Ada Tumpahan Minyak, Tangki KRI Nanggala Diduga Bocor

Dibeberkan Kasal TNI AL

Ada Tumpahan Minyak, Tangki KRI Nanggala Diduga Bocor
Kapal Selam KRI Nanggala-402 pada tahun 2015. (Foto: US Navy)












KABAR.NEWS, Badung - Kapal Selam KRI Nanggala-402 hingga saat ini belum ditemukan sejak dinyatakan hilang kontak pada Rabu kemarin, di perairan utara Bali. 


Dalam proses pencarian, ditemukan adanya tumpahan minyak pada beberapa titik diduga berasal dari kapal tersebut. Mengenai tumpahan minyak tersebut, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal)  Laksamana TNI Yudo Margono memberi penjelasan.


Dia menyebutkan ada dua kemungkinan tumpahan minyak tersebut, salah satunya diduga karena tangki Kapal Selam KRI Naggala mengalami keretakan sehingga terjadi kebocoran.


"Karena sampai sekarang kapalnya belum terdeteksi sehingga kemungkinan kemungkinan tersebut adalah yang pertama kemungkinan tangkinya mengalami keretakan sehingga bocor," kata Yudo Margono saat konferensi pers di Base Ops Lanud Ngurah Rai, Badung, Bali, dikutip dari Antara, Kamis (22/4/2021).


Ia menjelaskan untuk kemungkinan pertama yaitu karena hingga saat ini kapalnya belum terdeteksi sehingga kemungkinan tangkinya mengalami keretakan sehingga bocor karena, kondisi black out  masuk ke dalam terus dengan kedalaman kurang lebih 500-700 ini bisa retak.


Selanjutnya, kemungkinan kedua, yaitu apabila masih bisa melayang di kedalaman 50-100 kemungkinan ABK nya membuang bahan cair yang ada di kapal tersebut.


"Di situ ada oli dan ada minyak, dihembuskan dibuang dalam upaya ini untuk mengapungkan. Jadi untuk meringankan berat kapal tersebut sehingga bisa kondisinya bisa melayang. Ya jadi yang tumpahan minyak tadi ada dua kemungkinan," katanya.

Sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen TNI Achmad Riad menjelaskan temuan-temuan terkait beredarnya pemberitaan tentang kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak. Ia menegaskan bahwa temuan ini tidak cukup data untuk mengidentifikasi kontak dari KRI Nanggala.


Temuan pertama yang mengatakan ada penemuan tumpahan minyak dan solar di beberapa lokasi yang berbeda. Selain itu, terlihat visual pertama Heli Panter HS 4211 posisi 07 derajat, 49 menit 74 detik, lintang selatan 114 derajat, 50 menit 78 detik, bujur timur, radius 150 m.


"Kemudian katanya KAL Bawean yang juga menemukan tapi lokasi tidak dilaporkan selanjutnya KRI Raden Eddy Martadinata (REM) 331 melaporkan juga menemukan di posisi 07 derajat, 51 menit 92 detik, lintang selatan kemudian 114 derajat 5 menit 77 detik bujur timur area sama seluas kurang lebih 150 m," katanya.


Selanjutnya, temuan kedua terkait berita temuan minyak KRI REM 331 yang melaporkan secara lisan telah terdeteksi pergerakan di bawah air dengan kecepatan 2,5 knot. Lalu kontak tersebut kemudian hilang.