Disdik Bantaeng Belum Bisa Pastikan Sekolah Tatat Muka Dibuka Januari

Pasalnya, Butta Toa saat ini masih berstatus zona orange.

Disdik Bantaeng Belum Bisa Pastikan Sekolah Tatat Muka Dibuka Januari
Ketgam: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Kabupaten Bantaeng, Muhammad Haris






KABAR.NEWS, Bantaeng - Rencana pembukaan sekolah pada bulan Januari 2021 di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, belum dapat dipastikan. Kemungkinan besar batal direalisasikan.

Pasalnya, Butta Toa saat ini masih berstatus zona orange. Pertimbangannya, dikhawatirkan akan terjadi klaster penyebaran Covid-19 di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Kabupaten Bantaeng, Muhammad Haris mengatakan, ia berharap zona orange bisa masuk ke zona kuning. Agar siswa dapat bersekolah kembali. 

"Kita berharap semoga zona orange bisa masuk ke zona kuning untuk memasukkan siswa sekolah tatap muka dengan protokol maksimal dengan jumlah siswa yang minimal," ujarnya kepada wartawan, Sabtu, (2/1/2021).

Dia menyebut, jika Bantaeng telah masuk zona kuning pihaknya sisa menunggu surat keputusan dari tim Satgas Covid-19 Kabupaten Bantaeng. Atas surat itu, maka kembali di pemberlakuan belajar tatap muka di sekolah.

"Jika ada surat keputusan dari Tim satgas Covid-19 untuk membuka sekolah kita akan laksanakan. Jadi dari Tim satgas akan menentukan kapan kita bisa masuk pertama, apakah minggu pertama atau kapan," jelasnya. 

Kata dia,  pemberlakuan sekolah tatap muka sudah dipersiapkan dengan mengecek seluruh sarana dan prasarana protokol kesehatan di setiap sekolah.

Pengecekan pertama menyasar sekolah SMP karena rencana pembukaan diawali pada tingkat paling atas sesuai kewenangan Kabupaten Bantaeng.

"Ada dua tim satgas Covid-19 yang turun mengecek kesiapan sekolah. Tim pertama dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantaeng dan tim kedua dari Dikbud Bantaeng," ungkapnya. 

Tim Dinkes bertugas mengecek terkait dengan pasien dan seluruh gejala virus Covid-19 di sekolah dan sekitar wilayah sekolah.

Sementara, tim Dikbud tugasnya mengecek kesiapan sekolah terkait dengan sarana protokol kesehatan di sekolah.

"Seperti, wajib menyiapkan alat pengukur suhu, menyediakan masker, tempat cuci tangan dengan air mengalir, menyiapkan hand sanitizer pada setiap ruangan. Kemudian, harus menata bangku seperdua dari kapasitas ruangan sesuai dengan standar WHO," lanjutnya.

Kemudian, kepala sekolah dan para guru juga wajib membuat jadwal kedatangan siswa yang diatur secara bergantian karena tidak semua tingkatan kelas belajar secara bersamaan.

Jadwal belajar siswa juga harus sesuai aturan darurat pandemi yaitu, hanya berjalan selama empat jam.Dan apabila siswa sudah belajar tatap muka di sekolah semua guru harus dilibatkan.

"Jadi semua kelas dipake, dan seluruh guru baik itu guru kelas 1, 2 dan 3 akan mengajar siswa yang datang sesuai jadwal. Misalnya, apabila kelas 3 masuk maka guru kelas 1 dan 2 juga hadir untuk mengajar begitupun sebaliknya," terangnya.

Namun, sebelum belajar tatap muka diberlakukan, seluruh orangtua siswa bakal duduk bersama dengan para guru.

Orangtua siswa bakal dimintai persetujuan, bahwa anaknya dapat mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah dengan menandatangi surat pernyataan.

"Apabila ada orangtua phobia atau tidak membiarkan anaknya belajar tatap muka di sekolah maka anaknya tetap belajar melalui luring dan daring," tuturnya.

Dia menambahkan, hasil dari pengecekan yang dilakukan tim, saat ini semua satuan pendidikan pada tingkat SMP sudah siap melaksanakan belajar tatap muka.

"Kami sudah lakukan pengecekan langsung di setiap sekolah dan semua telah siap untuk belajar tatap muka," pungkasnya. 

Penulis: Akbar Razak/B