Skip to main content

Terungkap, Setoran Jukir Liar "Dimainkan" Oknum PD Parkir

Aktivitas juru parkir di salah satu ruas jalan di Kota Makassar. Terlihat, jejeran kendaraan roda dua terparkir memakan badan jalan. (KABAR.NEWS/Irvan Abdullah - Andi Frandy)

 

KABAR.NEWS, Makassar - Dalam sepekan terakhir ini, Perusahaan Daerah (PD) Parkir Makassar Raya kembali dibuat sibuk. Sebab, sejumlah Juru Parkir (Jukir) liar masih tetap bebas beroperasi. Alhasil, PD Parkir pun memanen keluhan dari sejumlah warga di Kota Makassar.

Pantauan KABAR.NEWS di beberapa lokasi, para Jukir mematok harga yang bervariatif. Di Jalan Mawas misalnya, tarif parkir yang dipatok para jukir sebesar Rp5000. Alasannya, tarif sebesar itu untuk mengantikan helm pengunjung yang hilang.

Bahkan, para jukir ini secara terang-terangan mengatakan, uang dari hasil parkir, juga disetor ke oknum petugas PD Parkir dan jukir legal yang mereka sebut bos.

Saripuddin (36), salah seorang Jukir yang kerap beroperasi di Jalan Mawas, tepat disamping Mall Ratu Indah (MaRi) mengatakan, dalam sehari ia dapat mengantongi uang sekitar Rp150.000 hingga Rp200,000. Semua tergantung dari banyaknya pengunjung. Sementara, dilokasi ini, terdapat 11 titik parkir yang dijaga masing-masing Jukir.

"Dari satu titik, para jukir mampu meraup keuntungan sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 perhari. Jika diratakan Rp150.000 per titik, maka 11 titik parkiran memperoleh Rp45 juta perbulan. Tapi pendapatan ini juga kita setor ke petugas PD Parkir sebesar Rp15.000," ungkap Saripuddin.

Hal senada diutarakan Rais. Namun, uang hasil parkiran yang disebut Saripuddin berbeda dengan Rais. "Kalau yang kami setor ke petugas sebesar Rp23.000 perhari," katanya.

Bahkan, rencana pengawasan yang akan dilakukan PD Parkir di lokasi tersebut diprotes Rais."Saya tidak setuju kalau ada campur tangan PD Parkir, seperti melakukan pengawasan. Karena itu uang kita bagi berapa juga, PD Parkir kita juga kasih Rp23.000 pertitik dalam sehari, belum lagi sama bos," ujar Rais.

Belakang, terungkap bahwa alasan mahalnya tarif parkir di Jalan Mawas ini karena dikomandoi oleh Jukir legal (yang terdaftar di PD Parkir).

Salah seorang Jukir Jalan Mawas, Muhammad Ardianto mengungkapkan, alasan tarif parkir Rp5000 per motor karena bos mereka, yang tercatat sebagai jukir legal, mematok target setoran yang harus dikumpul setiap hari, sebesar Rp850.000.

"Mau diapa, karena kita ditargetki juga menyetor, Rp650.000 sampai Rp750.000 di hari biasa. Kalau hari Minggu atau libur sampai Rp850.000 dan itu kita setor ke pak Didi (jukir legal). Biasa 5000 paling tinggi, karena kita juga ditarget, jadi tinggi memang," ujar Ardianto kepada KABAR.NEWS.

Ia mengaku, hal itu terpaksa dilakukan mengingat jukir legal yang memperkerjakan mereka mengharuskan menyetor sesuai target. Jika tidak, akan dibayar dobel di hari berikutnya.

"Hasil dari target setoranlah yang akan dibagi ke empat rekan kami. Jadi kalau bukan orang langsung (jukir legal) yang bilang begitu, saya ndak akan kerjakan. Kalau tidak sampai targetnya, kita bayar besoknya. Setengah matiki juga. Kalau saya dapat pribadi Rp75.000 perhari karena dibagi empat, disini kita jaga," bebernya.

