Dituduh Separatis, Cina Hukum Mati Dua Pejabat Muslim Uighur

Dia adalah Shirzat Bawudun dan Sattar Sawut

Dituduh Separatis, Cina Hukum Mati Dua Pejabat Muslim Uighur
Shirzat Bawudun dalam sebuah wawancara. (Foto: China Daily)






KABAR.NEWS, Xinjiang - Dua muslim etnis Uighur di Xinjiang, Cina, dihukum mati karena dianggap bersalah secara hukum melakukan "kegiatan separatis". Keduanya merupakan mantan pejabat kehakiman pemerintah Xinjiang.


Melansir kantor berita AFP, Rabu (7/4/2021), salah satu mantan pejabat tersebut adalah Shirzat Bawudun. Dia telah dieksekusi mati dengan penangguhan hukuman dua tahun atas tuduhan "memecah belah negara".


Wakil presiden Pengadilan Tinggi Rakyat Xinjiang, Wang Langtao, menyatakan Bawudun telah bersekongkol dengan organisasi teroris, menerima suap dan melakukan kegiatan separatis. (Baca juga: Vladimir Putin Bisa Pimpin Rusia Dua Periode Lagi)


Bawudun dinyatakan bersalah karena dinilai berkolusi dengan Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM) - yang terdaftar sebagai kelompok "teroris" oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 


Menurut Kantor Berita Negara Cina, Xinhua, Bawudun telah bertemu dengan seorang anggota kunci kelompok Etim pada tahun 2003. Bawudun juga secara ilegal membuktikan "informasi kepada pasukan asing" serta melakukan "kegiatan keagamaan ilegal di pernikahan putrinya.


Di satu sisi, Amerika Serikat, sejak November telah menghapus ETIM dari daftar kelompok teroris global. 


Selain Bawadun, Pengadilan Cina juga menghukum mati Sattar Sawut yang merupakan mantan direktur departemen pendidikan Xinjiang. Dia dianggap bersalah atas kejahatan separatisme dan menerima suap.


Menurut pejabat Xinjiang, Sawut dinyatakan bersalah karena memasukkan konten separatisme etnis, kekerasan, terorisme, dan ekstremisme agama ke dalam buku teks dalam bahasa Uyghur.


Pengadilan mengatakan buku teks telah mempengaruhi beberapa orang untuk berpartisipasi dalam serangan di ibu kota Urumqi termasuk kerusuhan yang mengakibatkan sedikitnya 200 kematian pada tahun 2009.


Yang lainnya menjadi "anggota kunci dari kelompok separatis" yang dipimpin oleh mantan guru perguruan tinggi Ilham Tohti - seorang ekonom Uighur yang dipenjara seumur hidup atas tuduhan separatisme pada tahun 2014. (Baca juga: Mantan Putra Mahkota Yordania Jalani Tahanan Rumah)


Kelompok hak asasi percaya setidaknya satu juta orang Uyghur dan sebagian besar minoritas Muslim lainnya telah ditahan di kamp-kamp di seluruh Xinjiang.


Pada tahun 2018, Pengadilan Xinjiang juga menghukum mati Tokoh Intelektual etnis Uighur, Holmurat Ghopur . Kasusnya sama, Ghopur dianggap memiliki kecenderungan separatisme dan dinilai bermuka dua oleh pemerintah Cina.


Cina menyimpan data tentang penggunaan hukuman mati secara rahasia, meskipun kelompok hak asasi Amnesty International memperkirakan negara itu adalah algojo teratas secara global - dengan ribuan dieksekusi dan dijatuhi hukuman mati setiap tahun.