Skip to main content

Cerita Eksodus Wamena: Terjatuh Hingga Keguguran

Maria
Maria dan Mertuanya.(Kabar.News/Darsil)

 

KABAR.NEWS, MAKASSAR - Senin (7/10/2019), sebanyak 172 orang kembali mendarat dengan pesawat Hercules di Landasan Udara Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Mereka adalah perantau di Wamena, Papua. Tidak semuanya dari Sulsel. Ada juga dari Jawa dan Kalimantan.

 

172 orang itu adalah korban dari dampak kerusuhan yang terjadi di wilayah paling timur Indonesia tersebut. Mereka harus pulang. Suasana di negeri Cendrwasih sedang kacau. Pembakaran dan pembunuhan sedang terjadi. Entah sudah berapa korban jiwa di sana.

 

Maria Kristiani, salah seorang pengungsi dari Wamena, yang ditemui Kabar.News, menceritakan pengalaman terburuknya selama di Wamena saat kericuhan terjadi. 

 

Dengan wajah pucat dan terlihat masih shok, perempuan berusia 20 tahun itu mengaku mengalami keguguran. Dalam kondisi hamil 5 bulan, Ia terjatuh saat berlari mencoba menyelamatkan diri untuk mencari tempat yang aman.

 

"Waktu keguguran tidak sempat ke rumah sakit langsung tapi di Kodim dulu. Satu hari satu malam di sana. Saya sudah kehabisan darah, sudah lemas, sudah pucat. Saat sudah aman baru dibawa ke rumah sakit RSUD Wamena. Di sana saya dirawat selama satu hari satu malam kemudian dirawat lagi di klinik Lanud Jayapura jadi dua kali dirawat," ucapnya, saat ditemui Kabar.News, di Pengungsian.

 

"Usia kandungan saya jalan 5 bulan. Tapi saat keguguran saya belum memberi tahu keluarga, takut ngomong karena takut nyusuahin mereka," beber istri dari Aji Santoso, itu. 

 

Di temani sang mertua, Hartini (50), Maria juga meceritakan awal mula insiden kurusuhan mengerikan itu terjadi. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Ia dan masyarakat lainnya tetap berektivitas seperti biasa. Maria merantau ke Wamena sebagai pedagang di Pasar Baru, jalan Hom-Hom.

 

"Waktu itu normal aja, aktivitas seperti biasanya. Sekitar pukul 09:00 Wita, tiba-tiba ada suara bunyi-bunyi. Biasa orang asli sana yang teriak-teriak, kaya suara burung gitu. Kemudian ada ledakan. Kita masih bingung ledakan apa ternyata saya lihat sudah banyak yang terbakar," tuturnya.

 

"Anak sekolah dilempari batu sekolah dibakar, semua pada menangis diamankan sama gurunya ada yang dua hari baru ketemu," timpal Hartini. 

 

"Waktu itu belum mengungsi kita masih berdiam masih menunggu perintah dari aparat kemudian aparat bilang semua laki-laki keluar bawa apa yang bisa dibawa kita jangan mati konyol," sambung Hartini. 

 

Perempuan asal Semarang itu mengaku jika Ia di Wamena baru 2 minggu menyusul sang suami beserta mertuanya yang sehari-hari berdagang di Pasar Baru, Jalan Hom-Hom. Maria mengaku tak ingin kembali lagi ke Wamena karena merasa trauma.

 

"Tidak akan kembali lagi. Sudah trauma. Baru dua minggu di sana sama suami sudah kaya gitu, traum, takut sudah, kecewa juga jika tahunya kaya gitu, saya di Jawa saja, sampai sekarang masih shock kalau lihat ramai-ramai masih takut," tuturnya.

 

Maria tiba di Lanud Sultan Hasanuddin bersama sang suami Aji Santoso (26) serta kedua mertuanya Sukiman (60) dan Hartini (50), serta adik oparnya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Eko Pramono (11).

 

Mereka merupakan pengungsi Wamena asal Semarang yang transit di Lanud Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros. Maria dan keluarganya akan menuju Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

 

"Kami tidak ikut ke Jakarta, karena kami akan melanjutkan perjalanan ke Kutai Kaltim, di sana ada anak tertua saya tinggal," pungkas Sukiman.
 

 

Darsil Yahya / cp/A

 

loading...