan cepat. Kebijakan yang dibuat tentunya didasari pertimbangan yang matang, sehingga masyarakat mampu menerjemahkan aturan dengan baik. Salah satu keputusan cepat dan tepat Kaswadi adalah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Soppeng Nomor 31 Tahun 2020 tentang Kabupaten wajib masker.

Perbup tersebut mulai masif disosialisasikan 28 Juni 2020. Saat banyak Kabupaten di Sulsel masih tarik-ulur terkait aturan dan sanksi wajib masker. Kaswadi justru telah melangkah lebih dulu. Menurutnya, situasi pandemi membuatnya harus bertindak cepat. Pertimbangan ilmiah, sosial-kultural masyarakat, hingga tanggungjawab menjaga perputaran ekonomi, menjadi tantangan tersendiri baginya untuk mengeluarkan kebijakan.

Kaswadi Razak. (Pemkab Soppeng)

Perbup dipilih karena kewenangan pembentukannya berada di tangan Kaswadi sebagai Bupati. Jika membandingkannya dengan Peraturan Daerah (Perda), maka proses pengesahannya membutuhkan waktu yang panjang. Karena harus melalui proses usulan hingga pengesahan di DPRD setempat. Sementara, situasi dan kondisi di tengah pandemi membutuhkan kebijakan cepat bagi seorang Pemimpin.

“Soppeng Kabupaten yang lebih dulu terapkan wajib masker lewat Perbup. Perbup saya terbitkan karena prosesnya tak membutuhkan waktu yang lama ketimbang Perda. Selain itu aturan dalam Perbup lebih humanis soal sanksi. Karena yang kita jaga tidak hanya aturan ketat dan sanksi, tapi menjaga aktivitas dan ekonomi masyarakat juga penting. Sehingga sosialisasi dan aturan protokol kesehatan tetap berjalan tanpa mengabaikan ekonomi,” kata Kaswadi.

Pandemi, dan Tantangan Kotak Kosong di Pilkada

Kondisi Pandemi dan Pilkada juga dilalui Kaswadi dengan perhatian serius. Di akhir September 2020, Kaswadi telah resmi cuti sebagai Bupati. Pilkada Soppeng 2020 menjadi perhatian, karena lawan petahana adalah kotak kosong. Kaswadi dan kandidat Wakilnya, Lutfi Halide, adalah mantan rival pada Pilkada Soppeng 2015 lalu. Kaswadi bersama wakilnya, Supriansa, kala itu melenggang sebagai pemenang. Dengan bersatunya, Kaswadi dan Lutfi melawan kotak kosong di Pilkada 2020, peluang kemenangan mereka terbuka lebar. Meski demikian, Kaswadi enggan jemawa.

Rutinitas Kaswadi menyapa warga. (Dok;Facebook Kaswadi Razak)

Bagi Kaswadi, tantangan kotak kosong di Pilkada bukan berarti tak ada figur yang berani berkompetisi. Ia enggan sesumbar telah memastikan kemenangan. Menurutnya, ada tanggungjawab lebih besar yang harus dikedepankan, yakni kewajibannya menjaga masyarakat Soppeng terhindar dari Virus. Karena itu, rutinitasnya saat berkunjung ke masyarakat adalah tetap intens mensosialisasikan protokol kesehatan berjalan dan diterapkan dengan baik.

“Awal pandemi kan banyak yang remehkan. Kalau saya justru sudah pikirkan bagaimana kemungkinan terburuk. Artinya harus selalu ada antisipasi, dan apapun yang terjadi kita sudah harus siap. Begitupun Pilkada, lawan kotak kosong bukan berarti saya hebat dan pasti menang. Yang saya lakukan sebagai pemimpin adalah berbuat, tentunya dengan pertimbangan yang jelas. Saat saya diwawancara di TV, kebijakan saya dianggap luar biasa. Saya bilang, keliru kalau seperti itu. Sudah jadi kewajiban Pemerintah itu melindungi masyarakat. Yang luar biasa itu kalau Kepala Daerah yang tidak bisa berbuat,” tegasnya.

