Bom Gereja Katedral Makassar, IPW: Warning Bagi Kapolri

IPW mengingatkan kepada Kapolri untuk mempertajam penciuman intelejen kepolisian untuk mengantisipasi teror susulan.

Bom Gereja Katedral Makassar, IPW: Warning Bagi Kapolri
Presidium IPW, Neta S Pane. (Foto: Istimewa)






KABAR.NEWS,Makassar - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane mengaku kasus teror bom bunuh diri di halaman Gereja Katedral Makassar merupakan kasus pertama di era Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Sehingga Neta memberikan warning atau peringatan kepada kepolisian khususnya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar mewaspadai adanya teror susulan. 

"Kasus bom bunuh diri ini juga merupakan peringatan buat jajaran kepolisian bahwa akan ada teror-teror susulan lainnya," kata Neta kepada KABAR.NEWS saat dikonfirmasi, Senin (29/3/2021).

Neta menilai, hal ini dikarenakan masih adanya kelompok teror dan radikal yang belum berhasil diungkap jajaran kepolisian, seperti di Poso atau tempat lainnya di Indonesia. Sementara para teroris yang sudah selesai menjalani hukuman, kini bebas melakukan aktivitas tanpa terpantau jejaknya. 

"Jadi meskipun Densus 88 Antiteror sudah menangkap sejumlah teroris, termasuk di Makassar, ternyata tidak menyurutkan mereka untuk menghentikan aksinya," ujar Neta. 

Menurut Neta, kondisi ini tentu menjadi tugas berat Kapolri Sigit. Apalagi dalam waktu dekat ada momen Ramadhan dan Idul Fitri, di mana aktivitas dan kebutuhan sosial masyarakat kian meningkat. Maka perlu pengawasan ketat pihak kepolisian terhadap keselamatan masyarakat.

"Untuk itu Kapolri perlu mengkonsolidasikan jajarannya mulai dari intelijen hingga ke aparatur Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak untuk mempertajam telinga maupun penciuman jajaran kepolisian agar senantiasa mampu meningkatkan deteksi dan antisipasi dini," ucapnya. 

Selain Kapolri, Neta juga memberikan peringatan kepada jajaran Kapolda dan Kapolres di seluruh wilayah Indonesia . Di mana mereka harus mampu memanajemen wilayahnya agar jarum jatuh di wilayah tugasnya terdengar olehnya. Tujuannya agar Polri tidak kecolongan dan teror bom terjadi.

"Sebab jika teror bom sudah terjadi, korban tewas atau luka tidak hanya diderita pelaku, tapi juga masyarakat luas. Seperti teror bom di gereja di Makassar, korban luka adalah petugas gereja dan jemaat," tuturnya. 

Olehnya itu, ia berharap, kasus teror bom terutama menyerang gereja atau tempat-tempat ibadah ini, merupakan yang pertama sekaligus yang terakhir di era Kapolri Sigit. 

"Untuk itu Kapolri yang diperkuat oleh para Kapolda dan Kapolres harus melakukan pagar betis agar para teroris tidak mendapat celah untuk beraksi.

Sebab dalam pantauan IPW, kata Neta, selain di Sulsel masih ada sembilan daerah lain tergolong rawan teroris, yakni Sulteng, Jatim, Jateng, Jogja, Jabar, Jakarta, Banten, Lampung, dan Sumut. 

"Tingkat kerawanan ini makin tinggi tatkala konflik polri dengan ormas keagamaan yang dipimpin rizieq tak kunjung selesai. Belum tuntasnya kasus penembakan di km 50 tol Cikampek menyimpan dendam tersendiri bagi kelompok kelompok tertentu, yang bukan mustahil dendam itu berpotensi menimbulkan aksi teror," tandasnya. 

Dia menambahkan fenomena inilah yang patut dicermati jajaran kepolisian ke depannya agar aksi-aksi teror bom bisa ditekan atau bahkan tidak terjadi lagi.

Penulis : Darsil Yahya/A