Skip to main content

Bincang-Bincang Soal Musik, Viny Mamonto: Karya Selalu Bebas, Pemaknaan yang Beragam

Bincang-Bincang Soal Musik, Viny Mamonto: Karya Selalu Bebas, Pemaknaan yang Beragam
Viny Mamonto. (Irfan Ma'ruf)

KABAR.NEWS, Makassar - Musik merupakan bahasa universal yang paling mudah mendarat di hati dan jiwa  manusia dalam berbagai lapisan kehidupan.

Dari yang bertempo lambat sampai cepat, musik dianggap sebagai hal paling ampuh menemani keseharian manusia, apalagi untuk menghilangkan kepenatan. Lebih dari itu, musik juga dipercaya sebagai  ungkapan jujur dari realitas baik yang berbau cinta, kehidupan sosial, bentuk kritik maupun perlawanan.

Ngomong-ngomong soal musik, kali ini KABAR.NEWS ingin mengulas tentang potret musikalitas yang berkembang di zaman sekarang.

Dalam ulasan kali ini, kita bakal ditemani salah satu pemusik asal Makassar yang juga seorang pustakawan di katakerja.

Dia adalah Viny Mamonto, anak muda yang percaya bahwa gerakan keseharian yang dilakukan adalah gerakan yang sifatnya lamban dan sulit diukur namun pasti memiliki dampak, yah begitu kira-kira caption dalam salah satu foto di akun media sosialnya.

qw

Viny Mamonto. (Instagram)

Bersama viny, kami akan coba mengulik soal kualitas musik di era sekarang, perkembangan ide dan isu lagu dari masa ke masa, sampai dengan lagu yang mengandung lirik-lirik vulgar.

Kalau ingin punya sudut pandang lain dan pengetahuan tentang musik, yuk simak bincang-bincang KABAR.NEWS bersama Viny.

Halo Vin, perkenalkan diri kamu dulu

Nama lengkap Runi Virnita Mamonto, disapa Viny. Sehari-hari sebagai pustakawan Katakerja dan sesekali menyanyi di Ruangbaca

Sekarang kesibukan Viny apa?

Sekarang sibuk menyesuaikan diri jadi istri. Sesekali memikirkan tesis dan juga menjadi pustakawan di katakerja.

Gimana nih awal-awal jadi istri hehe

Asik sekali. Kami bulan madu tidak dengan berlibur kemana-mana. Bulan madu kami lebih banyak membicarakan hal-hal yang akan kami lakukan ke depan, membuat beberapa projek bersama dan lain-lain. Bulan madu ini akan terus berlanjut hingga kami memutuskan mulai menyicil rumah atau kendaraan hahaha.

Ngomong-ngomong soal musik, kenapa bisa suka sama musik?

Alamiah mungkin ya. Saya hidup dalam keluarga yang hanya punya satu pemutar CD dan tiap pagi kami berebut memutar musik kesukaan kami. Mama akan putar ABBA, papaku akan putar Trio Ambisi, saya mau dengar lagu Ambon dan adikku mau dengar Meisy. Siapa cepat dia dapat lah. Mungkin tidak lepas dari suasana keluarga.

up9

Viny Mamonto. (Instagram)

Awal Viny jadi pemusik itu gimana?

Hahaha lebih tepatnya jadi vokalis duo di Ruangbaca. Kata juri Indonesian Idol itu bedanya penyanyi dan vokalis. Penyanyi bisa menyanyikan semua lagu sedangkan vokalis hanya lagu dalam bandnya atau lagu-lagu tertentu. Saya juga tidak terlalu mahir memainkan alat musik. Tapi saya percaya, apa yang disampaikan dari hati juga akan mendarat indah di hati yang lain. 

Nah, Duo Ruangbaca, ada saya dan Ale. Kami pustakawan dan kini pustakawin hehe.

Ale dan saya sering di perpustakaan. Ale suka main gitar, saya kadang menyanyi mengikuti gitar Ale. Begitu awalnya sampai kami coba membuat lagu sendiri.

Jadi Duo Ruangbaca itu bareng suami? Gimana rasanya duet bareng suami, seru?

Rasanya lucu. Kadang kami harus membuat rapat serius di waktu dan tanggal yang kami janjikan untuk membicarakan hal-hal terkait projek duo kami. Semacam rapat.

Lagu pertamanya apa?

Lagu pertama yang kami buat judulnya "Di Balik Jendela" itu interprerasi kami terhadap tulisan kawan kami Aan Mansyur yang bercerita tentang jendela tidak sekedar interior. Lebih dari itu, jendela adalah jembatan menuju orang lain ataupun diri sendiri.

Ruangbaca suka ngisi acara di mana saja?

Ruangbaca mengisi acara mulai dari acara komunitas, acara kampus, seminar atau brand-brand.

Terus yang pertama ngajarin Viny di dunia musik itu siapa?

Saya diajari mama main gitar. Selebihnya Ale yang ajari. 

Influencer Viny di dunia musik?

