Dinkes Jeneponto Klaim Penderita Kusta di Jeneponto Terendah se Sulsel

Urutan terendah dari tiga Kabupaten se-Sulsel.

Dinkes Jeneponto Klaim Penderita Kusta di Jeneponto Terendah se Sulsel
ilustrasi (alodokter)






KABAR.NEWS, JENEPONTO - Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Jeneponto, Suryanigrat menyebutkan penderita kusta tahun ini terdata sebanyak 36 orang. Angka itu diklaim sebagai terendah di Sulawesi Selatan (Sulsel).
 
"Itu data yang muncul pada semester 1 tahun 2020 ini sebanyak 36 orang," ujarnya kepada Kabar.news, Minggu (14/11/2020).

Dia mengataka angka penderita kusta menempatkan Jeneponto menjadi urutan terendah dari tiga Kabupaten se-Sulsel. 

"Bulukumba, Bone, Makassar lebih tinggi dari kita. Kita dalam 3 tahun terakhir sudah turun," ungkapnya.

Sebut dia, mayoritas penderita kusta adalah orang dewasa. Sedangkan untuk penderita kusta anak dibawah umur sangat berkurang.

"Orang tua paling banyak, anak 15 tahun hanya beberapa orang saja paling tinggi empat sampai lima orang," ungkapnya.

Menurutnya data penderita kusta di kabupaten berjuluk Butta Turatea ini menurun dari tahun 2019 lalu. "Pasien kusta yang tercatat 2019, 63 orang," jelasnya.
 
Nigrat menjelaskan penyakit kusta itu adalah sebuah bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri tersebut dapat menular dari satu ke orang lainnya melalui percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet), yaotu ludah atau dahgak yang keluar saat batuk atau bersin.

"Kusta dapat menular jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah," ucapnya.

Untuk penularannya, membutuhkan waktu cukup lama untuk berkembang biak dalam tubuh.

"Bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita," sebutnya.

Dia mengatakan, bahwa petugas kesehatan yang terlibat dalam penanggulangan kusta mendapatkan pelatihan khusus.

"Selain secara Talaksana media, perjalanan penyakit dan pengobatannya jiga diberikan kemampuan penanganan psikososial penderita kusta," imbuhnya.

Untuk menanggulangi penyakit kusta, pihaknya bekerjasama dengan Perhimpunan Mandiri Kusta (Permata). Perhimpunan ini merupakan orang-orang yang pernah mengalami kusta.

"Mereka punya rasa yang sama karena anggota Permata adalah mereka yang pernah merasakan masalah yang sama sakit, perubahan fisiologis, stigma dan lainnya," tukasnya.

"Sehingga masyarakat yang baru terdiagnosis kusta bisa terbuka dan jujur pada mereka,"  


Penulis: Akbar Razak/c