3 Mahasiswa di Makassar Terlibat Pembuatan Tembakau Sintetis

pelaku diamankan di 2 lokasi berbeda di Kota Makassar

3 Mahasiswa di Makassar Terlibat Pembuatan Tembakau Sintetis
Para pelaku jaringan produsen tembakau sintetis yang ditangkap polisi. (Kabar.news/ Reza)






KABAR.NEWS, Makassar - Tim Ubur-ubur Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar membongkar sindikat jaringan produsen dan pengedar tembakau jenis sintetis.

Dari pengungkapan itu polisi mengamankan sebanyak 5 orang pemuda, masing-masing bernama Virgiawan (16), Muh Iksan Nur (19), Muh Fadhil (19), Muh Farel (18) dan Izam Zainul (20).

Wakasat Narkoba Polrestabes Makassar, Kompol Indra Waspada Yudha mengatakan, para pelaku ini diamankan di 2 lokasi berbeda di Kota Makassar. Diawali dengan ditangkapnya Virgiawan dan Iksan, di Jalan Toa Daeng, Kota Makassar, pada Kamis (11/3/2021).

"Di TKP pertama, kedua orang tersebu kami temukan 57 sachet tembakau sintetis," kata Indra kepada wartawan di Mapolrestabes Makassar, Sabtu (13/3/2021) petang.

Setelah mendapatkan informasi dari kedua pelaku ini, polisi pun langsung bergerak cepat ke lokasi yang merupakan pabrik narkoba jenis tembakau sintetis itu, di Jalan Abdesir, Makassar. Disitu polisi mengamankan 78 sachet tembakau sintetis.

"Di TKP kedua kita amankan tiga orang. Dimana ketiga pelaku tersebut berstatus mahasiswa. Yang mana TKP kedua ini merupakan home industri (pabrik) dari tembakau sintetis ini," ungkap perwira polisi berpangkat satu bunga melati itu.

Selain mengamankan barang bukti puluhan sachet tembakau sintetis, polisi juga menyita bahan-bahan yang digunakan para pelaku untuk menyulap tembakau biasa menjadi narkoba. "Ada juga bibitnya sehingga setelah jadi, siap diedarkan melalui online dengan (instagram)," ucap Indra.

Indra menjelaskan, ke lima pelaku ini mempunyai peran masing-masing, dimana Virgiawan dan Iksan sebagai kurir barang haram itu, dan tiga lainnya sebagai pembuat.

Para pelaku pun dijerat dengan pasal 112 ayat 2 dan pasal 114 ayat 2 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman seumur hidup dan minimal 15 tahun.

Penulis : Reza Rivaldy/B