Dialog HMI Cagora: Negara Jangan Panik Hadapi Ormas

- BIN minta HMI jadi garda toleransi

Dialog HMI Cagora: Negara Jangan Panik Hadapi Ormas
Dialog Publik HMI Cabang Gowa Raya. (KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)






KABAR.NEWS, Gowa -  Pemerintah atau negara dinilai terlalu panik menghadapi kelompok atau organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang dianggap intoleran dan mengancam kebhinekaan bangsa Indonesia.


Hal itu mengemuka dalam forum dialog publik tentang Intoleransi yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya (Cagora) di Warkop Mau.co, Kabupaten Gowa, Rabu (23/1/2020).


Akademisi IAIN Palu, Suharto, yang didapuk sebagai pembicara pada forum ini mengatakan, intoleransi atau sikap tidak menghargai keyakinan agama lain bukan masalah yang akut di Indonesia. Dia menilai ancaman intoleransi perlu dikelola dengan baik.


"Jangan terlalu panik bernegara. Kalau panik itu bisa jadi musibah. Masalah intoleransi di Indonesia hanya perlu dikelola dengan baik dan dicari akar masalahnya," ujar Suharto yang juga kandidat doktor di UIN Alauddin Makassar.


Pria yang karib disapa Attock ini berpendapat, tindakan pencegahan aksi intoleran harus diawali oleh negara, bukan sebaliknya selalu menuntut rakyat untuk toleran terhadap suku maupun agama tertentu.


Selain itu, kata Attock, negara justru cenderung menjadi pihak yang mendengungkan narasi intoleran. Dia mencontohkan adanya statement yang menyebut negara tidak boleh kalah dari ormas.


"Ada narasi salah tentang toleransi kita. Contohnya pernyataan negara tidak boleh kalah dari ormas. Menurut saya itu narasi intoleran. Negara harus menghormati eksistensi kelompok lain, bukan menjadikan sebagai ancaman," tutur Attock yang juga dosen komunikasi IAIN Palu.


Di tempat yang sama sebagai pembicara, Sekretaris KNPI Gowa, Alumnus Zainuddin meminta penyiar - penyiar agama yang eksis YouTube tidak perlu mengklaim bahwa keyakinannya paling benar dan mengucilkan kelompok agama lain.


Menurut dia, pengklaiman sebagai kelompok keyakinan yang paling benar dapat menjadi benih-benih yang mengancam kebhinekaan Indonesia. 


Mengenai fenomena intoleransi yang mengemuka saat ini, Alumnus meminta setiap warga negara harus menyadari dirinya hadir di tengah perbedaan sebagai bangsa yang majemuk.


"Kita harus menyikapi fenomena dengan bijak, kita menjembatani dua kelompok yang berseteruh," tutur Alumnus.


BIN Minta HMI Jadi Pelopor Toleransi


Dialog HMI Cagora bertema Intoleransi Mengancam Kebhinekaan juga menghadirkan pembicara secara daring yakni Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto.


Dalam kesempatan ini Wawan menekankan pentingnya leterasi publik untuk mencegah aksi-aksi intoleran. Terutama edukasi di media sosial di tengah banjirnya arus informasi.


"Saat ini terjadi banjir informasi, 60 persen dari banjir informasi itu adalah hoaks. Jangan kita terombang ambing dalam banjir informasi itu. Kalau bisa, minta orang yang berkompeten untuk memberi penjelasan soal valid tidaknya informasi itu," ujar Wawan.


Menurut Wawan, Indonesia memang ditakdirkan sebagai bangsa yang plural, yang dihuni berbagai suku, agama dan budaya yang berbeda-beda. Maka dari itu, dia meminta toleransi harus dikentalkan demi menjadikan Indonesia yang besar dan menjunjungi tinggi perbedaan.


"Generasi muda harus menjadi pelopor toleransi. Organisasi kemahasiswaan seperti ini harus menjadi teladan toleransi," tandasnya.