Skip to main content

Dengan Apa Kita Disebut Manusia?

tgfghxhgh
PENULIS: Riska Dewi 
Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan 
Universitas Muhammadiyah Makassar


SEJAK manusia pertama yang diperkenalkan oleh sejarah agama yang diagungkan oleh Muhammad SAW. banyak setelahnya memperbincangkan makna dari sebuah proses ciptaan mahluk yang bernama manusia itu, jika Muhidin M Dahlan dalam bukunya yang berjudul “Adam Hawa” menyebut bahwa “gagalnya gipsi sebagai ciptaan sebelum manusia Adam dalam menjalankan tugas kehidupan, yang ada hanya adalah sebuah kehancuran dan peperanagan maka diciptakan lah manusia bernama Adam yang kemudian selanjunya diciptakan Hawa atas dasar Doa, rindu dan harapan Adam tersebut”.

Berarti telah jelas dari hasil renungan Muhidin M Dahlan Manusia diciptakan sebagai Agen Peace Leaders dimuka bumi untuk sebuah proses kehidupan panjang lagi menantang hingga kita hari ini namun apakah saat ini yang telah melewati banyak abad,fase dan zaman tujuan atas terciptanya manusia telah ditunaikan?

Post modern saat ini sebuah kehidupan planet ber makhluk yang disebut bumi seakan-akan hanya peduli pada kehidupan sesaat tanpa mengingat dan memperdulikan makhluk penghuni lain yang setelah ada sebelum dan sesudahnya, padahal hidup bukan hanya tentang individu tapi juga tentang makhluk sosial (sesama manusia) sebagai fakta tak terbantahkan. Jika hidup dipenuhi dengan sikap indivudualis sementara kehidupan baik secara definitif maupun interprestasi tidak lah berdiri tunggal ia di tumpu oleh banyak hal seperti Agama, Budaya, Lingkungan dan pergaulan. lantas sikap individulis serta ketidak pedulian muncul darimana?

Sebagai penulis yang menjadi penyaksi sekaligus pemain dalam drama kehidupan untuk sementara hanya sekedar mencoba mengeluarkan paradigm apa yang beberapa saat ini saya amati lalu kemudian menjadi komsumsi pikiran. Dalam sebuah narasi yang coba di percakapkan Josten Gaarder didalam sebuah buku cukup terkenal berjudul “Dunia Anna”.  lugas dengan nada yang halus lagi tegas berbicara layaknya sastarawan yang namanya telah mendunia sangat menyinggung kedirian ku seabagai makhluk yang bernama manusia pada sebuah dialogis panjang mengambarkan bagaimana tokoh memikirkan dunia yang enggan bersahabat lagi pada kehidupan apatalagi kepada generasinya, apa hendak ia berikan anak yang berumur 16 tahun sudah mampu berasosih pada pikirannya untuk berfaedahkan untuk bumi dan masa-masa selanjutnya.

Anna yang diceritakan adalah seorang gadis remaja yang baru mau memasuki umur 16 tahun tapi dia sudah berpikir keras bagaimana memperdulikan generasinya yang akan datang. Sedangkan saya yang tinggal beberapa bulan lagi akan memasuki usia 20 tahun dan itu adalah usia yang sangat memalukan jika tak ada hal yang bisa di pikirkan untuk mengingat generasi selanjutnya bukan?

Sebagai fakta dunia sekarang telah tak baik baik saja pemimpin melanggar janjinya sebut saja kasus skandal mega proyek e-KTP yang melibatkan Mantan Katua Wakil rakyat itu dan beberapa kepala daerah yang di OTT oleh KPK lembaga anti rasuah itu, sebut saja mereka Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan Bupati Pamekasan Achmad Syafii pada tahun 2017 
Kita masih perlu melakukan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi ini untuk menjaga dan melindungi negara dari mereka yang tidak bertanggung jawab atas bangsa dan agamanya. 

Sementara kita walaupun secara teologis ada tempat tinggal yang kekal nantinya yang akan kita tempati yaitu akhirat. Namun tugas dan tanggung jawab sebagai mahluk yang katanya agen of chage haruslah berbuat untuk perbahan seperti nasehat ilmuan besar George Benhard Shaw “ Mustahil kemajuan terjadi tanpa perubahan, dan mereka yang tidak mengubah pikiran, tidak bisa mengubah apapun” mulailah berfikir apa hendak kita lakukakan hari ini esok dan nanti untuk generasi dan Bumi kita. 

