Disdik: Sekolah Tatap Muka di Makassar Ditunda

- karena Covid-19 belum terkendali

Disdik: Sekolah Tatap Muka di Makassar Ditunda
Sejumlah anak berseragam SMP mengikuti proses belajar disalah satu lokasi yang berada di Area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dadi, Makassar, Senin (27/7/2020). (Ilustrasi/KABAR.NEWS/Irvan Abdullah)






KABAR.NEWS, Makassar - Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar, Irwan Bangsawan, menegaskan belum ada proses pembelajaran sekolah tatap muka pada Januari 2021.


Hal itu katanya, sesuai penyampaian Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan Pj Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin, bahwa sekolah tatap muka bulan Januari ini akan ditinjau kembali karena masih tingginya kasus Covid-19 di Kota Daeng.


"Untuk Kota Makassar ini kita memang tidak laksanakan sekolah tatap muka karena pandemi Covid-19 semakin menggila lagi kan, jadi kita harus hati-hati artinya kita pending dulu untuk sekolah tatap muka," ucap Irwan Bangsawan saat dihubungi KABAR.NEWS, Sabtu (2/1/2021).


Meski ditunda, Disdik Makassar telah mempersiapkan petunjuk teknis atau Juknis pembelajaran tatap muka di sekolah jika nantinya kasus Covid-19 dapat dikendalikan.


"Sudah ada itu, kita sudah siapkan dan kita sampaikan dan sosialisasikan ke sekolah-sekolah tentang bagaimana belajar tatap muka tersebut tapi itu tentunya nanti disosialisasaikan setelah melihat kondisi (pandemi) ini sudah mulai terkendali," ujarnya.


Dalam Juknis yang dibuat Disdik Makassar, terdapat dua konsep pembelajaran. Pertama, konsep masa transisi dan kedua konsep penyelanggaran adaptasi baru atau kondisi adaptasi baru.


"Jadi di masa transisi ini saat sekolah tatap muka dibuka akan ada pengetatan, bagaimana sistem pembelajaran tatap muka nanti adaptasi baru setelah melewati masa transisi barangkali beberapa bulan baru adaptasi baru, agak dilonggarkan di situ namun tetap mematuhi protokol Covid-19," kata Irwan. 


Sedangkan untuk masa transisi ini, lanjutnya, jumlah peserta didik yang dimungkinkan sekolah tatap muka nanti adalah 50 persen dari jumlah normal atau setengah jumlah siswa dalam satu kelas rombel (rombongan belajar).


"Jadi misalnya dalam satu kelas itu jumlahnya 36 sisa setengahnya saja yakni 18 orang saja," jelasnya.


Tak hanya itu, Disdik Makassar juga akan menerapkan sistem shift belajar, dalam hal ini pengurangan durasi jam belajar peserta didik. Khusus SMP hanya dua jam belajar dalam sehari, sedangkan SD satu setengah jam belajar.


"Jadi semiggu itu tidak 6 hari lagi belajarnya tapi sisa 2 hari saja. Kemudian jam belajar untuk SMP itu maksimal dua jam saja, untuk SD itu maksimal satu setengah jam saja nah itu yang kita lakukan," bebernya. 


Dalam proses pembelajaran tatap muka juga nantinya, Disdik Makassar akan terapkan sistem konsep blended learning (pembelajaran tatap muka dan daring).


Dia juga menambakan bahwa pada proses pembelajaran tatap muka pihaknya mewajibkan semua guru atau pengajar untuk melakukan tes Swab. 


"Tapi kami tidak membuka tatap muka hingga sekarang yah nanti kita lihat kondisinya dan mendapat arahan dari wali kota dan Gubernur Sulsel baru kita lakukan tatap muka," tandasnya.


Penulis: Darsil Yahya/A