Skip to main content

Ramadan Bukan Selebrasi Ibadah

opini
Muh. Taufiq Al Hidayah (Dok: IST)

Lapar dalam berpuasa adalah sebuah keniscayaan. WS Rendra dalam puisinya “Doa Orang Lapar”, menyebut kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam. Maksud laparnya Rendra bukan hanya sisi biologis, namun juga psikologis. Jika biologis dapat diobati dengan makan, namun lapar psikologis erat kaitannya dengan keinginan atau nafsu seseorang. Bila tak segera diobati, maka lapar-lapar yang lain akan berkembang biak. 

Apa yang dimaksud oleh Rendra mungkin juga tercermin pada sikap kita dalam bulan Ramadan. Ramadan diagungkan dan dimuliakan, di sisi lain digiring menjadi bulan yang terkucil. Sikap kita ambivalen. Ramadan seolah jadi satu-satunya ruang dan waktu yang menguras seluruh kemampuan dan kesediaan kita dalam beribadah. Sedikit banyak kita bertadarus, ramai-ramai memenuhi mesjid, bersedekah dan seterusnya.

Ramadan dijadikan kesempatan untuk mengejar pahala sebanyak-banyaknya, macam “aji mumpung” dalam beribadah. Mumpung Ramadan kali ini kita masih hidup, tak ada jaminan Ramadan tahun depan bisa bertemu lagi dengannya. Sepintas tak ada yang salah dengan tabiat seperti ini, yang jadi masalah kemudian apa yang disebutkan di atas telah membentuk pribadi “pamrih”. Padahal “ikhlas” menjadi poin penting di setiap peribadatan.

Esensi Puasa

Dalam tulisan Syamsul Arif Galib “Paradoks Keberagaman Di Bulan Ramadan” termuat di media cetak beberapa waktu lalu menyoroti jika fenomena Ramadan seringkali berakhir begitu cepat, dan hal itu pula yang menunjukkan bahwa orang beragama hanya berhenti pada tataran beragama karena percaya pada agama. Namun lemah dalam melaksanakan ritual keagamaan.

Kegelelisahannya boleh jadi disebabkan karena banyak diantara kita yang tak paham esensi puasa. Apa sesungguhnya esensi puasa? Surah Al Baqarah ayat 183 memuatnya secara eksplisit dan dijabarkan oleh Agus Mustofa dalam karyanya "Untuk Apa Puasamu?", Pertama, “Hai orang-orang yang beriman”, secara khusus Allah memanggilnya. Artinya jika tak beriman tak usah berpuasa. Sebab jika beriman, maka puasa tak cuma penggugur kewajiban. Terlebih lagi jika tak mendekatkannya kepada Allah, harusnya puasa berdampak secara lahiria juga bathinia.

Kedua, “agar kamu bertakwa,”, jangan bicara taqwa, jika iman tak ada dalam kalbu. Iman berdampak pada ketaqwaan juga terkait erat dengan pengetahuan. Suatu pemahaman atas suatu masalah menyebabkan kita menjadi yakin. Itulah iman. Seseorang tak akan “yakin” jika tidak memiliki pengetahuan memadai atas suatu hal. Di sinilah fungsi akal. Orang berakal pasti menggunakan kecerdasannya untuk belajar yang pada akhirnya membuatnya paham dan yakin. Lantas memiliki komitmen bahwa sesungguhnya puasa membawa banyak manfaat.

 

Oleh: Muh. Taufiq Al Hidayah
(Alumni LDK Al-Jami UIN Alauddin)