Mengapa? sebab Setidaknya kita  mengingat generasi esok yang akan datang dalam menikmati kekayaan alam yang kita rasakan sekarang ini jika tidak menjaga alam baik itu struktur lingkugan maupun moralitas perlu kita adakan perbaikan yang menyebabkan tindakan individualis sehingga kepedulian sudah tidak ada. Jika seperti ini apalagi hendak terkorbankan, jika esok ada caci maki dan menuntut harus apa kita menjawab karena telah merampas haknya untuk merasakan sejuknya kehidupan bernegara maupun lingkugan ekologisnya.

Dan sekarang ini kita sudah mulai ogah-ogahan dalam menjaga bumi kita serta acuh terhadap dinamika diluar sana yang notabenenya mengalami semacam dismoralitas baik terhadap alam dan dunia ketatanegaraan, sebagai kemarahan alam semesta atas tangan jahil manusia banyak bencana yang terjadi mulai dari hal kecil seperti banjir misalnya longsor sampai pada bencana-bencana besar yang banyak memakan korban. Yah lagi-lagi kita tahu bahwa bencana itu datang karena atas perintah sang pemilik bumi dan langit, tapi perintah itu turun sebab alam tak bersahabat lagi moralitas dikesampingan jabatan dan harta seakan-akan jadi hal subtasial.

Lihat saja banyaknya spesies flora dan fauna yang sudah mulai punah, Orang Utan yang di Kalimantan misalnya. Mengapa tidak demikian, sebab ulah para tangan-tangan manusia yang tak bertanggungjawab dalam tugasnya ia diciptakan di muka ini sebagai khalifah di muka bumi ini dan jelas terdapat firman Allah dalam surat sucinya pada Surah Al-Baqarah ayat 30. Dimana mereka yang dengan entengnya menggunakan tangan-tangan yang dititpkan sang pencipta padanya untuk melakukan kerusakan lestari. Dalam hal ini salah satunya adalah kerusakan ekosistem hutan di Kalimantan dengan terjadinya kebakaran, miris tapi itu adalah fakta bahwa manusia telah memutuskan persahabatannya kepada alam sebagai kesatuan kosmik.

Dalam buku Josten Gaarder berjudul “Dunia Anna” ada sebuah perumpamaan berbunyi “Katak yang diturunkan pada air yang mendidih pasti akan melompat keluar untuk menyelamatkan diri, dan katak yang diturunkan pada air yang mula-mula dingin dan sebentar lagi akan mendidih akan merebus katak secara perahan karena si katak tidak bisa memprediksi bahaya yang akan datang padanya” Nah sepertinya sindiran keras dari apa yang tersirat terhadap pesan singkat penulis mendunia itu seolah-olah hidup sekarang ini layaknya telah terbuai kesenangan sesaat lupa bahwa kehidupan itu berkontinuitas, kita hidup pada kenikmatan sesaat yang kita tidak tahu kapan adanya bahaya yang akan datang berkepanjangan.sadar atau pun tidak itulah yang terjadi.

Maka dari itu, jadikan berita kiamat itu sebagai momentum menjaga kelestarian hidup, sebab tidak ada makluk yang tahu kapan tepatnya kiamat itu datang bahkan sang revolusioner sejati umat islam Muhammad SAW. pun tak bisa memprediksikan tepat datangnya kegoncangan dahsyat itu. Perlu manusia tingkatkan adalah keimanan berbasis pengetahuan objektif melalui dialogis epitemologis, untuk bersiap menghadapinya dengan beribadah dan selalu semangat mencintai kelestarian lingkungan dan kesadaran moralitas pengetahuan ilmiah dan rasional. 

 

Kirimkan opini Anda seputar politik, isu sosial dan peristiwa yang terjadi di sekitar Anda. Redaksi KABAR.NEWS mengutamakan opini yang ditulis dengan baik dan disertai dengan identitas yang jelas. Kirim ke email redaksi; redaksikabardotnews@gmail.com