Bahaya Penyakit Demensia, Pesepakbola Diminta Kurangi Sundulan

Apa itu demensia?

Bahaya Penyakit Demensia, Pesepakbola Diminta Kurangi Sundulan
Ilustrasi pemain menyundul bola dengan kepala. (iStock Photo)

KABAR.NEWS - Pemain sepak bola diminta mengurangi intensitas menyundul bola. Hal itu karena resiko ancaman penyakit Demensia, khususnya bagi pesepakbola yang masih anak-anak.


Bahaya menyundul bola bagi para pesepakbola kembali jadi perbincangan hangat setelah legenda Manchester United Sir Bobby Charlton pada awal November ini didiagonosis terkena demensia. 


Legenda Inggris Sir Geoff Hurst, bahkan meminta otoritas sepak bola untuk melakukan pembatasan menyundul bola dan juga pelarangan sepenuhnya bagi anak-anak, karena tingginya risiko kesehatan yang dihadapi.


Mengutip Goal, pemain yang mengantar Inggris menjadi juara Piala Dunia 1966 bersama Charlton ini juga mengaku siap menyumbangkan otaknya untuk penelitian terkait risiko demensia bagi pesepakbola.


Penyakit yang sama bahkan membuat empat eks rekan setim Hurst yang lain, yakni Ray Wilson, Martin Peters, Jack Charlton, dan Nobby Stiles, meninggal dunia dalam waktu yang relatif berdekatan dalam dua tahun terakhir.


Demensia sendiri merupakan kemerosotan seluruh kegiatan pikiran karena kerusakan atau penyakit pada otak. Bagi pesepakbola, penyakit ini diduga kuat terkait dengan kebiasaan menyundul bola semasa bermain


Sebuah penelitian pada 2019 mengungkapkan, eks pesepakbola memiliki risiko terkena demensia 3,5 kali lebih tinggi ketimbang orang biasa. Hurst pun terus mewacanakan pembatasan melakukan sundulan.


"Semakin banyak orang yang membicarakannya, hal ini bisa menekan otoritas sepakbola untuk membuat keputusan," kata Hurst kepada The Telegraph.


"Bagi saya, yang menjadi bahaya adalah jumlah sundulan yang dilakukan saat latihan, bukan saat bertanding. Latihan ini [menyundul bola], mungkin jauh lebih berbahaya dari ketika Anda bertanding."


Hurst kemudian menceritakan, semasa berkarier di West Ham United, ia pernah mendapat menu latihan menyundul bola yang cukup berat.


"Kami diminta menyundul bola 15, 20, atau 30 kali dalam waktu 10 atau 15 menit. Lalu kami bermain tenis memakai kepala. Kami juga melatih melakukan sundulan ke pojok gawang selama 30 hingga 45 menit," katanya.


Tak hanya di level sepakbola senior yang jadi perhatian, Hurst juga menyuarakan kekhawatirannya terhadap pemain muda di level junior. Perkembangan otak mereka yang belum matang di usia muda membuat mereka berisiko mengalami kerusakan otak jika terus menyundul bola.