Penelusuran KABAR.NEWS berlanjut ke Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, tepat di depan Makassar Town Square (M-Toz).

Kendati tarif yang dipatok sebesar Rp2000, namun di lokasi ini, para Jukir harus menyetor uang hasil parkiran ke petugas PD Parkir sebesar Rp150.000 perhari. Namun, dalam beroperasi, mereka tidak mengenakan rompi resmi dari PD Parkir dan tidak disertai karcis parkir yang merupakan syarat yang diterapkan.

Akbar, warga Sungguminasa, Kabupaten Gowa yang beroperasi di wilayah itu mengatakan, disini terdapat tiga titik parkiran. Satu titik dihitung Rp50.000, sehingga jika ditotalkan sebesar Rp150.000 yang harus disetor. "Setiap hari PD Parkir datang menagih. Biasanya dia menagih sekitar pukul 20.30 hingga pukul 21.00 Wita," ujar bapak dua orang anak itu.

Ia mengaku, pendapatannya dalam sehari dari satu titik berkisar Rp150.000. Nantinya, dari hasil itu kemudian dibagi bersama dua rekannya. "Terus keluar lagi (disetor) ke PD Parkir sebesar Rp50.000. Jadi kalau dihitung bersih, perhari saya dapat Rp50.000," kata Akbar.

Terpisah, Irma, salah satu karyawan M-Toz yang bertugas menjaga pos parkir di pintu keluar M-Tos menuturkan, kebanyakan pengunjung lebih memilih memarkir kendaraannya di luar Mall dibanding parkir di dalam. "Kalau di dalam kita hitung perjam, setiap jamnya itu Rp2000. Tapi sebenarnya lebih aman parkir di dalam," ujarnya.


Setor Hingga ke Oknum Polisi

Ratusan kendaraan roda dua maupun empat terlihat berseliweran di sekitar gedung Mall Panakkukang, tepat dibawa terowongan Mall Panakkukang, Makassar. Terlihat, jejeran kendaraan roda dua terparkir memadati lokasi itu. Sementara, para jukir tanpa mengenakan rompi, id card, hingga karcis parkir, sibuk menata posisi kendaraan pengunjung.

Agus (52), Jukir yang beroperasi di wilayah tersebut menuturkan, perbulan ia menyetor ke petugas PD Parkir sebesar Rp500.000 hingga Rp700.000. Jumlah itu dihitung pertitik. Sementara, lokasi parkir yang mengubungkan antara bangunan Mall dan Hotel SwissBelin ini, sebanyak 5 titik parkiran.

Selain menyetor ke petugas, dia juga membagikan ke tiga anggotanya sebesar Rp50.000 hingga Rp60.000 perhari. Namun, menanyakan jumlah pendapatan yang diraup perhari, Agus enggan menjawab. Hanya saja, ia menegaskan jika tarif yang dipatok permotor sebesar Rp2000. Bahkan, Agus mengaku kerap menyetor ke oknum polisi.

"Permotor saya tetapkan Rp2000. Kadang saya juga setor ke polisi, tapi seadanya. Hanya uang keamanan," akunya.

Beroperasi tanpa rompi, karcis, hingga id card, Agus dengan entengnya menjawab, aturan itu sama sekali tidak diberlakukan di wilayah ini. "Jadi kapan ada yang berani menyentuh ini wilayah maka pastimi baku hantam besar-besaran orang, apalagi kita ini resmi, karena membayar setoran ke PD Parkir," ungkap Agus kepada KABAR.NEWS, Selasa (16/5/2017).

Atas pengakuan itu, Kapolsek Panakkukang, Kompol Dodik membantah. "Yang begitu tidak ada, bahkan tidak ada anggota kami yang melakukan penjagaan atau pemantauan khusus di wilayah parkir itu," tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Utama PD Parkir Makassar Raya, Irianto Ahmad mengaku, belum mengetahui perihal tersebut, Terutama jumlah setoran jukir di Jalan Mawas, tepat disamping Mall Ratu Indah (MaRi).

