Skip to main content

Curhat Arni: Tak Terima sang Ibu Dimakamkan dengan Protap Covid-19

kabar.news
Surat keterangan dari hasil swab tanggal 16 Mei 2020 yang menyatakan bahwa hasil swab sang ibu negatif Covid-19. (IST)

 

 

KABAR.NEWS, MAKASSAR - Beberapa waktu lalu sempat beredar video viral seorang perempuan di media sosial yang menangis histeris saat mencegat dan naik ke atas kap depan mobil gugus tugas Covid-19 di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

 

Diketahui, perempuan di dalam video itu bernama Andi Arni Esa Putri Abram (24). Arni menangis setelah jenazah ibunya, Nurhayani Abram (48) hendak dibawa tim gugus tugas Covid-19 dari RS Bhayangkara Polda Sulsel ke Kompleks Pemakaman Khusus Covid-19 di Macanda, Kabupaten Gowa.

 

Selain itu, Arni juga membagikan curahan hatinya (Curhat) di facebook. Ia menceritkan insiden yang terjadi di rumah sakit. Ia mengaku bahwa Ayahnya sempat mencium kaki sang dokter agar mereka diizinkan untuk membawa pulang jenazah sang Ibu. 

 

Namun, sayangnya hal itu sia-sia, sebab pihak rumah sakit dan tim gugus tugas Covid-19 tetap bersikukuh untuk memakamkan jenazah Nurhayani Abram dengan protap Covid-19.

 

Berikut isi postingan Arni di akun Facebook (FB) miliknya yang ia unggah, Rabu (2/6/2020) siang:

 

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh. Ini kejadian kekejaman yang saya dapatkan dari tim medis dan tim gugus yang berbuat kasar kepada kami keluarga korban. Ummi saya di-Vonis PDP padahal meninggalkannya karena stroke disebabkan pembuluh darah pecah di otak sebelah kanan dan akan dimakamkan sesuai protokol covid.

 

Saya dan Etta (papa) berusaha untuk membawa ummi pulang ke  rumah dan ingin

memakamkannya secara layak di kampung halaman kami (Bulukumba).

 

Di dalam IGD tempat ummi meninggal, saya sudah memohon-mohon kepada tim gugus dan tim medis agar kami membawa ummi pulang, tapi mereka menolak. Pada akhirnya Etta saya bersujud mencium sepatu pimpinan tim gugus untuk memohon tetapi mereka tetap menolak.

 

Malahan kami DIBOHONGI, tim gugus berusaha membujuk kami untuk membicarakannya baik2, dan tim medis ingin mengkafankan ummi. Etta saya pun terbujuk dan keluar dari UGD untuk berbicara dengan tim gugus, sebelumnya Dokter (pak haji sebutannya) menjanjikan akan menyolatkan ummi dan tidak akan memasukkan ummi kedalam peti serta akan menunggu Etta saya kembali untuk melakukan sholat jenazah sama2.. namun semua itu bohong.

 

Ketika Etta saya sudah keluar, tinggallah saya dan para tim medis, mereka mulai melakukan proses pengkafanan dan ternyata ummi hanya di-tayammum, diperlakukan seperti jenazah Covid disemprot disenfektan. stelah dikafankan mereka mau memasukkan ummi kedalam peti, saya pun Menolak, bukan itu perjanjian di awal. Sikap saya seketika kalah karena dihalangi oleh petugas gugus yg tiba2 datang menyeret saya jauh dari peti. Mereka memasukkan ummi kedalam peti dan menutupnya.

 

Saya mencoba berlari ke peti tapi usaha saya sia-sia, tenaga saya kalah saya disekap tidak bisa bergerak, malah saya terseret jatuh ke lantai dan baju saya ditarik. Mereka mulai melakukan sholat jenazah tanpa menunggu Etta saya. Mereka membohongi kami.

Mereka pun membawa peti tersebut sambil lari-lari dan saya dihalangi untuk mendekat saya terseret-seret mengejar peti itu, saya berusaha bangun dan kembali berlari namun tetap dihalangi lagi. Sampai didepan RS, saya melihat Etta saya sudah tidur di bawah mobil jenazah untuk memblok, ternyata Etta saya juga disekap dilarang lagi untuk masuk IGD sedari tadi.

 

Adik saya Adel berusaha ingin mendekati peti karena tidak diizinkan masuk IGD sejak semalam untuk melihat ummi terakhir kalinya tetapi Adel dihalangi polisi dengan tameng. Saya juga naik ke atas mobil berharap akan memberikan jenazah ummi untuk kami bawa pulang ke rumah, tetapi sekali lagi saya dikelitik diseret jatuh ke tanah oleh petugas. Akhirnya mereka berhasil membawa ummi, mereka melaju dengan cepat. 

 

Etta saya mengambil motonya (N-max) dan membonceng kami (saya, Adel, Alya) untuk mengejar mobil jenazah tersebut, kami bonceng4.. Hanya Allah SWT yang mampu melindungi kami agar tidak terjadi kecelakaan di jalan. Setiba di tempat pemakaman, kami tidak diizinkan ikut melakukan proses penguburan, dan hanya bisa sampai di gerbang saja.

 

Mereka sungguh tidak ada hati nurani, mereka menguburkan jenazah yang jelas-jelas bukan Covid di penguburan khusus covid dan mempetikannya, Astaghfirullah. Dan setelah melakukan pemakaman, mereka meninggalkan kami begitu saja, seandainya benar ummi kami PDP, tidak adakah tindakan dari tim medis kepada kami.. apalagi kepada saya ? Saya yang menemani ummi di RS hingga meninggal sampai mempertahankan ummi (memeluknya) agar tidak mereka bawa. Saya menuntut keadilan untuk Ummi kami, kami ingin memindahkan jenazah ummi kami yang jelas-jelas NEGATIF Covid.. apa hak Mereka menahan jenazah ummi kami di penguburan itu.

 

Saya memohon kepada teman-teman yang membaca tulisan saya, tolong bantu kami, tolong kami mencari keadilan untuk ummi kami"

 

Bukan hanya itu, ia juga mengunggah surat keterangan dari hasil swab tanggal 16 Mei 2020 yang menyatakan bahwa hasil swab sang ibu negatif Covid-19.

 

 

  • Penulis: Darsil Yahya/B

 

 

Flower

 

loading...