Alasan Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 3,75 Persen

Bank Indonesia memprediksi akan ada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021.

Alasan Bank Indonesia Tahan Suku Bunga 3,75 Persen
Bank Indonesia. (Foto: Internet)












KABAR.NEWS, Jakarta - Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan pada level 3,75 persen. Alasan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan pada level 3,75 persen karena prakiraan inflasi tetap rendah. 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan selain prakiraan inflasi rendah, stabilitas eksternal juga tetap terjaga. Perry mengaku keputusan menahan suku bunga acuan juga untuk mendukung pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. 

"Adanya pemulihan perekonomian global akan berlanjut pada 2021. Aktivitas ekonomi global diprakirakan terus meningkat, didorong oleh implementasi vaksinasi COVID-19 di banyak negara, serta keberlanjutan stimulus kebijakan fiskal dan moneter," ujarnya dikutip dari detik.com, Kamis (21/1/2021). 

Perry mengaku saat ini pemulihan ekonomi global ditopang China dan Amerika Serikat serta sejumlah negara di Eropa. Tak hanya itu, negara di Asia seperti Jepang, India, serta ASEAN. 

"Ini mendorong perbaikan ekonomi dan berlanjutnya kenaikan volume perdagangan dan harga komoditas dunia," kata dia. 

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global diprakirakan menurun seiring dengan ekspektasi perbaikan perekonomian global, termasuk arah kebijakan fiskal pemerintah AS yang baru.

"Perkembangan ini kembali mendorong aliran modal ke negara berkembang dan menopang penguatan mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia," ujar dia.

Sementara terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia, Perry memperkirakan akan meningkat pada 2021. Hal itu berdasarkan sejumlah indikator pada Desember 2020 telah mencerminkan perbaikan sedang berlangsung.

"Misalnya aktivitas ekspor dan impor yang meningkat, PMI manufaktur yang mulai membaik, hingga ekspektasi penjualan dan konsumen yang masih tetap baik," tutur dia.

Kemudian program vaksinasi nasional sudah dimulai awal tahun ini dan disiplin diimbangi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat diharapkan bisa mendukung proses pemulihan ekonomi domestik.