Skip to main content

Dalam Setahun Ada 450.000 Kasus Kematian Perempuan Akibat Kanker Payudara

Dalam Setahun Ada 450.000 Kasus Kematian Perempuan Akibat Kanker Payudara
Ilustrasi. (Int)

KABAR.NEWS, Makassar - Internasional GLOBOCAN memprediksi di tahun 2020 akan muncul 58.799 kasus kanker payudara yang cukup mengancam nyawa wanita.

Setiap tahunnya saja, ada sekitar 1,4 juta kasus kanker payudara baru di dunia, dan lebih dari 450.000 perempuan diperkirakan meninggal dunia.

Peneliti Kanker Internasional GLOBOCAN tersebut memperkirakan, jika kasus ini terus berlanjut, ada sekitar 23.836 kasus kematian di tahun 2020 dan angka ini diperkirakan meningkat pesat menjadi 74.289 kasus dengan angka kematian sekitar 32.626.

Salah satu jenis kanker payudara adalah kanker payudara dengan status HER2 (Human Epidermal Growth Factor Receptor 2).

HER2 dialami oleh sekitar 15-20% pasien kanker payudara. Kanker dengan status HER2 positif adalah jenis kanker payudara yang sangat agresif.

Di Indonesia sendiri, kanker payudara tercatat sebagai kanker tertinggi dengan tingkat kematian paling tinggi dibandingkan dengan kasus kanker lainnya.

Pada tahun 2012, kasus kanker payudara diperkirakan sebesar 48.998 dengan angka kematian sebesar 19.759. Kondisi tersebut diperburuk dengan rendahnya kesadaran masyarakat mengenai kanker payudara.

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Gumelar memperkirakan 70% pasien kanker payudara didiagnosis pada stadium lanjut.

Dr. Nugroho Prayogo dari Sub-divisi Hematologi-Onkologi Medik Rumah Sakit Kanker Dharmais menjelaskan kanker payudara stadium rendah dapat dideteksi.

“Saat mandi, wanita bisa memeriksa apakah ada benjolan di sekitar payudara, karena kanker payudara pasti terdapat benjolan, jika terdapat benjolan sebaiknya langsung cepat diperiksa untuk dideteksi lebih lanjut,” ujar Nugroho dilansir Bisnis.

Selain mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup pasien, kanker juga memberikan dampak sosio ekonomi yang cukup kuat.

Beberapa penelitian mengatakan kematian di seluruh dunia lebih banyak disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM). Penyakit kanker sendiri termasuk dalam PTM.

Direktur Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KP-MAK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Diah Ayu Pusoandari mengatakan, kerugian selama 2 dekade akibat PTM sebesar US$14 triliun, sedangkan dana yang tersedia US$185 juta.

Berdasarkan studi Asean CosT On Oncology (ACTION) yang dilakukan oleh George Institute for Global Health untuk menganalisis beban finansial yang disebabkan oleh kanker di 8 negara Asia Tenggar, di Indonesia, lebih dari 70% pasien kanker mengalami kematian atau kesulitan keuangan dalam tahun pertama setelah diagnosis.

Studi tersebut merekomendasikan perbaikan akses terhadap pengobatan kanker dan proteksi finansial yang memadai untuk biaya sakit. Oleh karena itu, akses terhadap pengobatan lebih baik menjadi sangat krusial.