Skip to main content

Dinilai Gagal Lindungi Privasi Pengguna, Facebook Dituntut Denda Sebesar Rp 9,5 Miliar

CA
Ilustrasi (GettyImages)

KABAR.NEWS - Facebook dituntut membayar denda sebesar 500 ribu poundsterling atau sekitar Rp9,5 miliar karena kegagalan Facebook melindungi data pengguna pada skandal Cambridge Analytica dan tak transparan atas penggunaan data oleh pihak ketiga.

Hal ini diungkapkan Komisioner Informasi Inggris Elizabeth Denham. Meski begitu, denda tersebut justru dianggap bernilai kecil untuk perusahaan dengan nilai pasar hingga US$590 miliar (sekitar Rp8,5 quadriliun) itu.

"Teknologi-teknologi baru [memang bisa] menggunakan analisis data untuk menyasar orang secara spesifik. Sehingga tim kampanye bisa terhubung dengan pemilih secara pribadi. Tapi ini tidak berarti mengorbankan transparansi, keadilan, dan kepatuhan terhadap hukum," ujar Elizabeth dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters, (11/7/2018). 

Facebook menyebut pihaknya sedang meninjau laporan tersebut, dan akan segera merespons sebelum putusan final dibuat. Pihak Facebook pun menyesalkan tak segera menindaklanjuti investigasi soal Cambridge Analytica pada 2015 lalu.

"Seperti yang sudah kami katakan sebelumnya, kami seharusnya melakukan menyelidikan lebih mendalam soal Cambridge Analytica dan segera mengambil tindakan pada 2015," ujar Kepala bagian Privasi Facebook Erin Egan dalam sebuah pernyataan.

"Selama ini kami menjalin kerja sama dengan kantor Komisioner Informasi Inggris terkait penyelidikan kasus Cambridge Analytica, sama seperti dengan pihak-pihak yang berwenang di Amerika dan negara-negara lain," lanjutnya.

Diketahui, skandal Cambridge Analytica merupakan skandal yang melibatkan penggunaan data pengguna Facebook dalam pemenangan presiden AS Donald Trump pada pemilihan presiden 2016.

Namun, dalam laporannya Komisioner Informasi Inggris mengatakan dapat menuntut perusahaan yang menaungi Cambridge Analytica, SCL Elections karena tidak melakukan apa yang diminta oleh regulator.