ATM Kritik Perusakan Tahura Sinjai Lewat Lagu Nyanyian Hutan

- Dinyanyikan pada PDLH Walhi Sulsel

ATM Kritik Perusakan Tahura Sinjai Lewat Lagu Nyanyian Hutan
Aliansi Tahura Menggugat (ATM) membentang spanduk berisi pesan penolakan pembangunan bumi perkemahan Tahura Abdul Latief Sinjai. (IST/HO)






KABAR.NEWS, Sinjai - Puluhan organisasi yang tergabung dalam Aliansi Tahura Menggugat (ATM) kembali menyuarakan kritiknya atas program pembangunan Bumi Perkemahan dan Jalur Sepeda Gunung di Tahura Abdul Latief (Tahura Mara) Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.


Jika selama ini kritik ATM disampaikan melalui aksi massa, diskusi publik, teaterikal dan opini di media massa, kali ini ATM mengekspresikan kritiknya melalui lagu berjudul "Nyanyian Hutan Hujan" yang dibawakan oleh Balantijeng Band.


Lagu tersebut menjadi salah satu pengisi acara pada Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) IX Walhi Sulawesi Selatan di Hotel Almadera, Makassar. Pertemuan tersebut berlangsung sejak, Kamis hingga Jumat (23-24/6/2022).


PDLH IX Walhi Sulsel turut dihadiri oleh lembaga anggota Walhi, simpatisan dan partisipan dari berbagai latar belakang dan dari berbagai daerah di Indonesia yang concern terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.


Personel Balantijeng Band, Akmal Uro mengatakan, pembangunan Bumi Perkemahan dan Jalur Sepeda Gunung di Tahura yang diinisiasi oleh Pemkab Sinjai dua tahun lalu sampai saat ini tidak membawa dampak positif. 


Tidak ada dampak positif terhadap hewan endemik seperti Anoa, hutan maupun masyarakat yang berada di sekitar tahura. Apalagi soal Pendapatan Asli Daerah (PAD) seperti yang diharapkan dan menjadi salah satu alasan program tersebut dipaksakan.


"Yang muncul justru masalah demi masalah, misalnya, longsor pada areal rintisan jalan dan soal retribusi yang lebih mirip pungutan liar sehingga melahirkan penolakan dari masyarakat setempat beberapa waktu lalu. Di masa mendatang pembiaran atas situasi ini dapat memicu konflik horizontal di tengah masyarakat," kata Akmal Uro dalam keterangan tertulis.


Selain tampil sebagai pengisi acara melalui lagu, pada acara yang sama ATM, mendapatkan kehormatan diundang secara khusus sebagai peserta dalam Workshop Membangun Sistem Keamanan Pembela HAM dan Lingkungan Hidup di Sulsel bersama 10 lembaga lainnya seperti KontraS Sulawesi, Anti Corruption Comite (ACC) Sulawesi, Jurnal Celebes, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar dan lainnya.


Lukman yang menjadi perwakilan ATM dalam Workshop tersebut menyampaikan, Pemkab Sinjai harus bertanggung jawab atas hilangnya 1,2 hektare hutan di Tahura Abdul Latief.


Dia juga menyebut Pemkab Sinjai bertanggung jawab atas tumbangnya pohon-pohon pada jalur bersepeda sepanjang 2 Km dengan lebar 2 M yang telah dibangun di Tahura Ma’ra. Pembangunan yang merusak habitat Anoa dan berkontradiksi dengan Visi Misi pengelolaan Tahura itu sendiri.


Lukman menegaskan bahwa upaya Pemkab Sinjai memobilisasi kegiatan penanaman pohon pada areal yang telah digunduli, merupakan kekeliruan lanjutan dari kekeliruan pembangunan bumi perkemahan dan jalur bersepeda itu sendiri.


"Hal ini didasari fakta bahwa kegiatan-kegiatan tersebut bersifat seremonial sehingga tidak ada tindakan berkelanjutan memastikan pohon yang telah ditanam tersebut tumbuh dengan baik," ujarnya.


Selain itu, Lukman melanjutkan, jenis pohon yang ditanam bukan jenis tumbuhan alamiah yang ada di sekitar Tahura Ma’ra, sehingga pohon-pohon tersebut akan kesulitan beradaptasi dan merusak kealamian hutan hujan Tahura Ma'ra.


Penulis: Syarif/B