Skip to main content

Teuku Faisal Fathani, Leadership Academic Penemu Alat Deteksi Longsor

Teuku Faisal Fathani, usai menerima Leadeship Academic di Kampus UNM, Kamis (19/8/2017). (KABAR.NEWS/Arya Wicaksana)

KABAR.NEWS, Makassar - Ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah, itulah motto Teuku Faisal Fathani, penemu alat deteksi bencana longsor dan peraih gelar Leadership Academic oleh Kemenrisetdikti pada malam puncak Hakteknas 2017, di Uiversitas Negeri Makassar, Kamis (10/8/2017) pekan lalu.

Gelar Leadership Academic diganjar kepada Teuku Faisal Fathani atas konsistensi dan dedikasinya terhadap inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna bagi bangsa dan negara Indonesia.

Dosen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada ini, telah menorehkan sejumlah karya Ilmiah yang bermanfaat dan dapat digunakan langsung di masyarakat. Antara lain, alat deteksi sedimen, alat deteksi banjir, banjir bandang dan longsor.

"Ini kebetulan saya menghasilkan inovasi alat - alat deteksi dini sedimen, banjir, banjir bandang, longsor kemudian kita menulis banyak jurnal tentang itu, kita implementasikan dan dipatenkan di 28 provinsi di Indonesia dan juga di luar negeri, di Myanmar, Sri Langka dan Timor Leste," tutur Teuku Faisal Fathani, usai menerima penghargaan Leadership Academic di UNM.

Menurutnya, penghargaan yang diterima tersebut merupakan bentuk apresiasi atas konsistensinya dalam menerbitkan karya Ilmiah di Jurnal bereputasi, kemudian dihilirisasi dan dianggap telah menghasilkan nilai komersil yang cukup besar "Juga distandarisasi di tingkat Nasional maupun di tingkat internasional," ungkap Teuku Faisal Fathani.

Selain itu, pemilik 5 hak paten dengan 35 variannya ini, memulai karya ilmiahnya dengan model pendekatan matematis dibidang transportasi seperti sepeda, sepeda motor dan mobil. 

Menurut peraih gelar Philosophy of Doctor dari Tokyo University ini, sejumlah karyanya seperti alat deteksi longsor, memiliki varian harga dari yang mulai paling murah dari 100 dollar hingga bernilai ratusan juta rupiah dan telah digunakan dibeberapa perusahaan besar di Indonesia.

"Seperti alat deteksi ini ada yang paling murah, dari harga 100 Dolar sampai yang paling mahal yang digunakan di freeport, pertamina, kemudian di Inco (PT. Vale) Sorowako dan Arutmin. Dan banyak sudah perusahaan yang memasang," ujar Teuku Faisal Fathani.

Teuku Faisal Fathani menceritakan awal ketertarikannya pada bidang bencana alam dimulai sejak tahun 2000-an. Atas ketertarikannya terhadap bidang tersebut, Teuku Faisal Fathani melanjutkan pendidikan di Tokyo University Jepang selama tiga tahun.

"Saya fokus di bidang Geoteknik yang berkaitan dengan bumi dan tanah. Ketika pulang, saya konsisten meluruskan riset tersebut, sehingga menghasilkan inovasi - inovasi yang cukup banyak," kata alumni UGM ini.

Dalam hal riset, Teuku Faisal berminat pada simulasi matematik, untuk mengetahui kecepatan terjadinya gerakan longsor dan the brislow. Ketertarikan di bidang tersebut mendorong Teuku Faisal Fathani, 

"Hobby saya memang ke model matematik, tapi saya terpanggil untuk memberikan kontribusi langsung ke masyarakat. Perhitungannya untuk mengetahui gerak longsor seperti apa, gerakannya secepat apa, gerakannya bagaimana," kata Teuku Faisal Fathani.

Kedepan ia berharap agar dapat menciptakan generasi yang dapat melanjutkan pencapaian - pencapaiannya di bidang Geoteknologi. "Visi misi saya yang besar ke depan adalah menciptakan teacher leader, agar suatu saat masa saya berakhir dan mahasiswa - mahasiswa saya harap yang ambil alih," harapnya.

Teuku menilai Indonesia merupakan negara besar, namun sampai saat ini, kata Teuku, Indonesia belum bisa menciptakan sesuatu yang besar, "Saya pernah diundang ke Brazil, Jepang dan bulan lalu Slovenia. Mereka bukan negara yang maju, tapi mereka mengundang saya untuk memotivasi anak - anak muda di sana agar bisa seperti Indonesia," pungkas Teuku.

Teuku memberi saran, inti dari semua pencapaiannya hari ini adalah passion dari setiap akademisi dan rasa ingin tahu atau penasaran yang harus dimiliki. Bagi Teuku, ilmu yang Ia miliki  senantiasa berorientasi pada pengamalan yang sifatnya ilmiah.

"Jadi, saya punya motto, mottonya itu adalah saya orang yang berilmu, ilmu saya harus saya amalkan. Kalau saya ingin beramal, saya tidak serta merta misalnya hanya demo, saya mengamal dengan ilmiah," tandas Teuku Faisal Fathani.

  • Arya Wicaksana