20 ABK Indonesia Ditelantarkan di Perairan Timor Leste, Kelaparan Juga Minum Air Hujan

Tidak digaji 4 bulan

20 ABK Indonesia Ditelantarkan di Perairan Timor Leste, Kelaparan Juga Minum Air Hujan
Kondisi para ABK MT. Ocean Star di perairan Timor Leste. (Foto: Istimewa)






KABAR.NEWS, Makassar - Puluhan anak buah kapal (ABK) Kapal MT Ocean Star asal Indonesia terlantar di perairan Timor Leste. Kabar mengenai terlantarnya 20 ABK tersebut diketahui dari video yang diunggah ke media sosial.


Berdasarkan video yang diterima KABAR.NEWS pada Kamis (17/6/2021), kondisi para ABK yang merasa ditelantarkan terlihat sangat memprihatinkan.


Dalam video itu terlihat, para ABK duduk berkumpul di dek kapal. Sebagian dari mereka terlihat memakan mie instan tanpa dimasak. Ada juga sedang menimbah air di laut untuk keperluan lain.


Salah satu ABK bernama Amir Hamza asal Desa Parasangang Beru, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sulsel, yang dihubungi mengatakan bahwa ia berada di kapal itu sejak 2 April. Beberapa ABK lainnya sudah dalam keadaan sakit.


Mereka berada dalam kapal yang hampir tenggelam. Ketinggian air sudah mencapai setinggi betis orang dewasa. "Ada kebocoran pak air setinggi betis. Dan kalau dibiarkan beberapa hari bisa semakin naik airnya," ujar Amir saat dihubungi, Kamis.


Dia menjelaskan awal mula dirinya berada di kapal ini hingga ditelantarkan perairan Timor Leste. Amir menyebut, pada 8 Februari 2021, ia bersama ABK lainnya bergabung di pulau Batam. Mereka direkrut oleh PT. Niaga Sipping Internasional untuk bekerja di kapal  MT. Ocean Star. 


"Tanggal 10 saya diantar ke kapal yang letaknya di Tanjung Uban, Batam. Tanggal 8 Maret kapal kami bertolak dari Tanjung Uban menuju Wini, NTT dan tiba tanggal 16 Maret 2021 pukul 00.00 WIT," ungkapnya.


Berada di Wini NTT selama beberapa hari, para ABK kemudian diberangkatkan lagi menuju ke Dili, Timor Leste pada tanggal 2 April sekira pukul 23.05 WIT. Alhasil, mereka pun ditelantarkan hingga tak dipedulikan lagi.


"Sesampainya kami di Timor Leste kapal kami tidak pernah dioperasikan oleh pihak pencarter di Timor Leste," terangnya.


Di Kapal MT. Ocean Star, Amir bertugas sebagai masinis mesin yang bekerja pada bagian mesin. Sejak bekerja selama 4 bulan, gaji para ABK belum dibayarkan. Untuk dirinya, sebesar Rp100 juta lebih.


"Adapula keluhan kami di kapal pertama gaji kami sudah berjalan 4 bulan tidak dibayarkan," katanya.


Bukan hanya gaji para ABK tersebut yang belum dibayarkan, juga kebutuhan sehari-hari mereka seperti makan, minum juga tak diberikan oleh pencarter.


"Suplay bahan bakar dan air tawar beserta makanan terakhir tanggal 11 Mei kami dikasih dan tanggal 1 Juni semua sudah habis. Dan sampai sekarang ini kami tidak disuplai lagi bahan itu," beber Amir.


Ia dan ABK lainnya hanya mengandalkan uluran tanggan dari ABK kapal lain untuk bertahan hidup.


"Adapun yang membantu kami yaitu dari pihak KBRI itupun makanan seadanya dan tidak ada air tawar yang ada hanya air botol kemasan untuk minum saja," ucapnya. Bahkan, kata dia, untuk keperluan masak mereka hanya mengandalkan air hujan turun.


"Jami tadah itulah yang kami pake untuk memasak di kapal, itupun kalau hujan turun pak, yang kami harap di sini perhatian pemerintah Indonesia agar dapat memulangkan kami ke kampung halaman dan beserta hak-hak kami yang selama kurang lebih 4 bulan itu dipenuhi demikian pak," pungkasnya.


Belum ada keterangan dari PT. Niaga Sipping Internasional dan KBRI di Timor Leste terkait nasib para ABK yang merasa ditelantarkan tersebut.


Penulis: Akbar Razak/B