Bupati Sebut Pengusiran Satgas Covid-19 Jeneponto karena Masalah Komunikasi

Maklumi lurah karena sedang berduka

Bupati Sebut Pengusiran Satgas Covid-19 Jeneponto karena Masalah Komunikasi
Bupati Kabupaten Jeneponto Iksan Iskandar. (KABAR.NEWS/Akbar Razak)






KABAR.NEWS, Jeneponto - Kasus pengusiran Satgas Covid-19 Kabupaten Jeneponto, Sulsel, dari rumah pasien yang meninggal dunia hingga kini masih bersoal. Pengusiran Satgas tersebut diduga didalangi oleh Lurah Tonro Kassi, Kecamatan Tamalatea, Muhammad Haidir, meski dia dengan tegas membantah.


Kasus ini kemudian membuat Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar terpaksa angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa penyebab kasus ini terjadi karena persoalan miss komunikasi antara satgas dan pihak keluarga yang meninggal dunia akibat Covid-19. 


Namun, pada saat mayat tersebut belum diambil oleh pihak keluarga di RSUD Jeneponto, mayat itu disebut tidak terkonfirmasi positif oleh pihak rumah sakit.


"Jangan lurahnya, Dedi (Muh. Haidir, red) itu mendapat musibah kan keluarganya meninggal lalu ada miss komunikasi karena keluar dari rumah sakit mayat ini dikatakan tidak terkonfirmasi Covid-19," ujarnya kepada KABAR.NEWS di kantor bupati, Senin, (2/8/2021).


Pihak keluarga kemudian mengambil jenazah tersebut untuk disemayamkan di kampung halaman. Namun, saat hendak dimakamkan, Satgas Covid-19 dibawa kendali Suryanigrat selaku Jubir mendatangi rumah duka.


Setiba di rumah duka, Satgas kemudian menyodorkan bukti dari laboratorium RS Wahidin Sudirohusodo jika jenazah tersebut dinyatakan terkonfirmasi positif corona.  Hal ini kemudian membuat pihak keluarga merasa geram sehingga terjadi aksi pengusiran. 


"Nah, lalu dibawa ke rumahnya. Sampai di sana kenapa ada dari petugas Satgas Covid ini membawa hasil laboratorium bahwa terkonfirmasi positif. Jadikan dari dua informasi ini orang berduga wajar saya kira bersikap seperti itu," jelasnya.


Meski demikian, tindakan oknum lurah tersebut dinilai tak elok karena ia sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang semestinya dapat mengedukasi warga. Oleh karena itu, ia meminta untuk dimaklumi.


"Kalau tindakannya kurang baik saya kira itu tidak wajar dilakukan oleh seorang Lurah. Tapi sebagai seorang pribadi, kondisi yang bertubit-tubi, dua tiga keluarganya meninggal kita juga harus maklumi," ungkapnya.


Eks Sekertaris Daerah Jeneponto ini mengaku sudah memanggil oknum lurah tersebut untuk diberikan sanksi sesuai pelanggarannya. "Saya sudah panggil satu kali karena jam 10 malam saya suruh kembali untuk dia tenang, saya akan panggil lagi hari ini," terangnya.


"Ada sanksi, sanksi inikan ada tiga tingkatan, sedang, ringan dan berat. Tergantung dari pelanggarannya. Nanti kita akan timbang-timbang dulu pelanggarannya," pungkasnya.

Penulis: Akbar Razak/B