BBKSDA Sulsel Gagalkan Penyelundupan Ratusan Burung Dilindungi

Burung Nuri merah adalah binatang dilindungi.

BBKSDA Sulsel Gagalkan Penyelundupan Ratusan Burung Dilindungi
BBKSDA Sulsel menyita burung nuri merah di Pelabuhan Makassar. (Foto: Istimewa)






KABAR.NEWS, Makassar - 268 ekor burung jenis Nuri Maluku (Eos Bornea) dan Perkici Pelangi (Trichoglossus Haematodus) disita Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel lantaran hendak dipasarkan secara ilegal di Kota Makassar.

Selain menyita ratusan ekor burung, petugas juga mengamankan seorang pria berinisial An. Ratusan ekor burung langka tersebut diamankan petugas di Pelabuhan Makassar, Jumat (29/1/2021).

"Jumlah burungnya 268 ekor. Terdiri dari burung Nuri Merah Maluku atau Eos Bornea 211 ekor kondisi hidup, serta 5 ekor mati mungkin karena berdesakan di kandang," kata Kabid Teknisi BBKSDA Sulsel, Anis Suratin saat ekspose di kantornya, Jumat siang.

Selain Nuri Merah Maluku, BBKSDA juga mengamankan menyita 61 ekor burung Perkici Pelangi dengan 57 di antaranya masih hidup dan 4 telah mati.

Anis menyebut, burung-burung ini dibawa dari Pelabuhan Namlea, Maluku Tengah. Dan pelaku An menerima burung itu di Pelabuhan Makassar. An melakukan transaksi dengan membayar lewat transfer.

"Burung-burung dibawa menggunakan kapal Pelni KM Dorolonda. Tiba di pelabuhan jam 6 pagi," ucap Anis.

Saat ini 268 ekor burung nuri yang disita dititipkan di kandang transit BBKSDA. An kata Anis disangkakan Pasal 21 Ayat 2 UU RI NO 5 tahun 1990 tentang konservasi SDA Hayati dan ekosistemnya.

"Ancaman nanti di Pasal 40 pidana kurungan maksimal 5 tahun penjara dan atau denda maksimal Rp100 Juta," ungkapnya.

Sementara burung-burung yang diamankan itu akan dikembalikan ke habitatnya. Namun sebelum dikembalikan petugas harus memastikan kondisi kesehatan dari satwa yang dilindungi tersebut.

"Seandainya habitatnya di sini (Sulsel) kira akan lepas liarkan di wilayah sini. Tapi kan bukan, makanya kita transporkasi ke habitat asalnya di Maluku," tuturnya..

Anis juga belum bisa memastikan apakah burung-burung itu berhasil lolos dari penjagaan aparat saat masih berada di Pelabuhan Maluku.

"Mungkin pengawasannya di sana kurang SDM ditambah pandemi Covid-19, tapi ini belum pasti. Bisa saja transaksinya di tengah laut. Pakai kapal kecil. Sementara petugasnya di darat. Banyak kemungkinan lah," pungkasnya.

Penulis: Reza Rivaldy/C