Mungkin Mama saya karena beliau pelatih kor (semacam group menyanyi yang memecah suara jadi banyak sekali). Saya dulu sering ikut latihan waktu masih kecil. Tapi dulu tidak bisa menyanyi. Selalu salah nada hihi

Kalau penyanyi favorit, siapa nih Vin?

sheila on 7 dan kapal udara tentu hahaha. Suka sheila on 7 karena hampir seluruh lagunya bisa saya nyanyikan dengan mudah. Lagu-lagunya membekas. Lagu sepanjang masa.

Gendre musik favorit?

Saya mungkin tidak punya gendre favorit karena saya suka mendengarkan banyak gendre.

Bicara soal musik, gimana nih menurut Viny perkembangan musik jaman sekarang?

Pemutar musik ada di mana saja. Kalau dulu hanya di ruang keluarga, kini ada di genggaman. Setiap orang bisa memutar apa saja. Orang dulu mau beli CD, sekarang tinggal klik di hp. Makin sedikit yang beli CD atau kaset dan piringan hitam.

Kualitas, mungkin secara teknis rekaman sangat berkembang hasilnya karena alat perekam makin mutakhir. Untuk urusan aransemen dan lain-lain itu kembali lagi keselera.

Mengenai isu lagu sendiri gimana?

Kalau isu lagu, saya pernah beberapa waktu lalu main-main ke rumah teman yang punya banyak koleksi piringan hitam sejak Indonesia sebelum merdeka hingga sekarang. Setelah kami putar, ternyata masih banyak isu yang sama. Soal korupsi, percintaan, atau isu sosial lainnya, Isu kemiskinan juga tidak pernah hilang.

Saya percaya karya selalu berlandaskan bahan materil. Jika isu sebelum merdeka hingga hari ini relatif sama, artinya permasalahan yang dihadapi juga masih sama.  Lalu apa yang berkembang di Indonesia? Jumlah bangunan? Itu tidak bisa saya jawab tanpa penelitian sebelumnya hahaha

df

Viny Mamonto. (Instagram)

Kan banyak nih contoh lagu yang teksesan vulgar, pendapat viny?

Dulu Iwan Fals punya lagu Lo*teku yang publikasinya tidak seluas Bento atau Jamrud yang punya lagu soal meng*amili orang yang dia temui di Apotik.

Atau gini, ingat lagu Jamrud Surti dan Tejo kan? Itu saya dengarkan saat SD. Bagaimana surti dan tejo mulai memadu kasih saat lulus SD. Saya dengar di televisi, di radio.

Menurut saya itu tidak lepas dari keseharian yang dia lihat. Misalnya lagu "Hamil Duluan". Coba bandingkan dengan statistik pernikahan akibat hamil duluan. Mungkin lagu itu merespon fenomena tersebut.

Bukankah itu isu yang penting juga? Bahwa tingkat aborsi di Indonesia begitu tinggi? Juga perkawinan anak karena hamil di luar nikah. Bukankah lagu hamil duluan kalau kita lihat dari pespektif dont adalah sebuah nasihat agar jangan pacaran di gelap-gelapan?

Kan kalau penikmat musik mendengar lirik bisa jadi dua pemaknaan. Do or donts.

Menurut Viny, lirik vulgar ini tidak jadi masalah kalau diakses sama yang belum pantas dengar? Seperti anak-anak misalnya?

Menurutku sekarang Indonesia sedang kekurangan lagu anak. Makannya acara Idol anak-anak banyak menyanyikan lagu dewasa. Coba cek di youtube. Masalah anak-anak mendengar lagu yang harusnya tidak mereka dengar, menurutku bukan salah lagunya. Toh lagu seperti itu sudah ada sejak jaman dulu.
 Kebebasan anak kecil dalam mengakses media sosial lah yang menjadi masalah.

Lagu vulgar seperti ini juga tidak lepas dari si pembuatnya, pendapat Viny tantang karya seperti ini?

Menurutku karya selalu bebas, pemaknaan yang beragam. Akan sesuai dengan pegetahuan atau pengalaman pendengar.

Misalnya lagu "Aku rela pergi pagi pulang pagi"

Kalau perspektif romantis, ya dia sangat romantis

Perspektif ekonomi, dia seorang yang pekerja keras

Perspektif starata sosial dia ada di taraf menengah ke bawah karena pemilihan lirik selanjutnya yang cenderung pilu

Perspektif isu pekerja, pekerja lembur mendapatkan uang 
tambahan sebagai upah. Artinya gaji pokok tidak cukup membiayai keseharian. Kalau begitu harusnya UMR harus dinaikkan.

Terakhir, seberapa penting sih peran musik dalam membangun peradaban?

Di indonesia musik tidak pernah terlepas dari aktivitas masyarakat. Musik tumbuh bersama aktivitas keseharian ataupun spritual. Pada perjuangan masyarakat, musik selalu mengiringi. Menjadi pembakar semangat kala aksi solidaritas. Kini, musik banyak memiliki ruang diskusi. Musik didiskusikan, lirik dibedah dan didiskusiakan. Pasar bisa diciptakan milik ERK banyak menginspirasi orang-orang untuk membuat produk atau membuat "pasar sendiri"