Skip to main content

Bagaimana Aplikasi Smartphone Bisa Mendeteksi Penyakit Anemia?

Bagaimana Aplikasi Smartphone Bisa Mendeteksi Penyakit Anemia?
Ilustrasi. (Mireya Acierto/Getty Images)

KABAR.NEWS - Smartphone bukan sekadar perangkat komunikasi dengan segala teknologi perangkat lunak  atau aplikasi yang melengkapinya. Ponsel cerdas juga dapat dikembangkan dalam dunia medis.


Baca juga: Pemerintah Cina Tuding Ilmuwan Perekayasa Gen Bayi Hanya Kejar Popularitas

Teranyar, insinyur biomedis dari Institut Teknologi Georgia, Amerika Serikat (AS) mengembangkan aplikasi smartphone sebagai alat untuk mendeteksi penyakit anemia non-invasif. Bukan melalui tes darah yang dilakukan secara  konvensional dalam dunia medis, tapi hanya menggunakan foto kuku.


"Ini adalah aplikasi mandiri yang dapat melihat kadar hemoglobin tanpa perlu mengambil darah," kata Peneliti Utama dalam penelitian ini, Wilbur Lam dikutip dari laman resmi Georgia Tech, Selasa (29/1/2019).


"Semua alat deteksi anemia‘ point-of-care’ lainnya membutuhkan peralatan eksternal, dan mewakili pertukaran antara invasif, biaya, dan akurasi,” tambah Lam membandingkan temuannya.


Lam yang merupakan hematologis-bioengineer klinis di Aflac Cancer and Blood Disorders Center of Healthcare of Atlanta, menjelaskan lebih jauh bahwa aplikasi ini digunakan untuk skrining, bukan diagnosis klinis anemia.

 

Lantas bagaimana aplikasi smarphone bisa mendeteksi anemia? Menurut Wilbur Lam, para peneliti mempelajari foto kuku dan mengkorelasikan warna lapisan kuku dengan kadar hemoglobin yang diukur dengan CBC pada 337 orang. Beberapa yang sehat, dan yang lain dengan berbagai diagnosa anemia. 


a
Cara kerja aplikasi smartphone anemia. (Credit/Georgia Tech)

Dengan memfoto kuku, algoritma bekerja untuk mengubah warna kuku menjadi kadar hemoglobin darah dikembangkan dengan 237 subyek ini dan kemudian diuji pada 100 orang.


Para peneliti mampu menunjukkan bahwa gambar tunggal, tanpa kalibrasi yang dipersonalisasi, dapat mengukur kadar hemoglobin dengan akurasi 2,4 gram / desiliter dengan sensitivitas hingga 97 persen. 

 

Dalam aplikasi tersebut, penggunaan alas kuku yang tidak mengandung melanin, berarti tes ini dapat berlaku untuk orang-orang dengan berbagai warna kulit. Menurut peneliti, aplikasi ini memiliki keakuratan yang konsisten untuk warna kulit gelap atau terang.


Baca juga: Ilmuwan Kembangkan Mikrobot yang Bisa Mengantar Obat ke Dalam Tubuh

Aplikasi ini menggunakan metadata gambar untuk mengoreksi kecerahan latar belakang dan dapat disesuaikan dengan ponsel dari banyak produsen.

 

Menurut para peneliti, teknologi ini dapat digunakan oleh siapa saja kapan saja dan dapat secara khusus sesuai untuk wanita hamil, wanita dengan perdarahan menstruasi yang tidak normal, atau pelari/atlet. 

 

Kesederhanaan aplikasi ini berarti dapat berguna di negara berkembang. Alat diagnostik klinis memiliki persyaratan akurasi yang ketat, para peneliti berpikir bahwa dengan penelitian tambahan, mereka pada akhirnya dapat mencapai akurasi yang diperlukan untuk menggantikan pengujian  anemia berbasis darah untuk diagnosis klinis.

 

Penelitian aplikasi anemia smartphone dipublikasi di jurnal Nature Communications 4 Desember 2018. Aplikasi ini diproyeksikan akan tersedia secara komersial untuk diunduh publik segera setelah musim semi 2019.
 

 

loading...