Skip to main content

Polda Sulsel Tetapkan Pejabat BPN Lutim sebagai Tersangka, Ini Kasusnya

Polda Sulsel
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani. 


KABAR.NEWS, Makassar - Kepala Seksi (Kasi) Pengadaan Tanah, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Luwu Timur (Lutim), Andi Fahmi Amat, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi.


Hal tersebut disampaikan langsung oleh, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, Rabu (10/10/2018) siang, sekira pukul 12.30 Wita. Dia mengatakan, penyidik Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Sulsel telah melakukan gelar perkara Selasa (9/10/2018) malam, dan menetapkan Andi Fatma Amat sebagai tersangka dugaan korupsi.


Baca Juga: 

 

 



"Hasil gelar perkara, FA (Fatma Amat) terbukti telah melakukan penguatan diluar ketentuan perundang-undangan dengan cara meminta pembayaran uang jasa pelepasan hak sebesar 1,5 persen atau senilai Rp 47 Juta lebih dari penerima ganti rugi," ucap Dicky Sondani, saat ditemui KABAR.NEWS di Jalan Urip Sumoharjo Kota Makassar, Rabu (10/10/2018). 


Dicky menjelaskan, dalam kasus ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lutim rencananya akan membangun Masjid Islamic Center. Akan tetapi, dalam rangka pengadaan tanah, tersangka mengambil keuntungan kepada pemilik tanah  milik masyarakat dengan melakukan pemotongan dengan dalih merupakan aturan yang ada.


"Pelaku melakukan pemotongan dari penerima ganti rugi (masyarakat) dalam rangka pengadaan tanah untuk pembangunan Islamic Center Kabupaten Luwu Timur tahun anggaran 2018," tambahnya.


Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, Fatma Amat kata Dicky, belum dilakukan pemanggilan sebagai tersangka bahkan belum dilakukan penahanan. 


Akan tetapi, dalam waktu dekat, pihaknya akan segera melakukan pemanggilan untuk pemeriksaan sebagai tersangka karena kasus ini diduga bukan hanya melibatkan satu orang.


"Secepatnya kita akan panggil dia (FA) dan mungkin Minggu depan. Karena tersangka saat ini masih berada di Luwu Timur dan kita akan dalami, apakah bekerja sendiri atau melibatkan orang lain," pungkasnya.

  • Lodi Aprianto