Skip to main content

Cerita Korban Salah Tangkap di Makassar: Disiksa Sampai Pingsan

Salman
Salman saat masih terbaring di RS Bhayangkara, dan terpaksa dirawat intensif akibat menderita sakit di bagian kelaminnya usai disetrum oknum polisi.(ist)

 

KABAR.NEWS, MAKASSAR - Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Pribahasa itulah yang kira-kira dialami Salman, pemuda 24 tahun di Makassar, yang sehari-harinya mencari nafka sebagai tukang sapu di pasar.


Warga yang berdomisili di area Pasar Kalimbu, Jalan Veteran, ini terpaksa harus terbaring lemah usai mendapat perawatan medis, diduga akibat dianiaya polisi yang menangkapnya pada 17 Oktober 2019 lalu.


Salman sebelumnya ditangkap dan ditahan di Polsek Rappocini selama beberapa hari, dengan tuduhan tindak pidana pencurian. Ia kemudian dikeluarkan dari sel tahanan karena mengeluh sakit dan harus dirawat secara medis.


Namun, kepada Kabar.News saat ditemui di rumahnya, Salman membantah tuduhan polisi. Ia mengaku tak pernah terlibat aksi pencurian.


"Saya tidak pernah mencuri atau apapun itu. Saya ini cuma dituduh," tandasnya, saat ditemui di kediamannya, Minggu kemarin.


Salman menceritakan, dirinya diintrogasi sambil disiksa polisi. Dipukul hingga disetrum, bahkan sampai ke alat kelaminnya. Ia terpaksa dioperasi akibat luka yang cukup parah.


"Ceritanya kan saya sudah jemput istri, tiba-tiba ada mobil warna hitam. Polisi (berpakaian preman) bertanya di mana Pasar Kalimbu. Sudah itu polisi keluar dari pintu mobilnya bertanya bilang kamu namanya siapa? Jadi saya jawab Salman pak. Mereka menanyakan seseorang bernama Sandi. Memang saya kenal. Setelah itu saya ditangkap, dituduh mencuri HP," jelasnya.



Saat di atas mobil, kata dia, beberapa oknum polisi menganiayanya. Wajah, kepala dan badannya ditinju. Tak sampai di situ, Salman mengaku disiksa saat berada di kantor polisi, sampai tak sadarkan diri.


"Disiksaka di atas mobil, ditinju pipi, kepala, dada. Tidak pernah saya kena penyakit seperti ini. Di kantor (polisi) di situ saya kena penyakit, saya disetrum satu badan, baru alat kelamin, di situ saya pingsan tidak saya taumi selanjutnya," ungkapnya.

 

Kondisi fisik Salman saat ditemui tidak memungkinkan untuk bercerita lebih jauh ihwal kejadian yang menimpanya. Wajahnya sangat pucat. Ia hanya bisa terbaring di atas tempat tidurnya. Nampak kipas angin yang diarahkan ke selangkangannya.


Minta Kapolda Turun Tangan


Sementara,  Farid Mamma, selaku kuasa hukum Salman, mengecam tindakan oknum kepolisian yang berkelakuan seperti preman. Ia pun meminta Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulsel untuk turun tangan dalam kasus dugaan salah tangkap dan penganiayaan yang dilakukan bawahannya.


"Kedepannya saya mewakili klien kami Ibu Asma (ibu korban). Saya minta bapak Kapolda Irjen Mas Guntur Laupe cermat melihat persoalan ini. Saya minta pecat siapapun yang terlibat pelanggaran ini, supaya menjadi pembelajaran kepada aparat lain yang selalu menekan rakyat jelata," tandasnya.


Salman
Salman terbaring lemah di rumahnya usai menjalani operasi.(Kabar.News/Reza)

 


Farid juga mengaku jika pihak keluarga korban sudah melapor ke Polda Sulsel terkait kasus ini. Hanya saja, laporan pihak korban seolah tak direspon pihak polda.


"Laporannya juga laporan bodoh namanya. Karena ada laporan ini, saya lihatkan ini kan harusnya ke Propam dulu, tapi Propam mengarahkan ke Sat Reskrim Polrestabes harusnya ini laporan ke SPK dulu bukan langsung ke Sat Reskrim. Surat aduannya kan harus ada nomornya, aduan berapa, ini kita lihat tidak ada. Harusnya pengaduan atau aduan atau laporan harus ada nomornya. Ini surat pelaporannya abal-abal. Jadi mungkin ibunya ini (korban), ketika dia minta perlindungan ke siapa, tidak ada yang mau bantu dia," kesalnya.