Meja Kaswadi di Lapangan

Sejak dulu, Kaswadi dikenal sebagai penghobi motor. Menyusuri berbagai titik Wilayah dataran rendah ke tinggi sudah menjadi kebiasaan Kaswadi sejak muda. Hobinya tersebut tetap terjaga hingga ia menjabat sebagai Bupati. Kesederhanaan dan kebiasaannya dalam mengunjungi warga tak pernah terhalang oleh protokoler keamanan Kepala Daerah. Kaswadi punya alasan mengapa lebih memilih mengendarai motor ketimbang berkendara mobil dengan pengawalan ketat.

“Kalau naik motor itu kita tidak ada beban, tidak ada halangan melihat langsung kondisi riil masyarakat. Dengan naik motor bagi saya akan semakin memperkuat mental. Melatih kita untuk sabar, dan lebih peka terhadap situasi di depan. Dengan naik motor saya terus melatih insting dan membiasakan diri saya dalam banyak hal, termasuk dalam menjalankan Pemerintahan,” katanya.

Bagi masyarakat Soppeng, bertemu Kaswadi sangat mudah. Aturan keamanan ketat tak berlaku di rumah maupun kantor. Justru akan lebih sulit menemui Kaswadi di kantor karena mobilitasnya yang tinggi saat mengunjungi warga menggunakan motor.

Rutinitas keliling Soppeng Kaswadi bersama rombongan. (Kaswadi Razak)

Alasannya sangat sederhana, solusi permasalahan masyarakat tak butuh birokrasi yang panjang. Peran pemimpin sebagai pelayan benar-benar diterapkan seorang Kaswadi.

“Saya memposisikan diri sebagai pelayan. Perilaku dan perbuatan saya adalah melayani masyarakat saya. Makanya di ruanganku tidak ada meja kerja, karena mejaku di lapangan. Kalau ada masalah di masyarakat kan prosesnya panjang, karena harus melalui  RT/RW, Desa, Kecamatan, baru sampai ke Bupati. Saya menangkap itu dengan menjemputnya langsung, karena kalau sudah ada Bupati di lapangan bisa langsung selesai,” ujarnya.

Menurut Kaswadi, kondisi pandemi juga sedikit-banyak akan membutuhkan perhatian dan dukungan seorang pemimpin. Tak hanya soal kesehatan, tetapi dukungan langsung juga sama pentingnya. Masyarakat yang sakit sangat butuh dukungan semangat agar lekas sembuh. Kaswadi punya kebiasaan seperti itu dengan langsung datang mensuport warganya yang sakit.

Air Bersih yang Merata untuk Warga

Ada banyak misi besar Kaswadi untuk membangun Soppeng lebih maju. Beberapa janjinya saat Pilkada 2015 lalu telah ia tuntaskan. Termasuk merampungkan pembangunan Masjid Agung Darussalam, hingga memaksimalkan pelayanan dan alat kesehatan RSUD Soppeng.

Kaswadi dan kebiasaanya yang sederhana di Rumah warga. (IST)

Tangan dingin Kaswadi selama memimpin juga sejalan dengan visi-nya menyatukan seluruh potensi warga Soppeng di perantauan untuk bersatu mengembangkan tanah kelahiran mereka. Di antara janji yang telah tertunaikan, Kaswadi masih punya satu dari banyak harapan besar untuk mengembangkan penuh Daerah yang dipimpinnya. Salah satunya soal kebutuhan air bersih yang merata bagi seluruh masyarakat.

“Yang ingin saya tuntaskan itu soal air bersih. Karena sekarang belum merata di masyarakat.”

Kaswadi sudah paham betul karakter Daerah berjuluk Bumi Latemmamala itu. Ada begitu banyak langkah-langkah kebijakan yang telah disiapkan, baik saat pandemi maupun pascapandemi. Kebijakannya jelas terukur, apalagi dalam menyesuaikan kondisi kebiasaan normal yang baru. Belum lagi usaha kerasnya memaksimalkan "mesin" birokrasi dalam memulihkan perekonomian Soppeng. Mengingat ancaman resesi Indonesia sudah di depan mata.

Termasuk tanggungjawabnya sebagai ketua Partai Golkar di Soppeng. Kondisi pandemi saat Musda Golkar Sulsel di Jakarta, hingga aspirasi dan arah dukungan Kaswadi dalam pembaharuan kepemimpinan partai juga melahirkan banyak kisah menarik. Keseluruhan cerita akan diulas lengkap dalam buku yang rencananya akan dilaunching di Gedung Perpustakaan Nasional (Perpusnas), November 2020 mendatang. Nantikan kisahnya.