Skip to main content

Perempuan, Politik dan Cinta

INT
Oleh : Saifuddin Al Mughniy

 

KABAR.NEWS - Dalam berbagai hal terkadang kata perempuan selalu ditasirkan sosok yang lemah, anggun, molek, serta kiasan estotik yang melekat pada dirinya. Kata perempuan yang terpenggal menjadi [Pe] rempu [an] adalah sebuah proses perilaku untuk "menjadi ", yang bisa saja menjadi perempuan yang sesungguhnya dengan segala tanggung jawab yang dimilikinya sebagai pendamping suami dan pengasuh dari anak-anaknya, atau sebuah proses menuju kedewasaan dari sosok perempuan yang di maksud.

Dalam beberapa sejarah politik dunia, mungkin kita mengenal Margareth Teacher mantan perdana menteri Inggris yang dikenal sebagai wanita bertangan besi, Benazhir Bhuto mantan presiden Pakistan, Isabel Peron (1974) presiden wanita pertama dalam politik modern yang berkuasa di Argentina, Ibunda Theresia yang menghabiskan waktunya untuk kemanusiaan, dan saat ini ada Hillary Clinton calon terkuat presiden USA saat itu dari Partai Demokrat. Dan sejarah Indonesia pun menyisakan sosok pahlawan nasional seperti Raden Ajeng Kartini, Cut Meutia, Rasuna Said, mereka pun menghabiskan waktunya untuk cita-cita kemerdekaan bangsanya.

Bahkan dalam fase sejarah Kenabian Muhammad SAW dalam sebuah peperangan, Husaima bin Kaab tampil membela Agama Allah, di medan perang Husaima bin Kaab terhujani panah dan tombak dalam tubuhnya, saat tubuhnya ingin terjatuh maka Rasulullah memeluknya lalu ia berbisik, wahai Husaima, sesungguhnya engkau jauh lebih mulia dari seorang laki-laki. Bukan karena melampaui kodratnya sebagai perempuan tetapi karena Husaima memperlihatkan sikap yang teguh, prinsip dan cita-citanya menjadikan ia mulia. 

Dan saya kira, dibelahan dunia ini banyak perempuan yang hebat, tangguh dan pejuang. Film "Biarkan Kami Bersaudara" menginjeksi pikiran kita, bagaimana sosok perempuan kecil memilih mengabdi di NTT yang kering dan tandus, belum lagi lingkungan ideologis yang berbeda. Sebab, kemajuan satu peradaban tidak selamanya disentuh dengan invation menurut Samuel P. Huntington disebut sebagai Class Civilitation (benturan peradaban), akan tetapi seribu kemajuan bisa disentuh dengan satu hati perempuan. 

Sekalipun memang dipanggung politik belumlah dapat memenuhi 30% kouta suara diparlemen. Ada beberapa asumsi yang menyebabkan, pertama, karena rekruitmen perempuan di parpol begitu sedikit dibandingkan kaum perempuan. Kedua, rendahnya minat kaum perempuan masuk diarena politik praktis. Ketiga, perempuan lebih care dan memilih aktifitas diluar politik, seperti menjadi pebisnis. Belum lagi perempuan terpenjara oleh "patriarkisme" dimana kaum perempuan hanya memilih jalan untuk mendampingi suami dan pengasuh bagi anak-anaknya. Dan suguhan kapitalisme dan wajah metropolis menjadikan patriarki cendrung diseruduk oleh kaum perempuan, dan tidak ayal kalau kemudian "perempuan" juga aktif mengisi ruang-ruang publik dan seabrek kegiatan lainnya. 

Tetapi paling tidak bahwa perempuan adalah perekat sosial, dalam pengertian sosok perempuan begitu penting (filsafat romantisme) dalam kehidupan sosial. Kelembutan dan kesehajaan perempuan adalah pemantik kehidupan, sebab gerak perubahan dan peradaban selalu dilahirkan olehnya.

Yah, dari rahim seorang perempuan lahir kecintaan, lahir generasi dan gerak peradaban. Gerakan perempuan tak semata kesetaraan "gender", merubah lebel (streotipe) yang melekat pada dirinya. Tetapi, perempuan secara harfiah telah merawat generasinya sejak dikandungan. Sehingga tidak salah kalau diksi perempuan adalah tiang negara atau penyanggah peradaban. Julia Kristeva telah mendarasnya dalam satu artikel "perempuan, sex dalam sastra".

Karenanya perjuangan kaum perempuan adalah satu perjuangan tanpa jedah, berbagai label negatif akan menjadi jalan suci bagi perempuan untuk merebut eksistensinya. Sebabnya, kita bangga bukan ? karena kita lahir dari rahim seorang perempuan.**

Marioboro, 9 Agustus 2017
sebuah catatan kecil seri 98