"Saya akan cek ke bendahara perihal itu, berapa yang disetorkan juru parkir Jalan Mawas ke PD Parkir," ujar Irianto kepada KABAR.NEWS melalui WhatsApp, Sabtu (13/5/2017) kemarin.

Idealnya, kata dia, sistem penyetoran pendapatan antar jukir dan PD Parkir yakni melalui sharing 40 persen. Dan 60 persen yang dapat diketahui nominalnya melalui blok karcis yang diberikan kolektor parkir ke jukir. "Sharing melalui karcis yakni 40 persen untuk PD Parkir, dan 60 persen untuk mereka (juru parkir)," terangnya.

Selain sharing pendapatan, kata Irianto, pihaknya menerapkan sistem target ke jukir. Hal ini sebagai upaya mencegah kebocoran pendapatan parkir. Mengingat, banyak jukir yang tidak memberlakukan karcis.

"Kolektor tetap punya tanda terima karcisnya, kemudian kolektor dan jukir ada tanda terimanya. Cuma yang saya heran kenapa tidak gunakan karcis. Makanya saya pakai backup target, ada kolektor yang menyampaikan, harus jukir yang menyetujui targetnya," pungkasnya.

 

Janji PD Parkir Bentuk Tim Terpadu Patuh Parkir

Sebelumnya, Dirut PD Parkir Makassar Raya, Irianto Ahmad meresmikan alat Smart Parking yang ditempatkan di bilangan Thopaz, Jalan Boulevard Makassar. Smart Parking merupakan sebuah sistem pembayaran parkiran yang dilakukan secara cash.

Dimana, kata Irianto, hanya dengan menggunakan kartu Brizzi yang dikerjasamakan dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), pengguna parkir cukup menggesek ke mesin Elektronic Data Capture (EDC).

Hanya saja, alasan belum diterapkannya Smart Parking karena, pihaknya masih menunggu proses evaluasi dalam menata parkir yang makin semrawut. Selain itu, pihaknya masih dalam tahap sosialisasi, dengan melibatkan beberapa SKPD terkait, seperti Dishub dan pihak aparat keamanan yang tergabung dalam tim patuh parkir.

"Kenapa ini (smart parking) masih saya tahan, karena kita adakan evaluasi secara menyeluruh tentang bagaimana jukir menata perparkiran secara profesional. Makanya dalam waktu dekat ini kita akan meluncurkan tim terpadu patuh parkir 2017," tuturnya.

Ia berjanji, dalam waktu dekat, pihaknya akan maksimal memfokuskan beberapa titik padat. Salah satunya di wilayah Panakkukang. "Saya usahakan maksimal tahun ini," tandas Irianto, Selasa (16/5/2017).

 

Jauh Dari Target

Sementara, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Makassar melalui Kasubid Pajak Parkir dan Reklame, Adiyanto mengungkapkan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) PD Parkir Makassar Raya di Tahun 2017 mengalami peningkatan

Hal ini berdasarkan data Triwulan l di Tahun 2016 dan tahun 2017 yang mengalami peningkatan sekitar 10 persen. Namun, menurut Adiyanto, nilai ini masih jauh dari target yang ditentukan, yakni Rp20 Miliar dengan deviden sekitar Rp2 Miliar.

"Dibandingkan triwulan I 2016, ada peningkatan sekitar 10 persen, meskipun masih jauh dari target.
2016 lalu kami belum capai target Triwulan I 2016 dengan realisasi target  10,1 persen," ujar Ardianto, Selasa (16/5/2017).

Adapun realisasi target di Triwulan l Tahun 2017 mencapai 13,35 persen dengan nominal pendapatan sebesar Rp3.605.072.914, sedangkan Triwulan l 2016 sebesar Rp2.742.363.821.

Atas hal itu, Irianto Ahmad mengatakan, pihaknya optimis dapat menyumbangkan PAD yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya yakni sebesar Rp20 Miliar.

"Sebanyak Rp20 Miliar pendapatan yang kita target dengan deviden Rp2,2 Miliar yang tadinya di Tahun 2016 hanya Rp1,2 Miliar," kata Irianto.

  • Andi Frandy - Degina Adenessa