Skip to main content

Tunda Kenaikan Harga Premium, Presiden Jokowi Disebut Pahlawan Kesorean

a
Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato di Worl Economic Forum ASEAN, di Hanoi, 12 September 2018. (Twitter @Jokowi)

KABAR.NEWS, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunda kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium, Minggu (10/10/2018) padahal beberapa jam sebelumnya telah diumumkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, Ignasius Jonan.



Sikap Presiden Jokowi menunda kenaikan BBM Premium menjadi Rp7.000 di wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) menuai reaksi dari kubu Partai Demokrat. Jokowi dinilai hanya pencitraan dan menjadi pahlawan kesorean.

"Saya pikir ini hanya upaya menciptakan sosok presiden (Jokowi) sebagai pahlawan. Sayangnya pahlawan kesorean," kata Kepala Divisi Hukum dan Advokasi DPP Demokrat, Ferdinand Hutahaean, dilansir dari CNN Indonesia.

Penundaan kenaikan harga BBM jenis premium, menurut Kementerian ESDM karena alasan menunggu kesiapan PT Pertamina. Sembari menanti kesiapan daya beli masyarakat.

Sindirian Ferdinand Hutahaean kepada pemerintah khususnya kepada Jokowi karena menunda kenaikan harga premium, juga disampaikan melalui akun twitter miliknya @LawanPolitikJW. Ferdinand menulis tweet sebagai berikut:

"Ini rejim sendagurau. Menteri umumkan BBM Naik, Presiden membatalkan, Staffsus MenBUMN menyatakan Pertamina tidak siap, Pertamina menyatakan tdk tau menahu kenaikan harga BBM. Negara diurus dengan canda dan senda gurau. Tidak ada kordinasi dan semua berjalan semaunya," tulis Ferdinand di twitter.

 

 

Bukan hanya Ferdinand, politis Demokrat lainnya juga menyinggung sikap Jokowi menunda kenaikan harga premium. Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief membandingkan sikap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi Presiden, politik kebijakan Jokowi dalam konteks kenaikan harga premium.

"Tahun 2008 menjelang Pemilu, SBY berani menanggung resiko menaikkan BBm demi menyelamatkn perekonomian ketimbang berfikir elektabikitas. Tak ada ragu2," cuit Andi Arief di akun twitternya.



Menanggapi kritikan kubu opisisi terhadap penundaan kenaikan harga premium, Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin meminta penundaan kenaikan harga Premium tak selalu dikaitkan dengan Jokowi.

"Tak usah berkomentar yang aneh-aneh dengan menyerang Jokowi, semakin Jokowi diserang, semakin banyak orang yang senang dengan Jokowi," katanya, dikutip dari CNN Indonesia.