Pengacara kondang di Kota Makassar ini juga membantah pernyataan Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo, yang menyebut Salman adalah pelaku begal.


"Apa yang dikatakan kabid humas itu tidak benar. Hanya mau membela diri untuk melindungi institusinya. Kalau mereka (polisi) tau korban ini sakit, kenapa ditahan dan dianiaya? Logikanya begitu saja. Ini pertanyaan bodoh namanya. Polisi bilang kalau korban memang menderita sakit, tapi ditahan lalu disiksa. Nah polisi itu bukan dokter. Yang harus nyatakan sakit itu adalah dokter, tapi bukan dokter Bhayangkara yah," tegasnya.


"Ini pelanggaran HAM. Polisi sudah melakukan tindakan premanisme, dan sangat tidak manusiawi. Saya harap Pak Kapolda memberikan perhatian atas kasus ini. Kalau perlu samapai Mabes Polri," tutupnya.


Polda Membantah


Kabar dugaan salah tangkap yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap tukang sapu di Pasar Kalimbu Makassar bernama Salman, dibantah Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Ibrahim Tompo.


Kombes Pol Ibrahim Tompo menjelaskan bahwa dari hasil pengecekan dan pendalaman terhadap kasus tersebut, ditemukan fakta bahwa Salman memang pelaku begal yang beraksi bersama dua orang rekannya di Jalan Sungai Saddang Makassar yaitu Sandi dengan Coger, pada bulan Juli lalu.


“Penangkapan para pelaku berdasarkan laporan korban bernama Surya warga Jalan Sungai Saddang Baru dengan nomor LP : 265 / X / 2019 / RESTABES MKSR / SEK RAPPOCINI tanggal 27 Juli 2019,” ujar Kabid Humas melalui pesan singkat di Whatsapp.


Adapun modus operandinya, kata Kombes Pol Ibrahim Tompo, Salman bersama dua orang rekannya menunggu korbannya di Sungai Saddang. Setelah itu mereka pura-pura meminta tolong kehabisan bensin. Saat akan dibantu, Salman bersama temannya mengeluarkan busur dan meminta handphone.


Sementara, kabar yang menyebutkan bahwa Salman disetrum juga dibantah Kabid Humas Polda Sulsel. ia menyebutkan bahwa dari pendalaman yang telah dilakukan pihaknya, ditemukan fakta bahwa tidak ada perlakuan penganiayaan oleh polisi di Polsek Rappocini.


“Tetapi kejadian yang sebenarnya adalah perawatan yang dilakukan oleh Polri terhadap Salman atas penyakit yang telah lama dideritanya berupa bengkak dan bernanah pada area kemaluan sesuai keterangan dokter, jadi bukan karena luka baru,” pungkasnya.


Lebih lanjut Kombes Pol Ibrahim Tompo menjelaskan kronologisnya bahwa pada tanggal 17 Oktober 2019 Salman menjalani penahanan di Mako Polsek Rappocini dan tanggal 21 Oktober 2019 Salman ditangguhkan karena pelaku mengeluh sakit dan korban pencurian pun sepakat untuk berdamai dan mencabut laporannya.


Dan pada hari Kamis tanggal 24 Oktober 2019 sekitar pukul 20.30 Wita, lanjut Kombes Pol Ibrahim, Salman masuk di IGD RS Bhayangkara, untuk dilakukan pemeriksaan dengan keluhan demam. Usai diperiksa Salman diijinkan pulangkan.


Pada hari Rabu tanggal 30 Oktober 2019 sekitar pukul 17.21 Wita, Salman kembali masuk di IGD dan dilakukan pemeriksaan dengan diagnosa bisul di bagian ujung pantat (Fistel Perianal) dan dirawat, selanjutnya pada tanggal 01 November, Salman dioperasi dan dirawat di Ruang Kasuari.


"Pada hari Kamis tanggal 14 November, lanjut Kombes Ibrahim, Salman akhirnya diizinkan keluar dari RS. Bhayangkara," bebernya.


Reza Rivaldy/A

 

loading...