Skip to main content

Tips Dokter: Pola Hidup Sehat, Mengendalikan Faktor Pencetus Serangan Asma

Tips Dokter: Pola Hidup Sehat, Mengendalikan Faktor Pencetus Serangan Asma
dr. Elim Jusri, S. Ked. (IST)


KABAR.NEWS - Asma adalah penyakit saluran napas kronik yang penting dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia. 


Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas, akan tetapi dapat bersifat menetap dan mengganggu aktivitas bahkan kegiatan harian. 

 


ilustrasi
Ilustrasi pengidap asma. (Dok. Medical News Today)


Kemajuan ilmu dan teknologi di belahan dunia ini, tidak sepenuhnya diikuti dengan kemajuan penatalaksanaan asma, hal itu tampak dari data berbagai negara yang menunjukkan peningkatan kunjungan ke darurat gawat, rawat inap, kesakitan dan bahkan kematian karena asma.

 

Berikut ini beberapa tips untuk mengendalikan faktor pencetus serangan penyakit asma:


1. Meningkatkan kebugaran fisis


Olahraga menghasilkan kebugaran fisis secara umum, menambah rasa percaya diri dan meningkatkan ketahanan tubuh. Walaupun terdapat salah satu bentuk asma yang timbul serangan sesudah exercise (exercise-induced asthma/ EIA), akan tetapi tidak berarti penderita EIA dilarang melakukan olahraga. Bila dikhawatirkan terjadi serangan asma akibat olahraga, maka dianjurkan menggunakan beta2-agonis sebelum melakukan olahraga.


Ilustrasi kebugaran fisik. (INT)
Ilustrasi kebugaran fisik. (INT)

Senam Asma Indonesia (SAI) adalah salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena melatih dan menguatkan otot-otot pernapasan khususnya, selain manfaat lain pada olahraga umumnya. Senam asma Indonesia dikenalkan oleh Yayasan Asma Indonesia dan dilakukan di setiap klub asma di wilayah yayasan asma di seluruh Indonesia.

 

Manfaat senam asma telah diteliti baik manfaat subjektif (kuesioner) maupun objektif (faal paru); didapatkan manfaat yang bermakna setelah melakukan senam asma secara teratur dalam waktu 3 – 6 bulan, terutama
manfaat subjektif.

 

2. Berhenti atau tidak pernah merokok


Asap rokok merupakan oksidan, menimbulkan inflamasi dan menyebabkan ketidak seimbangan protease antiprotease. Penderita asma yang merokok akan mempercepat perburukan fungsi paru dan mempunyai risiko mendapatkan bronkitis kronik dan atau emfisema sebagaimana perokok lainnya dengan gambaran perburukan gejala klinis, berisiko mendapatkan kecacatan, semakin tidak produktif dan menurunkan kualiti hidup. 


A
Menolak rokok. (Ilustrasi/INT)


Oleh karena itu penderita asma dianjurkan untuk tidak merokok. Penderita asma yang sudah merokok diperingatkan agar menghentikan kebiasaan tersebut karena dapat memperberat penyakitnya.

 

3. Lingkungan Kerja


Bahan-bahan di tempat kerja dapat merupakan faktor pencetus serangan asma, terutama pada penderita asma kerja. Penderita asma dianjurkan untuk bekerja pada lingkungan yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat mencetuskan serangan asma. 


Apabila serangan asma sering terjadi di tempat kerja perlu dipertimbangkan untuk pindah pekerjaan. Lingkungan kerja diusahakan bebas dari polusi udara dan asap rokok serta bahan-bahan iritan lainnya.

 

Faktor risiko asma yang sering menginduksi gejala asma adalah perubahan suhu terkait kondisi geografis, alergen, aktivitas fisik, asap rokok, ekspresi emosi yang berlebihan, dan polusi udara. Penderita asma tidak melakukan tindakan pencegahan yang direkomendasikan terhadap paparan faktor risiko asma. 

 

Perburukan tingkat kontrol penyakit asma terjadi akibat kemunculan gejala harian yang sering. Ditemukan hubungan yang signifikan antara faktor risiko asma dengan tingkat kontrol penyakit asma, namun perilaku pencegahan tentang paparan tidak memiliki hubungan dengan tingkat kontrol penyakit asma.


Sumber : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma Di Indonesia

  • Penulis: dr. Elim Jusri, S. Ked (Dokter Umum di RSUD Syech Yusuf Kabupaten Gowa)

 

loading...