Skip to main content

Dilauncing, Buku Thiking Before Judging Rangkum Beragam Aspek Realitas Kehidupan Sosial

Launching buku
Launcing buku Thiking Before Judging di Kedai Malunra, Jalan Mesjid Raya, Jumat (13/9/2019) kemarin / (Ist)

KABAR.NEWS, Makassar - Buku Thinking Before Judging karya pertama dari Muh Taufiq Al Hidayah resmi dilaunching. Peresmian di Jalan Mesjid Raya, Jumat (13/9/2019) kemarin, dirangkaian dengan menghadirkan tiga pembedah yang mewakili berbagai kalangan untuk menyoroti seluruh isi dalam buku 

 

Ketiganya masing-masing, Syamsul Arif Ghalib akademisi sekaligus Dosen Studi Agama UIN Alauddin Makassar, Arif Balla esais mewakili milenial, dan Reski Indah Sari sebagai peggiat literasi Sulawesi Selatan. Dimoderatori oleh Nurjannah Azzahra penulis buku memiliki kehilangan.

 

“Untuk menjadi sebuah buku, itu tidaklah mudah. Butuh proses yang amat panjang untuk menjadikan sebuah tulisan-tulisan itu menjadi sebuah buku, inilah yang harus kita apresiasi,” ungkap Syamsul sebagai pembicara pembuka dalam ketarangan resmi yang diterima, Sabtu (14/9/2019).

 

Sedangkan Reski Indah Sari sebagai pembedah kedua mengatakan buku ini patut dibaca oleh semua kalangan. Buku ini menyajikan masalah-masalah yang sangat dekat dengan realitas saat ini seperti masalah keluarga. 

 

“Buku ini menyajikan masalah yang dekat dengan kita seperti masalah keluarga. Saya cukup mengapresiasi sebab ada tulisan yang menyinggung peran ayah yang kurang dalam mengasuh anak. Terus bagaimana dalam setiap khotbah misalnya disisipi masalah parenting. Ini juga yang unik, tidak pernah terpikirkan oleh saya adalah yatim sebelum waktunya, realitanya sekarang banyak anak-anak kita yang mengalaminya,” tuturnya. 

 

Lain pula Arif Balla, pembedah ketiga mengungkapkan bahwa buku ini secara garis besar terbagi menjadi tiga elemen penting kehidupan. Yakni Islam, literasi, dan hoax. Ia juga mengatakan buku ini seakan menampar pembaca untuk perpikir dulu kemudian bertindak. 

 

“Saya dapat menarik tiga hal dari buku ini, Islam, literasi dan hoax, yang sama kita ketahui bahwa ketiganya senapas, saling bertautan. Buku ini adalah tamparan untuk kita yang sering judging sembarangan tanpa thinking,” ucapnya. 

 

Buku ini pun tidak terlepas dari kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan sebuah karya. Syamsul misalnya mengkiritik kesalahan penulisan (Typo) dalam buku dan sangat menganggu. “hal yang kemudian harus diperhatikan dalam buku ini adalah Typonya, meski saya hanya menemukan satu kesalahannya. Namun menurut saya harus jadi perhatian sebab typo itu sangat menganggu,” sebutnya kembali.

 

Selain itu, Syamsul juga mengkiritk tulisan yang terbit dua kali di media yang berbeda. Menurutnya itu hal yang tidak patut dan tidak boleh terulang lagi. “Terbit dua kali untuk tulisan yang sama itu terlarang, dan dampaknya tidak main-main. Bisa diblacklist oleh media. Ini jadi pelajaran untuk kita sebagai penulis pemula,” imbuhnya.

 

Reski Indah Sari juga menemukan sepuluh kata penulisannya keliru dan menyarankan agar lebih memperhatikannya. “Apa yang diungkapkan oleh Kak Syamsul memang benar, typo itu menganggu, seperti kata tampak yang seharusnya Nampak. Ini harus jadi perhatian penulis dan lebih berhati-hati lagi,” ucapnya. 

 

Arif yang menyarankan agar kelak jika ada karya berikutnya agar tulisan-tulisan yang dibukukan itu lebih fleksibel dan tidak kaku agar cocok diberbagai zaman. “Penulis kalau mau berkarya lagi tulisan-tulisannya lebih fresh supaya menyesuaikan dengan perkembangan yang ada, itu juga supaya tulisannya tidak terikat waktu dan kaku,” pungkasnya. 

 

Irvan Abdullah

 

 

 

loading...