Dokter & Penyintas Tekankan Pentingnya Perilaku 3M Cegah Corona

Memakai masker mencegah risiko tertular 45 sampai 70 persen

Dokter & Penyintas Tekankan Pentingnya Perilaku 3M Cegah Corona
Dialog Produktif bertema Prokes Dijalankan, Covid-19 Kita Kalahkan, yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Jumat (29/1/2021). (Screenshot)






KABAR.NEWS, Jakarta - Penyintas atau bekas pasien Covid-19 meminta masyarakat tetap konsisten menerapkan perilaku 3M yakni memamakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan untuk mencegah penularan Corona. 


Hal itu disampaikan dua penyintas Covid-19 pada Dialog Produktif bertema "Prokes Dijalankan, Covid-19 Kita Kalahkan" yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Jumat (29/1/2021).


Relawan Covid-19 dan edukator kesehatan Dokter Muhammad Fajri Adda’I pada diskusi ini mengatakan, 35 persen penularan Covid-19 dapat dicegah dengan rutin mencuci tangan, ditambah memakai masker kain 45 persen dan masker bedah 70 persen serta lalu ditambah dengan menjaga jarak 1 meter menurunkan risiko hingga 85 persen.


Efektivitas inilah yang mendasari protokol kesehatan 3M adalah upaya utama untuk dijalankan seluruh masyarakat. Setiap saat, pemerintah selalu mengimbau agar mentaati 3M karena masyarakat juga memiliki peranan penting dalam upaya menekan angka penularan Corona.


"Kita harus terus bersama-sama dengan pemerintah melakukan kewajiban 3T (Testing, Tracing, Treatment), dan masyarakat menjalankan 3M. Kita sama-sama ambil bagian sebagai subjek penanganan pandemi ini," kata Dokter Fajri dalam keterangan tertulis yang diterima KABAR.NEWS.


Dengan menggunakan masker, penularan bisa ditekan jauh. Lalu, perilaku menjaga jarak terutama di ruangan tertutup mengurangi risiko tertular lebih besar lagi. 


"Apabila terpaksa di ruangan tertutup, buka semua ventilasi, dan jangan terlalu berkerumun dan menghindari ruangan dengan ventilasi yang buruk.  Yang lebih baik, dengan melakukan pertemuan virtual apabila diperlukan,” saran dr. Fajri.


Lebih lanjut, dr. Fajri juga menjelaskan, “Kemudian pentingnya cuci tangan adalah untuk menghindari kuman atau virus yang tidak sengaja tertempel karena droplet (percikan) di ruangan ber-AC bisa bertahan sampai beberapa minggu. Ini bisa menginfeksi apabila kita tidak sengaja mengucek mata, sehingga saya 
menyarankan cuci tangan dengan sabun di air mengalir,” lanjutnya.


Sementara, penyintas Covid-19 Elgeen Frydianto menceritakan kisahnya terpapar virus mematikan ini. Dia mengakui sebagai orang yang patuh menerapkan protokol kesehatan. 


"Setiap berkegiatan selalu mencuci tangan, memakai masker, dan selalu mandi saat pulang ke rumah, tapi kita tidak pernah tahu tertular Covid-19 itu di mana. Betul yang dikatakan dr. Fajri, masyarakat tidak boleh mengabaikan protokol kesehatan ini,” tegasnya.


Saffri Sitepu, juga mengisahkan pengalamannya selaku penyintas Covid-19. “Saya rasa saya tertular waktu itu karena kurang menjaga jarak atau bertemu orang banyak. Pengalaman saya ketika divonis positif Corona, yang paling berat adalah sepuluh hari pertama. Ketika itu saya sesak berat dan batuk berdarah. Setelah pulang dinyatakan negatif pun saya merasa fisik masih berat, gampang lemas, hampir tiga bulan saya rasakan pengalaman tersebut,” terangnya.


Menanggapi kisah dan saran kedua penyintas, dokter Fajri mengimbau agar masyarakat bisa tetap menjaga jarak sambil beraktivitas. “Apabila harus terpaksa bertemu, cari tempat yang ventilasinya baik, kalau perlu bertemu di luar ruangan, dan usahakan jangan sembari makan, terus jaga jarak. 


Jika naik transportasi umum pilih yang tidak terlalu padat. Jangan banyak bicara sehingga tidak harus menurunkan masker. Yang terpenting apabila merasa tidak enak badan jangan dipaksakan, sampaikan ke atasan kondisi kesehatan kita,” sarannya.


Penularan Covid-19 seringkali terjadi karena keteledoran. “Laporan WHO mengatakan penularan terjadi cukup tinggi saat makan bersama kolega, keluarga, karena dipikir aman,” jelas dr. Fajri kembali.


Mengambil contoh dari pengalaman Saffri Sitepu, kini dia sangat serius menjaga jarak dan menghindari kerumunan. 


“Saya juga dulunya punya hobi bersepeda dengan komunitas, tapi setelah sembuh COVID-19, sampai saat ini saya sudah tidak lagi bersepeda dengan teman-teman. Saya hindari hal itu. Saya bersepeda sendiri, saya jauhi kerumunan. Karena masih ada rasa takut terinfeksi kembali. Hingga kini saya melaksanakan protokol kesehatan yang benar dan tepat,” ujarnya.


Sebagai saran tambahan, dr. Fajri mengatakan, “Untuk melengkapi usaha tersebut, jangan lupa untuk bantu pemerintah melakukan 3T. Terakhir kita harus dukung vaksinasi agar program ini bisa menurunkan penularan dan kita semua bisa sehat selalu,” tutupnya.